
Karena Ansel masih sakit, hari ini pria itu belum bisa mengantarkan putranya pergi ke sekolah jadi Kakek yang turun tangan. "Kakek nggak papa antar Isam?" Tanya Karin mengantarkan menuju mobil yang sudah menunggu di halaman rumah sembari menggendong Safa.
"Nggak papa. Kakek malah senang. Kakek berangkat dulu. Assalamualaikum." Ucap pria paruh baya itu memasuki mobil bersama cicitnya setelah memberikan kecupan untuk Karin dan Safa. "Waalaikumsalam." Jawab Karin lalu mengajak putrinya masuk setelah mobil keluar pagar.
Ansel tersenyum melihat kedatangan istri dan putrinya. Pria itu buru buru duduk memeluk Karin yang sudah berdiri di samping ranjang.
"Ayo makan dulu." Ucap Karin mendudukkan putrinya lalu mengambil mangkuk yang ada di atas nakas.
"Safa sudah makan?" Tanya Ansel memangku putrinya.
"Sudah sama Mommy." Jawab gadis kecil itu.
"Tadi Bella ke rumah temannya sudah izin kamu?" Karin mulai menyuapi Ansel.
"Sudah. Dia bawa mobil sendiri? Pakai mobilku lagi?"
"Iya."
"Kebiasaan. Aku nggak tenang sama anak itu."
"Sudahlah. Bella pasti juga hati hati."
"Bella mau kerja dimana jadinya?"
"Nggak tau. Katanya kemarin ngomong sama aku mau lamar kerja di kantor Papa temannya. Lucu nggak sih, Daddynya punya perusahaan sendiri malah di perusahaan orang."
"Emang aku nggak bolehin dia kerja di kantor aku." Jawab Ansel membuat istrinya membulatkan mata.
"Kenapa?"
"Biarlah dia cari pengalaman di luar dulu. Biar dia merasakan sulitnya merintis dari nol. Bella sudah terbiasa apa apa serba ada dan mulus jalannya sejak kecil. Ini akan jadi pendewasaan untuknya agar sadar apa itu arti berjuang." Jawab Ansel.
"Mommy." Safa mulai merengek merentangkan tangannya minta di gendong oleh sang Ibu. "Mau kemana hm?" Tanya Karin.
"Disini saja. Safa tega tinggalin Daddy sendirian." Ucap Ansel memelas karena tak ingin berjauhan dari istrinya. Jika Safa minta keluar otomatis dia akan ditinggal sendiri.
"Minta apa?" Karin menanyai putrinya lagi.
"Mau stobely.."
__ADS_1
"Aku ke dapur dulu ya Dad."
"Suruh Bibi antar kesini kan bisa."
"Bisa sendiri kenapa merepotkan orang. Bibi lagi bersih bersih. Aku ke dapur dulu sebentar."
"Jangan lama lama." Ansel memperingati.
Seorang pria berjalan tergesa gesa memasuki sebuah gedung perusahaan. Mengabaikan sapaan para karyawan Ia langsung memasuki lift untuk menuju lantai tempat dimana ruangan putranya berada.
"Tuan." Ucap seseorang menghampiri Pandu yang hendak masuk ke dalam ruangan Jordan.
"Saya ingin bertemu Jordan." Ucapnya kepada asisten sang putra.
"Maaf Tuan. Tuan Jordan berpesan jika tidak ingin bertemu siapapun termasuk Anda."
"Saya tidak peduli. Ada hal penting yang harus kami bicarakan." Pandu tak menghiraukan langsung mendorong pintu ruangan hingga terbuka lebar. Pria itu masuk berjalan dengan langkah lebar menghampiri putranya.
Jordan tak mengangkat pandangannya. Perhatian pria itu masih tertuju pada berkas yang tengah Ia periksa tak menghiraukan sang Papa yang kehadirannya jelas jelas Ia sadari.
"Jordan Papa minta maaf." Ucap Pandu masih sama seperti kemarin.
"Papa sadar telah membuat perselisihan. Membuat orang yang tak harus bertanggung jawab menanggung semua perbuatan Papa. Sudah sejak kapan? Sejak kapan Papa tau semua ini?" Bentaknya pada Pria yang telah membuat hancurkan kebahagiaan keluarga itu.
"Tiga tahun terakhir." Jawab Pandu pelan.
"Tiga tahun dan Papa menyembunyikan semuanya. Aku tidak habis pikir. Kapan? Kapan Papa akan mengungkapkan semuanya."
"Papa akan menunggu waktu yang tepat. Mengertilah."
"Aku harus mengerti bagaimana lagi?"
"Mamamu ada riwayat jantung. Papa takut dia akan drop jika mengetahui semua ini."
"Itu salah Papa. Semuanya salah Papa. Aku tidak menyangka orang yang selalu aku banggakan tidak lebih dari seorang tanpa adab." Jordan buru buru pergi sebelum melakukan sesuatu yang lebih jauh lagi. Sama seperti Ansel, emosinya tak bisa terkendali saat sedang marah. Lebih baik Ia menjauh daripada harus melukai Papanya sendiri.
Jordan mampir ke rumah Ansel setelah menjemput Shiena sekalian menjenguk sepupunya itu.
"Mama." Ucap Shie langsung memeluk Karin yang sedang duduk bersama anak anak dan suaminya.
__ADS_1
"Hy. Sudah makan belum?" Tanya Karin membantu melepaskan dasi Shiena.
"Belum."
"Makan dulu yuk. Om Jordan makan sekalian."
"Nanti aja. Mau disini dulu." Jawab Jordan sambil tersenyum.
Karin kembali lagi bergabung bersama suaminya dan Jordan setelah memastikan anak anak tenang di ruang keluarga.
"Terimakasih." Ucap Jordan langsung meminum sirup yang dibuatkan iparnya.
"Gimana keadaan kamu? Bukan seperti orang sakit." Lanjutnya membuat Ansel berdecak.
"Kamu bertanya, menyindir atau mengejek?"
"Yang kedua lebih tepat." Jawab Jordan terkekeh.
"Sudah mendingan. Kemarin dapat obat dari Kafil."
"Syukurlah."
"Kamu menjenguk tidak bawa apa apa?" Tanya Ansel mendapat cubitan dari istrinya.
"Ya bener dong Mom. Nggak sopan banget jenguk orang sakit tangan kosong."
"Iya iya. Lupa ada di mobil. Aku ambil dulu."
Ansel menatap sepupunya penuh tanda tanya.
"Kamu nggak salah bawain aku coklat?" Tanyanya karena Jordan seakan sedang merayu seorang gadis daripada menjenguknya.
"Hehe... Aku nggak tau kesukaan kamu apa. Yang aku tau Karin suka coklat jadi aku beli ini saja." Jawabnya sukses membuat Ansel menggebrak meja. Ia tak habis pikir dengan otak Jordan.
"Kamu mau jenguk aku atau merayu istriku ha?" Ucap Ansel mencengkram kerah kemeja sepupunya.
"Ya nggak gitu. Aku kan cuman...."
"Cuman apa?" Ansel membentak lagi. Ia bisa leluasa begini karena tidak ada istrinya.
__ADS_1
"Sorry. Bawa salah nggak bawa makin salah. Aku memang serba salah." Gerutu Jordan.