Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Liburan


__ADS_3

Karin sedang di swalayan ditemani suaminya untuk belanja bahan makanan yang akan di bawa ke puncak. "Jangan. Itu pedas." Tegur Ansel saat istrinya mengambil satu kemasan mie instan. Karin menurut kemudian meletakkan kembali. "Jangan beli yang pedas hm. Nanti sakit perut." Lanjut pria itu sembari memeluk sang istri tak memperdulikan orang orang sekitar yang mengamati sikap manisnya.


"Mom." Bella yang baru pulang langsung memeluk Ibunya. "Kita jadi ke puncak?" Tanya gadis itu. "Jadi. Siap siap gih." Jawab Karina sambil mengusap punggung Bella. "Oke." Ia bergegas pergi setelah mengecup pipi sang Mommy.


Keluarga kecil Ansel dalam perjalanan menuju puncak. Pria itu tersenyum melihat istrinya yang tak berhenti mengunyah cemilan sambil mengobrol dengan Bella yang ada di kursi penumpang. "Jangan hadap ke belakang terus Mom. Lehernya sakit nanti." Tegur Ansel mencubit dagu istrinya. "Daddy sewot aja." Kesal Bella namun tak di tanggapi oleh sang Ayah.

__ADS_1


Beberapa jam perjalanan mereka telah sampai. "Villa Daddy dekat sama Villa Abi?" Tanya Karin tak menyangka ternyata Ansel membeli Villa yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Villa milik keluarganya. "Iya. Ini yang kasih rekomendasi juga Abi. Mom suka?" Karina mengangguk. Ia sangat takjub dengan bangunan modern dengan suasana sejuk di depannya. "Ayo masuk Mom." Bella menggandeng tangan Ibunya bergegas mengajak wanita itu ke dalam. "Hati hati Bell. Jatuh nanti." Tegur Ansel sedikit kesal karena Karina ditarik paksa oleh putrinya.


"Lagi apa hm?" Ansel memeluk istrinya yang sedang berdiri di balkon kamar menikmati udara segar. "Lihat. Sangat indah" Jawab Karin sambil tersenyum. "Mau kesana boleh?" Tanya wanita itu sembari menunjuk perkebunan teh yang membentang luas. "Besok saja. Istirahat dulu." Ia menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam lalu menutup pintu balkon dan gorden.


Karin sudah berada di dapur setelah bersusah payah membebaskan diri dari pelukan suaminya. Wanita itu membuka kulkas menyiapkan bahan bahan yang akan diolah. Karena udara puncak yang dingin Ia memutuskan untuk membuat sup daging sebagai menu makan malam. "Mom." Bella memeluk Ibunya. "Kamu nggak tidur?" Tanya Karina. "Baru bangun. Mau masak apa?" Gadis itu balik bertanya. "Sup daging." Jawab Karina sambil tersenyum.

__ADS_1


"Disini rupanya." Ansel tiba tiba memeluk Karin membuat wanita itu sedikit terkejut. "Disuruh menemani suami tidur saja sulit ya kamu." Ia mencubit pipi chubby sang istri lalu mengecupnya beberapa kali. "Ini sudah sore Dad. Makan malamnya belum siap." Jawab Karina. "Maaf." Lanjut wanita itu tidak enak hati karena tidak patuh pada suaminya. "Hm. Tidak apa Sayang. Tapi sepertinya setiap kesalahan harus di bayar. Mandikan ya...." Karin hanya mengangguk. "Bella mana? Ibunya lagi repot nggak bantuin." Kesal Ansel. "Bantu tadi. Aku suruh mandi biar nggak kesorean." Jawab Karina menanggapi suaminya.


Malam hari Karin makan bersama anak dan suaminya. "Tambah lagi Mom." Ucap Bella menyodorkan mangkuknya yang telah kosong. "Belum kenyang juga Bell." Ucap Ansel heran dengan putrinya yang sudah nambah tiga kali. "Belum. Daddy juga nambah dua kali." Jawabnya. "Nah makan." Karina meletakkan mangkuk yang sudah diisi nasi dengan sup di depan putrinya. "Daddy kan nge gym. Kamu apa? Nggak pernah olah raga, tidurnya lama, makannya banyak, gendut kamu nanti." Sahut Ansel. "Mom makannya banyak juga nggak gendut. Gimana caranya Mom?" Tanya Bella. "Cara apa?" Karina balik bertanya membuat Bella cemberut. "Gendut kurus juga sama saja. Yang penting kan sehat." Jawab Karin pada akhirnya. "Tuh. Daddy dengar kan. Nggak masalah." Ucap Bella.


Ansel menghampiri istrinya yang sedang nonton sambil tiduran. Pria itu mengangkat kepala Karin kemudian menidurkan di pangkuannya. "Mau eskrim Mom." Ucap Bella tiba tiba datang. "Mau." Jawab wanita itu bergegas duduk. "Eskrim mulu." Keluh Ansel. Setiap hari istrinya memang tak bisa lepas dari makanan dingin nan manis itu. Awal awal Ia biarkan bahkan dia juga membelikan istrinya freezer dengan isian berbagai macam eskrim agar senang. Namun semakin kesini juga membuatnya khawatir karena jika sudah makan eskrim Karin enggan berhenti. "Mom tadi pagi sama siang sudah makan." Ansel menyuruh putrinya menjauh agar sang istri tidak ikutan makan. "Masih mau." Karin menatap Bella membuat gadis itu serba salah. Ia khawatir dengan kesehatan Ibunya dan di sisi lain juga kasihan. "Pergilah Bell." Tutur Ansel memeluk Karina erat. "Lima sendok saja." Ia memohon agar diizinkan suaminya. "Satu." Putus Ansel. "Empat." Karin menawar. "Tiga atau tidak sama sekali." Jawab Ansel. "Baik." Jawab Karin cepat. "Bella suapi." Ucap gadis itu langsung di tolak. "Makan sendiri." Karina mengambil eskrim satu sendok besar hingga tumpah tumpah kemudian memasukkan ke mulut membuat pipinya menggembung penuh. Ansel dan Bell seketika terbengong melihat pemandangan itu. "Masih kurang dua kan." Ucap Karin setelah menelannya tanpa merasa kedinginan sama sekali. "Tidak tidak, Daddy suapi." Putus Ansel merebut sendok istrinya lalu menyuapi dua kali. "Masih kurang. Daddy ambilnya nggak satu sendok penuh." Protesnya. "Yang Mom makan pertama kali tadi setara tiga sendok penuh. Masih untung Daddy mengizinkan makan lagi." Jawab Ansel. "Masih mau." Ucap Karina. "Sudah. Makan ini saja." Ia mengambil satu keping biscuit dan memasukkannya ke mulut sang istri. "Begitu kan bagus." Ansel tersenyum mengecup pipi istrinya gemas.

__ADS_1


__ADS_2