Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Bel, Kamu Makin Gendut


__ADS_3

Karin bergegas ke kamar Bella setelah menyiapkan keperluan suaminya. "Bangun Bel. Sudah jam setengah 6 loh." Ucap wanita itu sembari membuka gorden. Tak mendapat jawaban Bella juga tidak menggeliat seperti biasanya. Karin berjalan lalu duduk di tepian ranjang. "Bangun yuk. Sudah jam setengah 6. Nanti kamu telat." Ia mengguncangkan bahu putrinya pelan. "Bella sudah bangun Mom." Ucapnya secepat kilat duduk lalu memeluk Karina. "Ayo bergegas mandi. Jangan buat Daddy mu mengomel." Ucapnya memberi kecupan sebelum pergi.


Ansel memasuki ruang makan. Pria itu masih menggunakan celana pendek dan kaos sembari membawa segelas susu. Badan kekarnya yang berkeringat sehabis olahraga memeluk Istrinya yang sibuk menyiapkan sarapan. "Minum susunya dulu." Karina mengangguk. Ia kemudian segera meminum susu buatan suaminya setelah duduk. "Sehat sehat di dalam ya. Daddy dan Mommy menantikan kehadiranmu." Ucap Pria itu lembut mengusap kemudian mencium perut sang istri yang sudah sedikit membuncit di usia kehamilan empat bulan. Karina tersenyum. Ia meletakkan gelasnya yang telah kosong di atas meja kemudian mengelap keringat suaminya. "Temani ke kantor ya." Pinta Ansel tak tahan lagi harus berjauhan dengan istrinya saat bekerja. Beberapa bulan Ia memang tak mengajak Karin ke kantor karna mempertimbangkan kondisi istrinya yang sedang hamil muda. Namun sekarang kata dokter kandungan Karin yang sudah cukup kuat membuatnya tak tahan lagi dan mengutarakan keinginannya. "Iya. Sekarang mandi dulu. Bajunya sudah siap." Jawab wanita itu sambil tersenyum. "Cium dulu." Ansel meminta syarat. Karin mengangguk kemudian mencium kening suaminya lembut.

__ADS_1


Bella menghampiri kedua orang tuanya yang sudah siap di meja makan. Gadis itu langsung memeluk dan mencium Ibunya sebelum duduk. "Bell kamu tiap hari makin gendut aja." Ucap Ansel melihat penampilan anak gadisnya yang semakin hari semakin berisi gara gara banyak makan dan tidur. Karin berdehem menegur suaminya yang ceplas ceplos. Bella mendelik. Sama seperti kebanyakan gadis, Ia sangat sensitif ketika disinggung masalah berat badan. "Bella gendut ya Mom?" Tanyanya pada Karina yang sedang mengambilkan makan. "Cuman berisi nggak gemuk." Jawab Karin mengambil jalan tengah tak mau putrinya tersinggung. "Mom masak enak terus sih. Bella kan nggak tahan." Keluhnya. "Bukan masalah masakan Mom Bell. Mom juga memperhatikan kalori dan tidak menggunakan sembarang gula ketika membuat sesuatu. Sepertinya ada faktor lain deh. Kurangi kebiasaan kamu minum soda dan junk food. Itu sepertinya yang memicu." Jawab Karina sambil duduk. Bella tampak berpikir. Ia memang sering memesan pizza dan burger. Apalagi kalau sedang jalan sama Mommy nya untuk urusan makanan itu selalu tidak ketinggalan. "Iya juga ya." Lirihnya bergegas makan sarapan yang sudah tersaji. "Terus Bella harus gimana dong Mom? Masa Mom yang hamil Bella yang gendutan." Ucapnya. "Minum teh hijau. Kontrol makanan kamu. Nggak ada lagi soda sama junk food." Karina merespon cepat. "Minum obat pelangsing boleh?" Tanyanya. "Jangan. Bahaya kalau tidak cocok. Pakai cara alami saja." Ansel tersenyum melihat istrinya yang begitu perhatian. "Seminggu lagi puasa kan? Jadikan itu sebagai diet kamu." Lanjut Karin di jawab anggukan cepat oleh putrinya.


Ansel sampai di kantor. Ia merangkul pinggang istrinya memasuki perusahaan. Pria itu berwajah datar dan dingin seperti biasa berbanding terbalik dengan Karin yang memberikan senyuman ramah pada tiap karyawan yang menyapa.

__ADS_1


"Jangan senyum." Ucap Ansel mencium bibir istrinya sebelum pintu lift benar benar tertutup membuat orang orang yang menyaksikan itu menjadi malu. "Daddy kebiasaan." Gerutu Karina karena suaminya itu selalu mencium tanpa memperdulikan situasi.


Karin mengisi waktu luangnya untuk bersholawat. Ia mengusap perutnya dengan lembut sembari memandangi padatnya ibukota dari ketinggian. Menikah dan hamil di usia yang masih sangat muda bukanlah rencana hidupnya. Remaja seusianya masih sibuk mengeksplor dunia dan dia sudah harus bertanggung jawab sebagai seorang istri dan Ibu. Namun semuanya sudah terlanjur. Karin yakin ini adalah jalan terbaik yang diberikan tuhan untuknya maka Ia harus ikhlas.

__ADS_1


Ansel baru selesai meeting langsung menghampiri istrinya. Pria itu meletakkan kepalanya di pangkuan Karina yang sedang duduk bersandar di hearboard ranjang. "Memangnya seminggu lagi puasa?" Tanyanya. "Iya. Daddy mau puasa?" Ansel mengangguk cepat. "Tentu saja. Tapi kamu sedang hamil jangan puasa." Ucapnya. "Tidak apa puasa Dad. Dokter bilang boleh." Jawab Karina sembari memberikan pengertian agar suaminya mengizinkan.


Bella melihat Daddy nya pulang dengan wajah kusut sambil menggerutu tak berani mengusik. "Daddy kenapa Mom?" Tanyanya saat Karina sudah duduk. "Daddy kesal karena jalan raya macet gara gara dipakai catwalk." Jawab Karin. "Oh.... Memang lagi musim begitu. Nggak lama lagi paling punah. Itu trend sementara aja." Jawab Bella. "Ini apa Mom?" Lanjutnya menerima paper bag dari Karina. "Teh hijau. Itu ada herbal juga yang bisa bantu kamu kalau mau turunin berat badan." Bella mengangguk sambil tersenyum. "Makasih Mom." Ucapnya sambil memeluk sang Ibu yang begitu perhatian.

__ADS_1


__ADS_2