
Pagi hari Ansel sudah berada di rumah sakit untuk memeriksakan kondisi mata sang istri. "Saya kemarin minta dokter perempuan." Ucap Pria itu tidak terima istrinya akan di periksa oleh laki laki. "Dokter perempuan sedang keluar Tuan. Saya yang akan menggantikannya." Jawab seorang pria sedikit takut. "Saya tidak peduli. Saya beri waktu 10 menit. Jika tidak saya akan meluluhlantahkan rumah sakit ini." Ansel menekankan setiap kata katanya. "Dad." Tegur Karina pelan membuat pria itu menghela napas guna menetralkan emosinya.
"Sudah lebih baik?" Tanya Ansel menggandeng tangan istrinya. "Sudah." Jawab wanita berkacamata itu sembari masuk ke mobil. "Kita ke kantor ya." Karina mengangguk menuruti apa kehendak suaminya. Jujur saja kemarahan Ansel yang tadi membuatnya takut. Pria itu sangat dominan, tegas, keras kepala dan Karin menyadari itu sepenuhnya. "Kenapa diam saja hm? Ada yang salah? Atau kacamatanya kurang nyaman?" Ia bertanya sembari mencium tangan sang istri yang senantiasa di genggam. "Tidak. Hanya haus." Jawab Karina spontan. Ansel mengulas senyuman. Ia mengambil sebotol air lalu membukanya dan memberikan pada sang istri.
Seluruh karyawan menyambut kedatangan Ansel yang berjalan sembari merangkul mesra pinggang seorang wanita cantik dengan pakaian tertutup. Tak sungkan juga Pria itu memberikan beberapa ciuman di depan semua orang. Hal yang sama sekali belum pernah terjadi dalam sepanjang sejarah si Bos bersikap sedemikian manisnya. Bahkan dengan Bella putri satu satunya pun tak pernah terlihat berjalan bergandengan dengan sang Ayah. Kejadian semacam ini membuat semua orang bertanya tanya tentang hubungan keduanya. Apakah keponakan atau sebenarnya bosnya itu mempunyai dua putri? Jika istri tidak mungkin bukan? Selain terlalu muda juga pakaian perempuan itu tak cocok dengan perangai Ansel yang tidak perlu dijelaskan lagi. Namun mereka juga enggan mengungkapkan karena takut akan bernasib naas sama seperti dua wanita kemarin. "Istri Bos." Bisik salah seorang membuat mereka membulatkan mata. Seorang Ansel memiliki istri seperti itu? Dapat darimana? Melihat pria itu memperlakukan Istrinya seperti ratu dan ekspresi sang istri yang terlihat kesulitan sudah dapat mereka simpulkan. Bosnya adalah orang pemaksa. Jadi dapat darimana dan dengan cara apa mereka sudah dapat mengira ngira jawabannya.
Ansel tersenyum mengamati sang istri yang sedang sibuk menikmati cemilan. Demi membuat wanita itu nyaman Ia menyediakan kulkas besar di ruang kerjanya dan mengisi dengan berbagai macam makanan serta minuman. Ia tak bisa menahan lagi rasa gemasnya berdiri dari kursinya lalu ikut duduk bergabung dengan Karina. Tak banyak bicara Ansel memberikan ciuman pada pipi chubby sang istri seketika membuat wanita itu menoleh. "Bosan disana." Ucap Ansel menyandarkan kepala di bahu Karina dengan nyaman sembari mengerjakan berkas yang sedaritadi hanya diamati saja.
__ADS_1
Ansel masih menunggu istrinya yang sedang sholat. Rencananya sebelum pulang nanti mereka akan mampir dulu untuk makan siang. "Sudah selesai?" Tanya Pria itu berdiri menghampiri lalu memeluk istrinya. "Sudah." Jawab Karin sambil membenarkan kacamatanya yang agak miring karena ulah sang suami. "Ayo berangkat." Ucap Pria itu menggandeng tangan istrinya untuk diajak berjalan bersama.
"Mom mau makan apa?" Tanya Ansel yang kini sudah duduk di salah satu ruangan VIP di restoran ternama. "Kwetiaw goreng minumnya es jeruk." Jawab Karin setelah beberapa saat melihat buku menu. "Ada yang lain lagi?" Ansel memastikan di tanggapi gelengan oleh Istrinya. "Baiklah. Kwetiaw goreng dua dan es jeruk dua." Ucapnya memesan pada pelayan. "Baik." Jawab Mereka bergegas pergi.
Karin mulai menyantap makanannya setelah selesai berdoa. "Kenapa tidak makan?" Tanya wanita itu melihat sang suami hanya diam mengamatinya. "Mom duluan." Jawab Ansel sambil tersenyum. "Sini Daddy suapi." Ia menarik piring istrinya mulai menyuapi dengan telaten.
"Kamu kenapa Bell?" Tanya Karin melihat putrinya baru pulang dari sekolah dengan wajah pucat. "Nyeri haid." Jawab gadis itu sembari memeluk. "Bersih bersih dulu terus istirahat ya. Tunggu di kamar." Ia bergegas pergi setelah mengusap kepala Bella.
__ADS_1
Ansel berjalan cepat mengejar istrinya yang tergesa gesa menuju dapur. "Mau ngapain Mom?" Tanya Pria itu. "Bella perutnya sakit karna haid." Jawab Karin sambil menyiapkan air hangat dalam botol dan obat pereda nyeri lalu meletakkannya di nampan yang sudah tersaji makanan. "Biar Daddy yang bawa."
Karin dan suaminya memasuki kamar Bella. "Diminum dulu." Ucap wanita itu membantu putrinya duduk dan minum obat lalu menyeka perut Bella dengan botol air hangat yang sudah disiapkannya tadi. "Sudah enakan?" Tanya Ansel. "Sudah. Makasih Mom." Ucapnya sambil tersenyum. "Daddy mandi dulu kalau gitu." Ia mengecup kening istrinya kemudian bergegas pergi.
"Gini ya Mom rasanya punya Ibu." Ucap Bella yang sedang makan disuapi Karina hanya ditanggapi senyuman oleh wanita itu. "Beruntung Bella cita citanya punya Ibu seperti Mom terwujud." Lanjutnya lagi. "Kamu senang?" Tanya Karina di tanggapi anggukan cepat. "Sangat senang. Tidak ada yang menyenangkan selain ini." Jelasnya penuh kejujuran.
Selesai menyimpan piring kotor di dapur Karin menemani Bella istirahat karena gadis itu meminta. "Mommy mu sudah tidur." Ucap Ansel yang duduk di pinggiran ranjang. "Iya. Mom tidur duluan." Jawab Bella pelan sembari mengusap wajah cantik sang Ibu. "Jangan buat Mom bangun." pesannya mengecup kening anak dan istrinya bergantian sebelum pergi.
__ADS_1