Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Kemarahan Ansel


__ADS_3

"Assalamualaikum." Ucap Karin memasuki rumah. "Waalaikumsalam. Mbak kesini nggak bilang bilang. Sama siapa?" Jawab Umi sekaligus bertanya. "Sama Daddy. Maaf nggak bisa mampir soalnya langsung ke kantor. Katanya ada meeting." Umi mengangguk segera menggandeng tangan putrinya untuk diajak duduk bersama.


Umi menyingkap lengan gamis Karina karena tak sengaja melihat memar di pergelangan tangan putrinya. "Ini kenapa lebam Mbak?" Tanya Wanita itu dengan raut wajah khawatir. Feeling seorang Ibu memang tidak pernah salah. Terlebih lagi Ia sering mendapat laporan dari beberapa orang jika menantunya begitu posesif dan kasar. Akhir akhir ini pun Karin begitu sulit dihubungi. Hanya jam jam tertentu saja anaknya itu bisa menerima panggilan dan kini nomor Karin sudah ganti dengan yang baru. Terjadi secara tiba tiba dan tentu membuat Umi curiga pasti ada sesuatu dalam hubungan rumah tangga anaknya.


Karin tak bisa menjawab. Ia tak mungkin bilang kalau semalam tangannya di tarik kasar oleh Ansel karena Pria itu marah saat Ia meminta izin untuk menginap di rumah Uminya. Karin bisa terima jika suaminya tak mengizinkan karena mungkin merasa tak nyaman. Namun tidak dengan pakai cara kasar seperti ini. Ansel memang sangat tempramen. Pria itu tak mampu mengendalikan emosinya membuat Karin takut. Bukan hanya sekali dua kali bahkan kejadian ini dangat sering terjadi namun Ia berusaha untuk selalu sabar. "Jatuh Umi." Jawabnya sambil tersenyum tak ingin membuat sang Ibu khawatir. "Mbak nggak bohong sama kan?" Tanya Umi memastikan. "Sudah Umi. Jangan di bahas lagi ya... Karin sekarang pengen makan rujak nih. Sudah lama nggak makan rujak." Ia berkata demikian untuk mengalihkan pembicaraan. "Tunggu sebentar ya" Jawab Umi bergegas pergi ke dapur.

__ADS_1


Karin hanya diberi waktu tiga jam oleh suaminya. Sebelum pulang Ia mampir ke toko buku langganannya untuk membeli beberapa novel karena masih ada waktu satu jam sebelum sampai di rumah. "Assalamualaikum Karin." Sapa seorang pemuda. "Waalaikumsalam. Mas Azzam." Jawabnya sedikit terkejut.


Kedua orang itu mengobrol sembari berjalan menuju parkiran. "Lama nggak ketemu ya Rin. Mas dengar dari Abi Karin sudah menikah dan kenapa Karin sekarang sulit di hubungi?" Ucap Azzam dengan nada kecewa. "Semuanya terjadi begitu saja Mas. Tidak Karin sangka. Mas juga pasti sudah dengar ceritanya dari Abi Mas. Untuk masalah sulit di hubungi Karin sekarang tidak boleh berhubungan dengan siapapun kecuali keluarga." Jawabnya jujur sembari menghela napas. Azzam memperhatikan wanita yang berjalan beriringan dengan jarak yang cukup jauh darinya. Ia menelisik ekspresi Karina yang begitu menyedihkan. Mereka sudah bersama sama sejak kecil jadi Azzam sangat peka dan tau apa yang di rasakan Karin saat ini. Terlebih lagi Ia juga paham sikap Ansel seperti apa. Memang tidak pernah bertemu langsung tapi dari cerita Abi Karin dan juga Abinya pria itu sangat menakutkan. Dari cara pria itu memperistri saja sudah salah. Entah bagaimana dengan rumah tangganya. Yang pasti Azzam dapat menyimpulkan jika semua tidak baik baik saja.


"Ayo pulang." Ucap Ansel tiba tiba saja datang lalu menarik tangan istrinya dengan kasar. "Dad sakit." Keluh Karin merasakan panas dan perih di pergelangan tangannya. "Tuan. Bisakah kau tidak kasar." Tegur Azzam. "Jangan ikut campur. Dia istriku." Jawab Ansel membuka pintu mobil lalu mendorong tubuh istrinya masuk dengan kasar. "Ku peringatkan kau jangan pernah dekati istriku." Ucapnya mendorong Azzam dengan kasar.

__ADS_1


Ansel menghempaskan tubuh istrinya dengan kasar di atas ranjang. "Dad." Lirih Karin takut dengan perlakuan suaminya. Melihat Ansel seperti ini membuatnya mengingat kejadian kelam saat pertama kali pria itu merenggut kesuciannya. "Kenapa hm. Sudah aku bilang jangan bicara dengan laki laki lain namun sepertinya kamu tidak mendengarkan." Ia mencengkram dagu istrinya dengan kasar. "Kamu berniat untuk selingkuh ha? Apa kamu tidak puas denganku?" Bentak Ansel membuat Karin menangis. "Akan aku puaskan kamu." Ia mencium bibir istrinya dengan Kasar lalu mencengkram kedua tangan Karin dengan satu tangannya membuat wanita itu tak bisa bergerak.


"Aku mohon berhenti Dad." Tangis Karina saat Ansel menggaulinya sangat kasar. "Daddy sakit." Keluhnya berkali kali namun tidak dihiraukan. "Ah...Ini yang kamu mau kan." Ansel menggerakkan pinggulnya dengan brutal tak memperdulikan bagaimana kondisi istrinya.


Karin selesai mandi. Ia hanya diam membiarkan Ansel mengobati luka luka memar di beberapa bagian tubuhnya. "Masih sakit?" Tanya Pria itu di jawab anggukan lemah oleh istrinya. "Aku bertanya." Ansel menekankan ucapannya. "Masih." Jawab Karin pelan. "Kamu belum makan. Tunggu disini Daddy ambilkan." Ansel mengecupi luka dan bibir istrinya lalu bergegas pergi.

__ADS_1


"Ayo makan." Ucap Ansel yang sudah kembali duduk di samping sang istri. "Tidak lapar Dad." Jawab Karina pelan. "Makan." Ia menatap tajam istrinya membuat wanita itu mau tak mau harus menurut karena takut. "Jangan di ulangi lagi. Mulai sekarang tidak ada lagi keluar rumah apapun alasannya. Sampai keluar dan kejadian seperti tadi terulang lagi. Aku tidak akan segan. Paham?" Tegas Ansel sembari menarik dagu Karin untuk menatapnya. "Paham." Jawabnya pelan.


__ADS_2