
"Yang hari ini kamu temani aku ke kantor kan?" Tanya Ansel yang sedang sarapan bersama yang lain. "Aku mau ke toko kue. Ada janji dengan seseorang." Jawab Karin membuat suaminya seketika tersedak. Pria itu kemudian buru buru meneguk air yang diberikan istrinya. "Janji? Siapa?" Tanyanya. "Seseorang. Hari ini kamu ke kantor sendiri ya." Jawab wanita itu namun langsung mendapat penolakan. "Nggak. Temani aku. Kamu memang janjiannya jam berapa?" Karin berpikir sejenak. "Jam dua belas seperempat." Ansel mengangguk. "Temani aku dikantor. Setelah itu kita ke toko kue." Ucapnya tak terima jika sang istri menemui orang tanpa dirinya.
Karin menunggu suaminya yang sedang meeting. Karena bosan Ia memutuskan untuk keluar sebentar mencari udara segar. "Nyonya butuh sesuatu?" Tanya Seorang wanita yang diperintahkan Ansel untuk berjaga di depan pintu jika Karin membutuhkan sesuatu. "Tidak. Hanya ingin keluar sebentar untuk mencari udara segar. Di dalam membosankan." Jawabnya sambil tersenyum. "Tapi Nyonya. Nyonya tidak boleh keluar. Nanti Tuan marah." Ia berusaha mencegah sembari mengikuti langkah wanita hamil itu. "Sudah tidak apa. Nanti biar aku yang ngomong." Tak mendengarkan istri CEO itu malah memintanya untuk menemani jalan jalan sebentar.
"Namanya siapa?" Tanya Karin setelah sampai di taman sembari mengajak wanita yang sedang bersamanya untuk duduk menikmati minum. "Nama saya Arsita Nyonya." Jawabnya sopan. "Sudah lama bekerja disini?" Karin mengajaknya mengobrol. "Sudah 3 tahun Nyonya."
__ADS_1
Ansel panik saat sudah sampai di ruangannya karena Karin tidak ada di tempat. "Dimana istriku?" Tanya Pria itu pada beberapa karyawan di depan ruangannya. "Tadi keluar dengan yang berjaga disini Tuan." Jawab salah satu dari mereka. Tak mau bertele tele Ansel langsung menyuruh Damian memeriksa CCTV untuk menemukan keberadaan istrinya.
Seorang pria berjalan tergesa gesa. Matanya langsung tertuju pada wanita dengan pakaian syar'i yang tengah duduk sambil mengobrol santai. "Sayang." Panggil Ansel. Pria itu sedikit berlari kemudian langsung memeluk istrinya. "Kenapa keluar? Kan aku sudah bilang jangan keluar." Ucapnya. "Bosan. Hanya ingin mencari udara segar." Jawab Karin. "Kalian kembalilah berkerja." Ansel mengusir Damian dan wanita yang menemani istrinya. "Terimakasih sudah menemaniku." Arsita mengangguk. "Sama sama Nyonya." Balasnya kemudian bergegas pergi.
"Ayo masuk lagi. Disini panas. Udaranya kotor." Ajak Ansel karena takut istrinya kena polusi. "Masih mau disini." Jawab Karin duduk kembali. "Panas ini loh." Ansel berkacak pinggang menatap istrinya. "Ayo masuk." Lanjut pria itu. "Nggak mau." Rengek Karin enggan beranjak. Tak terima di tolak Ansel langsung menggendong istrinya. "Ih Daddy malu tau." Kesalnya karena menjadi pusat perhatian orang orang.
__ADS_1
Karin berjalan di gandeng suaminya menghampiri seorang bocah yang duduk menunggu. "Kakak." Ia langsung mencium tangan Karin dan Ansel bergantian. "Lama menunggu ya?" Tanya Karin sambil duduk diikuti suaminya. "Tidak Kak." Jawabnya.
"Dad." Karin melirik suaminya. Ansel mengangguk. Pria itu sudah tau apa yang diinginkan istrinya. "Om minta maaf soal kemarin." Reza mengangguk sambil tersenyum. "Reza sudah maafkan Om." Jawabnya. "Reza kue buatan Ibu kamu enak." Ucap Karin jujur. "Terimakasih Kak." Balasnya. "Bagaimana daripada kamu jualan di sekolah lebih baik dijual disini saja. Atau kalau tidak Ibu kamu juga bisa bekerja disini. Kakak banyak pesanan jadi butuh bantuan. Bagaimana?" Mata Reza tampak berbinar bahagia. "Kalau boleh Kakak juga ingin bertemu Ibu kamu untuk mengobrol sekalian Kakak antar pulang." Ansel mengeratkan genggaman tangannya pada sang istri menandakan pria itu tak setuju. "Sebentar saja." Gumam wanita itu pelan.
Ansel dan Karin sudah sampai di rumah setelah mengantar Reza pulang kemudian mengobrol dengan Ibu bocah itu sebentar. Karin memberikan pekerjaan bahkan juga memberi beasiswa untuk Reza. Hati Istrinya memang mulia dan Ansel mengakui itu. Namun saking mulianya hanya baru kenal saja Karin sudah bertindak lebih.
__ADS_1
"Nggak mandi?" Tanya Ansel menghampiri istrinya yang masih duduk santai sambil melepas jilbab setelah bercengkrama dengan anak anak. "Nanti dulu." Jawabnya sambil rebahan dengan nyaman di sofa. "Mandi dulu. Bau matahari tuh. Hari ini kamu pergi pergi ga jelas pasti banyak kuman." Ansel yang hanya mengenakan celana pendek dengan rambut yang basah mengungkung tubuh istrinya. "Nanti Dad." Karin tak bereaksi. "Minta di mandikan nih." Ansel menggendong istrinya menuju kamar mandi membuat wanita itu kesal. "Malas mandi ya." Ucapnya sembari meletakkan Karin dengan hati hati ke dalam bathup yang sudah dipenuhi air dan sabun.