Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Menghilang


__ADS_3

Karina selesai bersiap. Gadis cantik itu menuruni tangga menghampiri Ibunya yang sedang duduk mengerjakan sesuatu. "Umi. Karin berangkat dulu ya." Ucapnya berpamitan. "Kenapa belanjanya nggak suruh Bibi aja sih Mbak? Mbak kan nggak perlu capek capek." Jawab wanita itu sedikit khawatir mengingat anaknya baru beberapa hari pulang dari rumah sakit. "Sekalian mau jalan jalan Mi. Karin berangkat dulu ya. Assalamualaikum." Ia mencium punggung tangan Umi nya. "Waalaikumsalam Mbak hati hati." Jawabnya.


Dua puluh menit perjalanan Karin sudah sampai di Mall. "Pak Hadi pulang saja ya. Karin nanti lama. Kalau Karin mau pulang nanti Karin telpon." Ucap Gadis itu pada supir pribadinya. "Loh Mbak. Bapak tunggu nggak papa." Jawabnya. "Nggak usah Pak. Bapak pulang duluan saja. Nanti kelamaan nunggu Karin. Karin mau jalan jalan dulu." Pria paruh baya itu mengangguk menuruti keinginan putri majikannya. "Hati hati ya Mbak." Pesannya. "Iya Pak. Karin turun dulu Assalamualaikum." Ia bergegas turun dari mobil dan berjalan memasuki Mall.


Karin tidak langung belanja untuk kebutuhan membuat kue. Gadis itu berkeliling melihat lihat. Setelah cukup lama Ia singgah untuk makan eskrim sebentar sembari membalas pesan dari Uminya. Karina celingukan. Ia baru menyadari jika suasana begitu sepi di tempat Ia makan eskrim. Hanya ada satu orang wanita yang sedang duduk menikmati minum di meja sebelahnya.


"Dompet Mbak tadi." Gumam Karin. "Mbak dompetnya." Ucap gadis itu berjalan cepat mengejar wanita yang sama sekali tidak merespon.

__ADS_1


"Mbak." Panggil Karina berjalan masuk ke dalam toilet. "Mbak dompetnya ketinggalan." Ucap Gadis itu namun tidak mendapat jawaban. Karin yakin tadi wanita yang meninggalkan dompetnya masuk ke dalam namun entah kenapa tiba tiba menghilang. "Baby." Suara bariton seorang pria tiba tiba membuatnya membeku di tempat. Belum sempat menoleh mulutnya di bekap oleh sesuatu. Matanya kemudian memberat dan pandangannya seketika menggelap.


Pukul 12 siang Karina belum juga pulang membuat Uminya Cemas. Sedaritadi wanita itu mencoba menelpon tapi tidak aktif. "Gimana Pak? Karin ada menghubungi bapak?" Tanyanya kepada supir yang tadi pagi mengantarkan Karin. "Belum Bu." Jawabnya. "Saya coba cari Bu." Lanjutnya bergegas pergi.


Setengah jam menunggu, Umi mendapat telpon dari supirnya. Pria itu mengatakan bahwa Karin sudah tidak berada di Mall. Perasaannya menjadi tidak enak dan cemas. Ia berlanjut menghubungi sang suami untuk membantu mencari Karin.


Abi Karin sudah berada di Mall. Pria itu kini sedang berada di ruang CCTV untuk menelusuri keberadaan putrinya sementara beberapa orang Ia suruh untuk mencari di sekitar. Tidak ada petunjuk apapun. Hanya ada Karina yang sedang duduk makan eskrim kemudian mengejar seorang wanita dan setelah itu tidak ada lagi. Kamera pemantau tiba tiba tidak menangkap apapun.

__ADS_1


Malam hari semuanya masih berusaha mencari. Bella juga sudah berada di rumah Karin begitu mendapat kabar sahabatnya itu menghilang. Ia dan Abi Karin mencoba menenangkan Umi yang sedaritadi belum berhenti menangis. "Lapor polisi Bi. Detektif saja tidak akan cukup." Ucap Wanita itu. "Belum dua puluh empat Jam Mi. Kita tunggu sampai satu hari satu malam baru membuat laporan." Jawabnya.


Jeff tergesa gesa memasuki rumah Karina. Pria itu menghampiri Abi Karin lalu ikut duduk. "Detektif yang aku suruh sedang mencari. Namun sampai sekarang belum membuahkan hasil." Ucapnya memberikan laporan. "Terimakasih atas bantuannya Ansel." Abi mencoba tegar. "Sabar. Karina pasti baik baik saja. Nanti juga akan kembali." Ia mencoba menenangkan.


Bella dan Daddy nya pulang karena sudah larut malam. "Kamu masuk dulu. Daddy punya sesuatu yang harus diurus." Ucapnya. "Daddy mau kemana?" Tanya Bella sembari membuka seat belt nya. Mata gadis itu tampak sembab karena menangis. "Ada urusan. Kamu jangan tidur malam malam." Ia mengecup kening putrinya sekilas kemudian segera melajukan mobilnya keluar dari halaman.


Seorang pria duduk di kursinya mengamati wajah cantik seorang gadis yang masih terlelap. "Um." Suara itu muncul diiringi dengan kelopak mata yang bergerak hingga terbuka sempurna. Bulu mata lentiknya begitu indah menghiasi bingkai mata dengan manik biru sapphire yang menelisik ke segala arah. Ia bergegas mendudukkan diri namun seketika memegangi kepalanya yang berdenyut. "Jangan banyak bergerak. Nanti kepalanya sakit." Suara itu terdengar lembut dan penuh perhatian namun seketika membuat Karina takut. "Aku dimana?" Tanyanya. "Ini rumah kita."Jawab Ansel mengulas senyuman. "Aku ingin pulang." Karina bangkit dari ranjang menuju pintu dan mencoba membukanya berkali kali namun selalu gagal. "Om pulangkan Karin." Ia memohon sambil duduk menangis bersandar di pintu. Ansel bangkit dari duduknya menghampiri Karina. Pria itu berjongkok menghadap gadis yang masih menangis sesenggukan. "Shut...Jangan menangis Baby. Kita akan hidup bersama mulai hari ini. Kamu milikku dan selamanya akan begitu." Ia mengusap air mata Karin namun langsung di tepis oleh gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2