Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Kakek Pulang


__ADS_3

Ansel menggeliat. Pria itu tidur lagi setelah sholat subuh karena benar benar mengantuk oleh kegiatan panasnya bersama sang istri semalam. "Sayang." Panggilnya pelan sembari menyembunyikan kepala di lengan dan enggan beranjak dari posisi yang nyaman. "Apa dia tidak mengantuk." Gumam Ansel dengan mata terpejam heran karena istrinya itu betah tidak tidur sama sekali. Setelah pergulatan mereka Karin langsung mandi dan menyiapkan makan untuk sahur. Selepas sholat wanita itu lanjut mengaji dan sampai sekarang entah kemana.


"Lain kali hati hati ya." Ucap Karin mengobati lutut Shie yang memar karena terjatuh. "Iya Ma." Jawabnya sambil sedikit meringis. "Shie kenapa?" Tanya Jordan yang baru pulang entah darimana. "Jatuh tadi." Jawab Karina menutup kembali botol obat setelah selesai. "Lain kali hati hati. Kebiasaan kamu lari lari. Bilang apa sama Mama?" Ucap Jordan mengingatkan. "Terimakasih Ma." Shie memeluk. "Sama sama." Jawab Karina membalas pelukan putrinya.


"Ansel belum bangun juga?" Tanya Jordan. "Ada apa?" Suara bariton itu terdengar sebelum Karin memberikan jawaban. "Eh... Aku kira masih tidur." Pria itu mengangkat kedua bahunya acuh kemudian duduk bergabung menempel dengan sang istri. "Memangnya ada apa?" Ansel bertanya. "Ada sesuatu yang perlu kita bicarakan." Jawab Jordan sambil memberi kode dengan matanya. "Kita ke ruang kerja." Ucap Pria itu mengecup kening istrinya lembut kemudian bergegas pergi.

__ADS_1


"Bagaimana? Kontraktor sudah dapat?" Tanya Ansel setelah duduk disamping sepupunya. "Sudah. Akan dimulai pengerjaannya setelah lebaran." Jawab Jordan. "Setelah lebaran? Kenapa lama sekali?" Protes Ansel membuat Pria di sampingnya berdecak. "Lama? Lebaran tinggal beberapa hari lagi. Sudah jangan banyak protes dan buat aku cari kontraktor baru. Susah tau." Keluh Jordan menyandarkan punggungnya di sofa. "Banyak mengeluh. Kamu aku bayar." Malas menjawab Ansel yang mengoceh Jordan memilih memejamkan mata dengan nyaman tak menghiraukan sepupunya.


Ansel menghampiri istrinya di kamar setelah urusannya dengan Jordan beres. Pria itu memeluk karin yang baru saja kembali dari balkon. "Habis ngapain?" Tanyanya. "Habis angkat telpon dari Kakek. Katanya hari ini sudah berangkat." Jawab Karin. "Benar benar mau kesini?" Ansel memastikan. "Iya. Kan sudah bilang. Nggak mungkin Kakek mengingkari janji." Pria itu mengangguk lemah kemudian menutup pintu dan gorden.


Sore hari Bella menghampiri kedua orangtuanya yang sibuk di dapur. "Baru bangun kamu?" Tanya Ansel melihat putrinya memeluk Karina manja. "Hm." Jawab Bella begitu tak bersemangat. "Shiena masih tidur?" Gadis itu mengangguk menanggapi Ibunya. "Sudah mau buka puasa loh. Bangunin ajak Mandi. Ga baik tidur sore sore." Tutur Karin sembari menyajikan masakan yang telah siap di atas piring. "Iya." Jawab Bella bergegas pergi setelah meninggalkan kecupan di pipi sang Ibu. "Dasar." Ansel mencium pipi istrinya untuk menghilangkan jejak. "Dia sudah mau punya adek masih manja saja. Nanti kalau kamu lahir jangan manja seperti Bella ya." Tuturnya sembari mengusap perut sang istri.

__ADS_1


Adzan Isya sudah terdengar di masjid dekat rumah. "Kenapa belum siap? Pada nggak mau sholat?" Tanya Karin menggandeng tangan Shie menghampiri Ansel, Bella dan juga Jordan yang masih malas malasan di sofa karena kekenyangan. "Bentar lagi Yang. Tungguin ya." Jawab Ansel. "Nggak mau. Aku berangkat dulu sama Shie Assalamualaikum." Ucap Karin bergegas pergi. "Mom tunggu." Bella segera beranjak dari duduknya diikuti Ayah dan Omnya.


Ansel menunggu istrinya yang masih belum keluar. "Hati hati jalannya." Ucap Pria itu sembari membantu karin menuruni beberapa anak tangga. "Mau mampir ke minimarket sebentar ya." Ia meminta izin. "Mau beli apa?" Tanya Ansel mulai bejalan beriringan dengan sang istri. "Shie minta coklat." Jawabnya.


Sampai di rumah mereka langsung berkumpul di ruang keluarga. "Mau Mom." Rengek Bella melihat Ibunya membukakan coklat untuk Shiena. "Bobot kamu dah turun berapa Bel?" Tanya Jordan ikut duduk bergabung setelah berganti pakaian. "Memangnya Bella hewan pakai bahasa bobot begitu." Kesalnya sembari melahap coklat yang diberikan sang Ibu. "Berkat Mom. Turun 5 kilo dong." Lanjutnya membanggakan diri. "Makasih Mom." Ucap Gadis itu memeluk Karin yang tiap hari selalu mengatur pola makannya. "Kalau lebaran ada makanan enak pasti naik lagi." Ansel mengejek. "Nanto kalau lebaran Bella nggak akan kalap." Jordan berdecak. "Nggak yakin." Ucapnya. "Besok pagi aku ke rumah Umi ya Dad. Kakek sampai malam nanti." Ucap Karin membuat suaminya menelan ludah susah payah. Jordan melirik. Ia bersusah payah menahan tawanya yang hendak meledak melihat ekspresi sang sepupu. "Dad." Panggil Karin karena suaminya melamun. "Ah iya. Sebelum ke kantor nanti aku antar." Jawabnya.

__ADS_1


__ADS_2