Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Dijebak


__ADS_3

"Diangkat dulu Dad. Siapa tau penting." Ucap Karin karena sedaritadi ponsel suaminya berdering tapi pria itu mengabaikan. "Nomornya ga kenal Mom. Biarin." Jawabnya. "Angkat gih. Ga mungkin kalau nggak penting di hubungi berkali kali begitu." Ansel mengangguk kemudian menerima panggilan dari nomor asing itu dengan terpaksa. "Ya dengan saya sendiri." Jawab Ansel. Pria itu beberapa kali mengangguk kemudian berdiri dari duduk.


"Kenapa Dad?" Tanya Karin melihat wajah kesal suaminya. Wanita itu sontak ikut berdiri sembari menggendong Isam. "Bella di kantor polisi." Jawab Ansel sembari mengepalkan tangan. Ia sudah lakukan segala cara namun semakin hari anaknya itu semakin liar saja. "Dasar tidak tau diuntung." Geram pria itu pelan tak ingin di dengar anak istrinya.


Bella sedang duduk menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang di berikan. "Sumpah demi apapun bukan milik saya pak." Jawab gadis itu. "Saya memang merokok dan minum akhir akhir ini tapi kalau yang satu itu saya nggak berani." Lanjutnya lagi sembari menangis sesenggukan. Gadis itu menoleh ke samping langsung memeluk sosok wanita yang begitu Ia rindukan. "Mom. Bukan Bella." Ucapnya sesenggukan. "Tenang dulu." Karin mengusap punggung putrinya dengan lembut.

__ADS_1


"Anak bapak dan ibu telah bolos sekolah dan minum minum di club A. Tak hanya itu Saudari Bella juga terlibat perkelahian dengan temannya dan juga bertanggung jawab atas kepemilikan sabu sabu yang kami temukan di tasnya." Jelas polisi membuat Ansel dan Karin terkejut. "Anak kurang ajar." Geram Ansel mengepalkan tangannya. "Bukan Bella Dad. Mom bukan Bella. Itu bukan punya Bella." Ucapnya masih menangis sambil memeluk Karin. "Coba di selidiki lagi Pak. Siapa tau ada kesalahan di sini. Teman temannya juga tolong untuk diintrogasi." Karin memberikan masukan. Ia juga tak percaya Bella bisa sejauh itu makannya menyarankan untuk kasus ini diselidiki lebih lanjut. "Rekan kami sedang dalam perjalanan membawa siswi yang terlibat untuk kemari." Jawabnya.


Sudah pukul 12 siang namun masalah belum selesai. Karin memutuskan untuk menunggu di mushola terdekat sembari menyuapi anaknya makan. "Ngantuk ya sayang." Ia menggendong Isam setelah merapikan kotak makan yang telah kosong. Karin menimang nimang putranya sembari melantunkan sholawat agar Isam cepat tidur.


Karin meletakkan putranya yang sudah tertidur pulas di atas ranjang. Ia mencium kening Isam kemudian turun lagi ke bawah untuk melihat keadaan takut terjadi sesuatu karena Ansel tadi menarik tangan Bella dengan kasar.

__ADS_1


"Bagus kamu. Bikin malu keluarga. Bergaul sama berandalan begitu. Bukannya sekolah malah minum dan pergi ke club. Bel, Mau jadi apa kamu? Mau jadi pelacur?" Suara Ansel terdengar keras Saat Karin memasuki ruang tengah. Pria itu tampak begitu marah berdiri sambil menatap Bella yang sedang berlutut. "Mau kamu apa Bell? Semua sudah Daddy kasih. Daddy luangkan waktu untuk kamu. Semuanya perhatian sama kamu. Mau kamu apa ha? Kamu mau hidup sendiri? Hidup seenaknya? Kamu nggak butuh Daddy lagi?" Bella menggeleng masih sambil menangis. "Dasar anak tidak tau diuntung." Ucap Ansel hendak menampar gadis itu namun tangannya di tahan dengan seseorang. "Jangan lakukan itu." Karin menatap suaminya penuh permohonan. "Bell. Kamu pergi dulu." Ucapnya. Tak banyak bertanya Bella hanya menurut beranjak meninggalkan kedua orang tuanya.


Karin mengajak suaminya untuk duduk agar pira itu lebih tenang. "Jangan pernah gunakan tangan kamu untuk menyakiti putri kamu Dad. Akibatnya bisa fatal." Ucap Karin mengusap lengan Ansel dengan lembut. "Aku merasa gagal jadi orang tua." Ucapnya memeluk sang istri yang selalu memberikan ketenangan. "Anak adalah ujian. Kita perbaiki semuanya. Yang penting sabar. Bicarakan baik baik." Ansel menghela napas kemudian mengangguk menyetujui apa yang diucapkan sang istri.


Karin meletakkan Isam di ranjang. Bayi tampan itu baru selesai mandi. "Jangan nanti Daddy bangun." Ucap Karin pelan saat anaknya merangkak menghampiri Ansel yang tertidur pulas. "Sudah mandi ya." Ansel membuka mata kemudian memeluk putranya yang sedang duduk. "Kamu kebangun ya." Karin merasa tidak enak. "Iya. Cium bau wangi dari bayi ini langsung bangun." Jawabnya sambil duduk kemudian mencium bibir lembab istrinya. "Anaknya dah mandi sekarang Daddynya juga mau dimandiin dong Mom." Ansel mulai manja. "Yang jagain Isam siapa?" Tanya Karin. "Kalo gitu tunggu Isam tidur." Jawab Ansel merebahkan tubuhnya lagi di ranjang sambil menarik sang istri membuat wanita itu ikut terjatuh. "Aku beli lingerie buat kamu Mom." Ucapnya sambil memeluk Karin dengan Isam tengah tengah keduanya. "Kenapa beli lagi beli lagi. Kan banyak yang belum kepakai." Karin protes karena suaminya buang buang uang. "Hey aku nggak akan miskin hanya karna beli baju dinas kamu." Ansel mulai menggoda memainkan rambut indah istrinya dan Karin tau itu adalah sebuah kode untuk melakukan sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2