
Ansel dan Karin sedang dalam perjalanan ke sekolah Shiena untuk mengambil raport sekalian menjemput gadis itu. "Nggak ngantuk ya?" Tanya Ansel melihat anaknya masih terjaga padahal ini sudah jam untuk tidur siang. "Nggak kayanya. Masih betah melek." Jawab Karin yang sedang memangku putranya. "Dad. Kira kira kalau lulus nanti Bella mau kuliah dimana ya?" Lanjut Karin bertanya pada sang suami. "Entah. Aku suruh kuliah di luar saja kali ya Mom? Sudah lama juga aku memikirkan ini." Jawab Ansel mengungkapkan rencananya sekaligus meminta pendapat. "Senyamannya Bella dimana aja sih Dad kalau menurut aku. Tapi di sisi lain kalau benar kuliah di luar negri juga takut kalau nanti Bella terjerumus lagi karena jauh dari orang tua." Ansel tampak mengangguk membenarkan apa yang dikatakan istrinya. Dekat dengan orang tua saja Bella bisa sampai separah itu apalagi nanti jika jauh dan tidak ada yang menasihati.
"Mama." Shiena langsung berhambur memeluk Karin ketika wanita itu memasuki aula. "Hy sayang. Sudah lama ya? Mama telat ya?" Tanyanya karena melihat para wali murid sudah banyak yang datang. "Belum Ma. Belum dimulai. Ayo duduk." Ajaknya menggandeng tangan Karin.
__ADS_1
Ansel duduk sambil menggenggam tangan istrinya. "Lihat deh." Bisik pria itu sembari mengubah posisi merangkul sang istri dengan mesra. "Kenapa?" Tanya Karin. "Make up nya pada menor semua. Bajunya kaya mau ke pesta. Belum lagi perhiasan yang dipakai ibu ibu sangat menyilaukan. Tas tas yang mereka bawa itu untuk pamer. Yang pada ngerumpi itu pasti lagi nunjukin barang barangnya. Dari semuanya istriku yang paling sederhana. Hanya pakai gamis dan jilbab saja. Padahal kan kalau mau seperti itu juga kelewat bisa. Malah lebih lebih." Jawab Ansel membuat istrinya tersenyum. Ia tak menyangka ternyata suaminya julid juga. "Daddy bukannya suka yang wanita dengan make up menor dan baju pendek begitu." Karin menggoda membuat Ansel berdecak. "Siapa bilang. Jijik malah. Pahanya, betisnya kelihatan memangnya bagus? Nggak sama sekali. Kemana mana cantikan istriku. Bidadariku." Ungkap pria itu mengecup lembut kening sang istri. "Jangan gibah ah. Nggak baik." Tegur Karin.
Selesai mengambil raport Shiena mereka langsung pulang. Ansel menggendong Putranya yang sudah tertidur pulas lalu membawanya masuk ke dalam karena kasihan istrinya kelelahan. Ia hanya bisa menggendong Isam ketika tidur saja jadi tak banyak membantu karena bayi tampan itu sangat rewel dan apa apa maunya hanya dengan sang Ibu. "Shie langsung mandi terus istirahat ya." Ucap Karin. "Iya Ma." Jawabnya patuh bergegas melaksanakan perintah sang Ibu.
__ADS_1
Karin merasa nyaman di peluk suaminya. Wanita itu menikmati tangan Ansel yang sedang mengelus kepalanya. "Dad." Panggilnya pelan. "Ada apa sayang?" Tanya Ansel dengan lembut. "Kenapa kamu suka sama aku?" Karin mengungkapkan apa yang menjadi teka teki selama ini. Ia ingin tahu apa yang melatarbelakangi suaminya begitu nekat dan berambisi untuk menjadikannya sebagai istri. "Kamu beda dari yang lainya. Pertama kali melihat kamu waktu itu membuat aku merasakan sesuatu yang berbeda. Aku tidak berhenti memikirkanmu. Aku mencaritahu semua tentang kamu. Awalnya aku ragu dengan perasaan ini karena umur kita yang terpaut sangat jauh. Namun makin kesini aku makin yakin jika cinta itu hadir untuk kamu." Jelas Ansel. Karin mengangguk pelan. "Apa kamu tidak tau atau pura pura tidak tau kalau aku suka sama kamu?" Tanya Ansel. "Ya tidak tau." Karin menjawab dengan sangat santai. "Kamu memang tidak peka. Padahal sudah di kasih macam macam kode." Pria itu berdecak. "Ya nggak tau dong Om." Karin menutup mulutnya menyadari Ia telah salah. "Panggil suami apa tadi?" Ansel mengungkung tubuh istrinya. "Harus di hukum ini." Pria itu mencium bibir Karin dengan lembut sembari tangan mulai bergerak liar.
"Kenapa nangis?" Tanya Ansel menghampiri Karin yang sedang menenangkan putranya. "Salah Bella Dad." Jawab seorang gadis yang berdiri tak jauh dari mereka. "Kamu apakan?" Ansel menatap putrinya kesal. "Bella tadi mau gendong malah nangis." Karin mengusap lengan putrinya karena tau Bella sedang takut dengan tatapan sang Ayah. "Ayo duduk." Ajak wanita itu untuk mencairkan suasana.
__ADS_1
Karin makan eskrim sembari menyuapi anak anaknya. "Sudah sayang. Pilek nanti." Ucap wanita itu karena Isam mau lagi. "Ini yang terakhir." Putusnya karena bocah tampan itu merengek. "Gigi Isam berapa Mom?" Tanya Shiena. "Empat. Atas dua bawah dua." Jawab Karina. "Mommmy." Isam merengek lagi. Kali ini Ia ingin di pangku. "Iya sini." Karin seketika mengangkat tubuh putranya lalu mendudukkan di paha. "Nyaman ya." Ansel mengusap kepala putranya yang begitu anteng saat bersama sang Ibu.