Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Karina Terluka


__ADS_3

"Dad, hari ini kalau tidak ikut ke kantor bagaimana?" Ucap Karina ragu ragu sembari mengikat dasi suaminya. "Kenapa? Apa tidak enak badan atau sakit?" Tanya Ansel khawatir. "Tidak. Hanya ingin di rumah saja." Jawab Karin. "Baiklah. Tapi antar makan siang boleh?" Kata Ansel di angguki oleh istrinya.


Bella tergesa gesa memasuki ruang makan. "Kebiasaan." Ucap Ansel melihat putrinya mengecup pipi Karina sampai basah. "Rambutnya kenapa masih berantakan begitu?" Tanya Karin meletakkan sepiring nasi goreng untuk Bella. "Oh iya lupa. Belum sisiran Mom." Jawab gadis itu sembari makan sarapannya


Karin menyisir rambut putrinya lalu mengepang dengan rapi. "Makasih Mom." Ucap Bella sembari tersenyum. "Sama sama." Jawab Karin ikut duduk. "Mom nggak sarapan?" Tanya Ansel melihat istrinya hanya makan jeruk. "Nanti. Belum lapar." Ansel tidak senang dengan jawaban istrinya. Pra itu takut jika Karina sakit karna tidak sarapan. "Makan." Ucap pria itu. "Belum lapar Dad." Jawab Karin. "Makan." Ulang Ansel lagi lebih tegas. "Jangan di paksa Dad." Tegur Bella namun tidak di hiraukan. "Ayo makan. Atau mau di paksa?" Karin mengangguk pasrah menerima suapan dari suaminya. "Bagus. Jangan membantah." Ucap Ansel membuat Bella menghela napas karena kasihan melihat Ibunya yang tertekan.

__ADS_1


Selesai mengantarkan suaminya Karina bergegas ke halaman belakang. Wanita itu menyirami tanaman sayuran yang kini sudah tumbuh dengan subur. Hanya ini kegiatan yang bisa Ia lakukan untuk menghibur diri. Jujur saja kadang Karin merasa jenuh dengan semua perlakuan Ansel yang seenaknya dan terkesan memaksa. Ia hanya bisa sabar menghadapi dan entah sampai kapan akan mampu memendam rasa tak nyaman dalam hati.


Ansel baru saja menyelesaikan meeting. Pria itu memasuki ruangannya diikuti Damian yang berjalan di belakang. "Permisi Tuan." Seorang wanita dengan pakaian press body masuk ke dalam sesaat setelah keduanya duduk. "Berhenti." Tegas Ansel. "Tidak ada seorang wanita yang boleh masuk ke ruangan saya selain istri saya. Mau apa kau? Mau menggoda saya? Kau pikir kau menarik?" Lanjut pria itu mengepalkan tangannya. "Saya hanya ingin mengantarkan kopi Tuan." Jawabnya dengan suara yang dibuat buat. "Keluar. Enyahlah dari hadapanku." Bentak Ansel tak tahan lagi berlama lama melihat kuman di depan mata. "Damian. Suruh orang untuk bersihkan ruangan ini sebersih bersihnya." Titah Pria itu langsung di angguki sekertarisnya.


"Brug." Karina yang hendak masuk ke ruangan suaminya jatuh tersungkur ketika seorang wanita menabraknya. "Jalan pakai mata dong." Ucapnya dengan nada tinggi menyita perhatian semua karyawan untuk datang. "Maaf Mbak." Jawab Karin sembari menahan rasa sakit akibat pecahan cangkir yang menusuk tangannya.

__ADS_1


Ansel berubah menjadi garang. Rahangnya mengeras dengan tatapan mata tajam penuh amarah yang membuat siapapun ngeri menyaksikannya. "Kau apakan istriku?" Tanya Ansel mendorong wanita yang beberapa saat lalu keluar dari ruangannya. "Istri?" Tanyanya bingung. "Ya. istriku. Kau apakan ha?" Bentaknya penuh emosi. "Sudah Dad." Karin berusaha menenangkan suaminya namun pria itu tak peduli. Ansel mendorong wanita itu hingga jatuh tersungkur kemudian menyiram dengan kopi yang di bawa salah satu karyawannya. "Daddy." Karin mencegah tangan suaminya yang akan melayang menampar wanita yang sudah duduk dalam kondisi memprihatinkan itu. "Damian. Suruh orang untuk mengurus sisanya dan ganti kopi pria itu." Tegas Ansel. "Baik Tuan." Jawab Damian segera melaksanakan perintah bosnya.


Karina telah mandi dan mengganti gamisnya. Wanita itu kini sedang duduk menunggu Ansel mengobati luka di tangannya. "Masih sakit?" Tanya Pria itu sembari meniup tangan Karina. "Sedikit perih." Jawab Karin. "Kita pulang sekarang ya." Ajak Ansel mengecup tangan istrinya.


"Mom kenapa?" Panik Bella buru buru menghampiri Ibunya yang keluar dari mobil dengan tangan di perban. "Hanya luka kecil." Jawab Karin sambil tersenyum. "Bagaimana bisa?" Ia ingin tau kronologi kejadiannya. "Gara gara karyawan sialan itu." Ucap Ansel dengan nada kesal. "Ayo masuk." Karin menggandeng tangan Bella untuk diajak masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Enak ya?" Tanya Ansel melihat Karina makan eskrim dengan lahap disuapi putrinya. "Iya." Jawab wanita itu sambil tersenyum. "Kamu jam segini kok sudah pulang Bell." Ucap Ansel heran karena hari hari biasa Bella pulangnya sekitar jam satu atau jam dua. "Iya. Lagi ada rapat. Makannya pulang awal." Jawab gadis itu.


Malam hari Ansel baru kembali dari ruang kerjanya. Pria itu melepas pakaiannya hanya menyisakan boxer kemudian naik ke ranjang untuk bergabung bersama Istrinya yang sudah tidur duluan. "Um..." Karin terbangun merasakan ciuman dari sang suami. "Kenapa bangun hm? Daddy menganggu?" Tanya Ansel mengusap punggung istrinya. "Tidak." Jawab Karin. "Daddy." Ucap wanita itu memanggil suaminya. "Ya sayang." Jawab Ansel lembut sembari mengecup kepala istrinya. "Boleh tidak weekend nanti liburan ke puncak. Abi punya villa disana." Ansel tersenyum. "Boleh. Daddy juga baru beli Villa disana karena kata Abi Mom suka berlibur ke puncak. Jumat nanti kita berangkat." Jawabnya. "Makasih Dad." Ucap Karin senang. "Sama sama sayang."


__ADS_2