Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Sebentar Lagi


__ADS_3

"Makan disini ya." Tawar Karin setelah sampai di tempat penjual bakso langganan. Kafil mengangguk kemudian duduk menunggu kakaknya yang sedang memesan. Karina memang hobi makan. Namun badannya tetap kurus saja. Gadis cantik berhijab itu suka sekali menjelajahi dan mencoba macam macam makanan pinggir jalan. "Mau kerupuk?" Tawarnya yang kini sudah duduk di samping sang adik sambil membawa kerupuk. "Mau." Jawab remaja tampan itu sambil tersenyum.


Dua mangkuk bakso sudah tersaji di meja. Dengan telaten Karin memotong bakso adiknya menjadi bagian bagian kecil agar mudah di makan. "Hati hati masih panas." Ucap gadis cantik itu meniup kemudian menyuapkan pada sang adik. "Jangan banyak banyak kak. Nanti perut kakak sakit kena omel Umi." Tegur Kafil melihat kakaknya menambahkan sambal lagi ke dalam mangkuk. "Masih kurang. Ini baru sedikit." Jawab Karin tak menghiraukan terguran adiknya.

__ADS_1


Bella sudah berada di rumah Karin. Ia memang tak untuk datang karena rencananya ini juga dadakan. "Ditunggu ya Bel. Paling sebentar lagi pulang." Ucap Seorang wanita ikut duduk setelah meletakkan minuman dan kue untuk tamunya. "Iya Tante." Jawabnya sambil tersenyum. Umi mengajak Bella mengobrol sembari menunggu putrinya pulang.


"Assalamualaikum." Ucap dua orang memasuki ruang tengah. "Waalaikumsalam. Kamu ditunggu Bella lo Mbak." Ucap Umi. "Daritadi ya Bell? Maaf tadi masih makan bakso sama adek." Ucap gadis itu ikut duduk sementara adiknya sudah melesat pergi entah kemana. "Enggak. Baru kok." Jawab Bella. "Kalian ngobrol ya. Umi tinggal ke dalam dulu." Pamit wanita itu di tanggapi anggukan oleh keduanya.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya Bella memasuki kamar Karin begitu takjub. Kamar mewah dengan dominasi warna putih itu sangat rapi dan bersih berbeda dengan kamarnya yang amburadul meskipun setiap hari sudah di bereskan Bibi. Banyak piagam, piala dan ada juga perpustakaan kecil yang di batasi dengan sekat kaca. "Kamu kalau main ke rumah terus ke kamar aku pasti jijik ya Rin." Ucap Bella sambil duduk di ranjang. "Kenapa begitu?" Tanyanya. "Kamar kamu rapi dan bersih begini. Beda sama kamar aku." Jawabnya. "Enggak jijik kok. Biasa saja." Karin menanggapi sembari mengeluarkan makanan ringan dari kantung kresek lalu meletakkan di meja. Bella menelisik sekitar. Baru di sadarinya ternyata ada kulkas di kamar Karin. Kulkas yang menyatu dengan dinding sehingga tidak memakan tempat. "Ada kulkas juga di kamar kamu?" Tanyanya sambil terkekeh. "Iya. Aku suka ngemil." Jawab gadis itu sembari mengulas senyum.


Malam hari Ansel memasuki kamar putrinya. "Kamu ngapain Bell?" Tanya Pria itu melihat anak gadisnya sedang sibuk di depan meja rias. "Tadi Bella di kasih jilbab sama Karin tapi lupa cara pakainya." Jawabnya. "Minta ajari Karin dong." Saran Ansel langsung di angguki oleh Bella.

__ADS_1


"Assalamualaikum Bell." Ucap seseorang dari sebrang sana membuat Ansel tersenyum. "Waalaikumsalam Rin. Maaf ganggu malam malam. Kamu lagi sibuk nggak?" Tanya Bella yang sedang melakukan panggilan Video dengan sahabatnya. "Enggak. Baru aja selesai ngajari Kafil kerjain PR. Ada apa?" Gadis itu balik bertanya. "Minta ajarin pakai jilbab boleh nggak Rin?" Karina mengangguk mulai menjelaskan sambil Ia mempraktekkan juga dengan kain jilbabnya sendiri. "Bagus nggak Dad?" Tanya Bella hanya ditanggapi anggukan oleh Daddynya. "Oh. Om ada disana?" Tanya Karin tidak enak karena tidak menyapa. "Iya Rin. Kamu apa kabar?" Ansel sudah sekarang sudah berpindah duduk bersama putrinya. "Baik Om. Om sendiri apa kabar?" Pria itu tersenyum. "Baik." Jawabnya. "Lama kamu nggak main kesini Rin. Ayam geprek kamu enak. Om kangen." Ucapnya sambil terkekeh membuat Bella membulatkan mata. "Daddy." Tegurnya. "Jangan dengerin Daddy aku Rin." Bella tidak enak hati. "Nggak papa. Nanti lain kali kalau Karin main ke rumah Om Karin bawakan." Jawab gadis cantik itu.


Ansel sedang berada di ruang kerjanya. Pria itu terlihat sedang berbincang serius dengan Damian si tangan kanannya. "Berapa hari lagi siap?" Tanyanya. "Sekitar seminggu lagi Tuan." Jawabnya. "Persiapkan semuanya dengan baik. Saya tidak ingin ada kesalahan." Ucap Pria itu langsung di tanggapi anggukan. "Baiklah kau boleh pergi. Laporkan semuanya padaku. Apapun itu." Damian lagi lagi mengangguk kemudian segera berpamitan untuk undur diri. "Sebentar lagi." Gumam Ansel sambil tersenyum menatap foto yang selalu ada di meja kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2