Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Kerena Kamu Milikku


__ADS_3

Selesai sarapan Ansel mengajak anak istrinya untuk jalan jalan menikmati udara puncak yang begitu sejuk. "Jangan cepat cepat jalannya nanti...." Belum sempat menyelesaikan kata katanya Ia di kejutkan dengan karina yang jatuh terduduk di aspal. "Mom." Pekik Bella dan Ayahnya menghampiri Wanita itu. "Kan sudah di bilang hati hati." Ucap Ansel memeriksa kondisi sang istri. "Tuh. Telapak tangannya berdarah kan." Lanjutnya mengikat luka Karin dengan sapu tangan. "Kita pulang saja." Ucapnya Ansel. "Jangan. Masih pengen kesana." Tolak Karin. "Luka begini? Nggak....Nggak...." Ia tak mau menuruti keinginan sang istri. "Sebentar saja. Janji hati hati." Ia menatap suaminya penuh permohonan. "Baiklah." Putus pria itu.


Karina benar benar seperti anak kecil. Wanita itu berjalan di tengah di gandeng anak dan suaminya. Keduanya melakukan itu dengan alasan agar Ia tidak jatuh lagi. "Masih sakit?" Tanya Bella. "Sudah tidak." Jawab Karin sambil tersenyum. "Daddy mau angkat telpon sebentar." Ucap Ansel sedikit menjauh untuk menerima panggilan dari sekertarisnya.


Bella berjalan dengan Karina menyusuri kebun teh. "Ini bisa langsung di minum?" Tanya gadis itu sembari memetik pucuk teh yang segar. "Bisa. Di seduh pakai air panas." Jawab Karina. "Apakah enak?" Bella penasaran dengan rasanya. "Menurutku kurang enak. Lebih enak teh yang sudah kering dalam kemasan. Kalau kamu mau coba nanti bikin mau?" Tawarnya. "Enggak ah Mom. Kata Mom nggak terlalu enak." Jawab Bella sambil tertawa kecil.

__ADS_1


"Kenapa tiba tiba sampai sini sih." Ucap Ansel menghampiri anak dan istrinya yang asik bercengkrama. "Pengen lihat kebun teh." Jawab Karin. "Balik yuk." Ajak Ansel. "Nanti dulu Dad. Baru juga sampai." Keluh Bella. "Sebentar lagi saja." Lanjut gadis itu enggan untuk kembali karena belum puas melihat pemandangan sekitar. "Baiklah." Pasrah Ansel menuruti keinginan putrinya.


"Disana ada sungai." Ucap Karin menunjuk satu titik. "Jangan coba coba kesana." Sahut Ansel karena tau istrinya pasti meminta untuk pergi ke sungai yang menurutnya berbahaya karena jalan untuk kesana tidak rata. "Kenapa?" Tanya Karina sambil mendongak menatap sang suami. "Bahaya. Jangan kesana." Jawab pria itu lembut sembari mengusap kepala Karina.


Setelah cukup lama jalan jalan mereka memutuskan untuk pulang. Sampai di rumah Karin duduk membiarkan suaminya mengobati luka sementara Bella mandi karena gadis itu belum mandi pagi. "Jangan masak. Biar Bibi yang masak." Ucap Ansel sembari mengecup luka istrinya yang sudah tertutup plester. "Hanya luka kecil. Masa tidak boleh masak." Keluh Karin. "Iya. Tapi tetap saja luka. Mom tunggu sini sebentar Daddy ambilkan minum dulu." Pria itu bergegas pergi setelah meninggalkan kecupan untuk sang istri.

__ADS_1


Karin celingukan memeriksa di luar namun tidak ada siapa siapa. Ia melangkah sampai ke halaman. "Atau mungkin pergi lagi ya? Tapi gerbangnya tertutup." Gumam wanita itu melangkah menuju gerbang Villa kemudian membukanya. Hendak kembali ke dalam tiba tiba Ia merasakan tangannya di cekal seseorang kemudian di tarik keluar. "Siapa kamu?" Tanya Karin melihat sosok menggunakan pakaian serba hitam dengan penutup wajah. "Pantas saja Ansel tergila gila padamu. Parasmu benar benar sempurna." Ucap orang itu sambil tertawa menyeramkan membuat Karin takut.


Ansel berlari menghampiri istrinya. Ia sempat melihat CCTV Karina berada di luar dengan seseorang. "Siapa kau?" Ucap Ansel membuat orang misterius yang bersama Karina kabur begitu saja. "Daddy." Karin yang sudah menangis ketakutan memeluk suaminya. Tak mengejar, Ansel lebih memilih untuk menenangkan sang istri dan membawa wanita itu masuk ke dalam.


"Mom baik baik saja? Dia apakan Mom?" Tanya Ansel bertubi tubi. "Tidak di apa apakan. Hanya saja dia bilang jika aku adalah penebus kesalahan Daddy di masa lalu. Daddy punya musuh?" Karina bertanya. "Sudah jangan di pikirkan. Sekarang istirahat saja. Bell temani Mommy dulu." Ucap Pria itu bergegas pergi. "Baik Dad." Jawab Bella ikut tiduran memeluk Ibunya.

__ADS_1


Ansel baru saja kembali dari ruang kerjanya setelah berbicara dengan Damian. "Bella ke kamar dulu Dad." Pamitnya bergegas pergi setelah Karina tertidur pulas. "Iya." Jawab Ansel kemudian naik ke atas ranjang berbaring menatap wajah damai istrinya. Jemari pria itu mengelus lembut pipi Karina. "Aku berjanji akan melindungi. Tidak ada yang bisa menyentuhmu atau melukaimu sedikit saja. Karena kamu milikku. Hanya milik Ansel seorang." Gumamnya.


__ADS_2