Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Perubahan Sikap


__ADS_3

Karina sudah berada kediaman sang suami sejak kemarin setelah beberapa hari melepas rindu di rumah bersama keluarga. Ia sedang duduk menikmati udara sejuk di balkon kamar Ansel yang kini tentu telah menjadi kamarnya juga. Air matanya kembali menggenang mengingat kejadian yang lalu dimana pria yang kini telah menjadi suaminya merenggut paksa kesucian yang telah Ia jaga. Suatu hal yang sangat berharga bagi dirinya. Terlintas di benak Karin untuk mengakhiri hidup karena jijik dengan diri sendiri yang penuh dosa. Namun setelah di pikir pikir mati dengan cara seperti itu akan menambah bebannya di akhirat kelak. Ia mengusap air mata yang menuruni pipi lalu beranjak dari duduk sambil menghela napas panjang.


Kehidupan Karin jelas akan sangat berbeda dengan dulu. Saat ini beban di hatinya masih sangat menyesakkan. Lari dari takdir pun tak mungkin. Ia hanya bisa menghadapi dan menjalani semuanya. Mungkin membutuhkan waktu untuk beradaptasi dan menerima keadaan sampai hatinya benar benar pulih.


"Nyonya." Sapa semua pelayan saat Karin memasuki dapur. Mereka membungkuk menyambut kedatangan istri cantik tuannya. "Aku mau masak." Ucap Karin tersenyum. "Baik Nyonya. Silahkan. Kami akan membantu." Jawab mereka. Wanita itu mengangguk kemudian segera menuju kulkas untuk mengambil bahan yang dibutuhkan.

__ADS_1


Karin masak dibantu oleh para pelayan. Mereka sambil mengobrol bercerita tentang berbagai hal hingga Ia sedikit bisa melupakan kesedihan di hatinya. "Yang ini di antar ke ruang makan untuk Bella dan Daddy nya. Yang ini biar disini kita makan sama sama." Ucap Karina. Mereka hanya bisa menurut karena sudah diberi peringatan oleh sang tuan untuk mengikuti apapun yang diinginkan Karina.


Semuanya diam belum menyentuh makanan yang tersaji di atas meja dapur tempat biasa para pelayan makan. Bukannya apa apa. Mereka hanya canggung saja karena Istri sang Tuan ikut makan di tempat yang tidak seharusnya. "Ayo makan. Kenapa diam saja." Ajak Karin setelah berdoa. "Ah iya Nyonya." Mereka buru buru mengambil nasi dan lauk lalu memasukkan ke piring masing masing.


Ansel dan Bella baru pulang. "Istri saya mana?" Tanya pria itu saat berpapasan dengan beberapa pelayan. "Nyonya sedang sholat Tuan. Nyonya sudah menyiapkan makan siang untuk Tuan dan Non Bella." Jawabnya. Ansel tak bertanya lagi langsung pergi menaiki tangga diikuti putrinya. Pria itu sudah tau semua yang di lakukan sang istri karena ada CCTV dimana mana. "Kamu mandi dulu Bell. Setelah itu makan." Bella mengangguk kemudian segera masuk ke kamarnya.

__ADS_1


"Mom mana?" Tanya Bella karena Daddy nya hanya datang seorang diri. "Tidur. Kita makan berdua." Jawab Ansel segera duduk di tempat biasa. Bella menatap kosong hidangan di depannya. Ia memikirkan perubahan sikap Karina yang sangat signifikan. Wanita itu hanya mengurung diri di kamar dan keluar jika mendesak. Memang Karin bertanggung jawab dalam mengurus rumah tangga. Tapi Karin yang sekarang begitu tertutup. Bicara pun sangat irit dan jarang. Bella tau sahabat sekaligus Ibu sambungnya itu sangat tertekan. Ia takut akan terjadi sesuatu yang buruk jika Karin terus seperti ini. Semua tak luput dari kesalahan sang Daddy. Ia bisa membayangkan sendiri bagaimana perasaan gadis itu yang di culik, di ancam, di perkosa hingga di nikahi dengan paksa padahal masih ingin hidup bebas seperti remaja lainnya. "Kenapa tidak makan?" Tanya Ansel. "Ah iya. Bella makan." Jawab gadis itu.


Ansel memasuki kamar tempat di mana istrinya tertidur. Pria itu berjalan mendekat lalu duduk di tepian ranjang. Diusapnya dengan lembut pipi dan bibir Karin lalu menciumnya. Ia tau ketika sudah pulas Istrinya itu tidak akan mudah terbangun. Pikirannya melayang mengasihani pernikahan yang begitu miris. Ia memiliki raga sang istri namun tidak dengan hatinya karena kesalahan besar yang telah diperbuat. "Tidak sekarang. Mungkin lain waktu kamu akan menerimaku. Dan aku akan selalu menunggu saat itu sampai kapanpun." Lirih Ansel.


Malam hari makanan sudah tersaji di meja namun tidak ada satupun yang duduk untuk menikmati. Bella mengetuk pintu kamar untuk menjemput Daddy dan Mommy nya. "Ayo makan Dad." Ajak gadis itu setelah pintu terbuka. "Iya. Daddy panggil Mommy mu dulu." Ia kembali masuk ke dalam menghampiri istrinya yang baru saja selesai sholat. "Ayo makan. Bella sudah menunggu di depan." Ajak Ansel dengan suara lembut. "Aku sudah makan. Kalian makan saja." Jawab Karina. Ansel menghela napas segera pergi setelah mengecup kening sang istri.

__ADS_1


"Mana Mom?" Tanya Bella. "Masih kenyang. Ayo makan." Ajak Ansel berjalan duluan. Bella mau tak mau hanya bisa meng iyakan saja. Mau berbuat bagaimana juga tak akan membuahkan hasil. Mungkin Karin butuh sendiri untuk menenangkan diri.


Selesai dari ruang kerja Ansel langsung pergi ke kamarnya untuk tidur. Pria itu menaiki ranjang setelah mengganti bajunya dengan piyama. Di peluk erat tubuh sang istri yang sudah pulas memunggunginya. Ia berharap ke depannya hubungan bersama akan akan lebih baik. Tak mungkin selamanya akan seperti ini. "Aku mencintaimu. Maaf aku egois. Aku berjanji akan membahagiakanmu ke depannya Baby." Ucap Ansel pelan lalu memejamkan mata. Bulir bening lolos dari kedua mata Karina. Wanita itu sebenarnya belum benar benar tidur. Hatinya pedih mendengar ungkapan sang suami. Namun tak dapat dipungkiri jika rasa kecewanya juga masih mendominasi.


__ADS_2