Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Dekat


__ADS_3

"Dad. Nanti pulang sekolah Bella langsung ke rumah Karina ya." Ucap Bella sembari memakan sarapannya. "Kamu main kesana? Ajak dia main ke rumah aja. Sekalian pulang kamu jemput." Jawab Ansel. "Kenapa begitu? Tumben Daddy larang larang Bella buat main. Lagipula Bella sama Karina sudah janjian. Nggak enak dong kalau ubah rencana gitu aja." Ansel menghela napas. Ia ingin bertemu Karina makannya menyuruh agar Bella membawa sahabatnya itu ke rumah. Nggak mungkin kan Ansel harus ikut ke rumah Karin juga. "Bilang kalau Daddy belum pulang nggak dikasih izin kamu main." Ia memberikan alasan untuk putrinya. "Daddy nyebelin." Kesal Bella bergegas pergi setelah menenggak habis susunya.


"Ya Bel." Jawab Karina yang sedang bertelponan dengan sahabatnya. "Karin. Aku nggak di kasih izin sama Daddy buat main karna Daddy belum pulang. Kamu kalau ke rumah aku gimana? Nanti sekalian aku jemput pulang sekolah." Kata gadis itu dengan tidak enak hati. "Nggak Papa Bel." Jawab Karin. "Makasih ya Rin. Maklum ya. Daddy aku emang rada labil kaya orang puber. Biasanya juga boleh kok. Entah ketempelan setan apa nggak boleh." Cerocos gadis itu meluapkan kekesalannya. Karin hanya bisa tersenyum dan sesekali menanggapi hingga panggilan berakhir karena Bella harus masuk kelas. "Lagi telponan sama siapa sayang?" Tanya Umi menghampiri putrinya. "Bella Umi. Dia nggak bisa kesini. Nanti Karin di jemput buat ke rumah dia boleh?" Tanyanya meminta izin. "Boleh. Pulangnya jangan kesorean." Jawab wanita itu sembari mengecup kening putrinya.

__ADS_1


Suara decakan beberapa kali keluar dari mulut seorang pria yang sedang memeriksa berkas berkas yang bertumpuk di meja. Ia sama sekali tak bisa fokus. Pikirannya selalu di penuhi oleh Karin semenjak pertemuan pertama mereka. Ansel seperti remaja yang sedang jatuh cinta. Bisa di sebut Ia sedang mengalami puber kedua sekarang. Bagaimana tidak, Sehari saja tidak bertemu Karina Ia seperti orang linglung. Alhasil demi hanya untuk melihat gadis itu tanpa di curigai putrinya Ia sampai menyuruh orang untuk memata matai segala kegiatan Karin. "Sabar. Nanti pulang juga ketemu." Gumamnya tersenyum menatap foto gadis cantik yang selalu Ia bawa.


Pukul satu siang Ansel sudah pulang. Pria itu turun dari mobil kemudian berlari masuk ke dalam rumah. Ya benar, dia berlari tidak berjalan santai seperti biasanya. Dengan langkah cepat Ansel menaiki anak tangga untuk menuju kamar putrinya. Ia secara refleks mengetuk pintu bercat putih itu. Berkali kali tak mendapat jawaban duda satu anak itu mencoba membuka namun terkunci.

__ADS_1


Ketiganya makan di ruang tengah. Karin makan sambil menyuapi sahabatnya dengan tangan. Dari dulu Bella memang manja dengan Karina. Mungkin karena tidak mendapat kasih sayang dari sang Ibu sejak kecil dia bersikap demikian. Sikap Karin yang dewasa, penyabar dan penuh kelembutan sangat membuat Bella nyaman. "Kepedesan ya Om?" Tanya Karin melihat wajah Ansel yang memerah. "Iya pedas. Tapi enak." Jawab Pria itu. Ansel mengabaikan makanan yang di belinya tadi dan ikut makan ayam geprek buatan Karina. Melihat Bella yang begitu lahap di suapi membuat Ansel ingin merasakan juga. Namun otaknya masih waras. Jika terlalu mencolok bukan hal yang tidak mungkin Karin malah akan menjauhinya dan semua menjadi kacau. "Kenapa nggak jualan ayam geprek sekalian. Buatan kamu paling enak loh." Ucap Bella. "Yang kue saja sudah menyibukkan. Kalau di tambah ini nanti malah keteteran." Jawab Karin tersenyum sambil menyuapi lagi sahabatnya.


Selesai makan Karin lanjut mengajari Bella karena gadis itu mengeluh kesulitan mengerjakan PR nya. "Dengerin apa yang di jelaskan Karin. Kamu kalau sekolah mungkin selalu tidur makannya nilai bisa merah semua." Ucap Ansel membuat putrinya berdecak. "Bella nggak tidur Dad. Emang nggak paham aja." Jawabnya melakukan pembelaan. "Coba aja kalau gurunya kaya Karin pasti langsung paham. Guru les sama di sekolah Bella sama aja. Nggak asik." Lanjutnya malah curhat. "Karin. Kamu nanti pulangnya Om antar saja ya." Tak menghiraukan anaknya Ansel lebih memilih untuk menawari Karin. "Terimakasih. Tapi Karin di jemput supir Om." Jawabnya sopan. Pria itu mengangguk sembari tersnyum. Ia memperhatikan Karina yang mulai mengajari Bella lagi. Umur keduanya sama tapi karakter jauh berbeda. Karin begitu tenang, santun dan lembut sedangkan Bella kebalikannya. Kini Ia juga menyadari jika putrinya itu hanya nyaman bersama Karin. Jarang sekali Bella bisa dekat dengan orang karena sikap juteknya. Ini juga pertama kalinya Bella mengajak teman bermain ke rumah. Dulu Bella sering bercerita tentang sahabatnya itu namun Ansel mengabaikan karena tidak tertarik. Yang di katakan anaknya memang benar. Karin merupakan gadis yang luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2