
Hari minggu pagi yang cerah. Ansel sedang sarapan bersama keluarga kecilnya. Selepas ini Ia akan mengunjungi rumah mertua yang sudah menelpon sejak kemarin karena rindu dengan Karina. "Kenapa nggak sarapan Bell?" Tanya Karina melihat putrinya menganggurkan nasi goreng di depan mata lebih memilih makan apel dan teh hijau yang masih mengepul hangat. "Nggak papa Mom." Jawab Bella menahan diri dengan susah payah untuk tidak melahap nasi goreng yang begitu menggiurkan. "Kamu diet?" Ansel angkat bicara. "Iya. Bella pengen kurus." Jawabnya. Karin menghela napas. Ia menggenggam tangan putrinya. "Nggak harus diet Bel. Kamu hanya mengontrol makan saja. Di kurangi porsinya jangan tidak makan sama sekali, juga hindari makan malam. Sekarang makan. Nggak bikin gemuk itu. Pakai minyak zaitun dan nasi merah. Telurnya pun ayam kampung. Punya kamu sudah setengah porsi loh Bel." Ucap Karin mulai menyuapi anaknya. "Mulai sekarang jangan tidak makan begitu. Nanti biar Mom yang atur porsi makan kamu." Lanjutnya di jawab anggukan cepat oleh Bella.
"Assalamualaikum." Ucap Karin memasuki rumah. "Waalaikumsalam Mbak." Abi dan Umi berhambur memeluk putrinya. "Assalammualaikum." Ucap Ansel diikuti Bella yang datang sambil membawa sesuatu. Sepasang suami istri itu sedikit terkejut namun bergegas menjawab salam menantu dan cucunya. "Waalaikumsalam. Ayo duduk." Ajak Abi. "Kafil mana Bi?" Tanya Karin belum menjumpai adiknya. "Di belakang lagi kasih makan ikannya." Jawab Umi. "Karin kesana dulu ya." Pamit wanita itu bergegas pergi membiarkan mereka mengobrol.
Kafil langsung memeluk Kakaknya begitu melihat kehadiran wanita cantik berkacamata itu. "Ikannya masih berapa sih?" Tanyanya. "Banyak. Ada lima belas. Kakak kesini kok nggak bilang bilang." Karin tersenyum. "Kejutan." Ucapnya sembari tersenyum. "Ayo beli bakso Kak." Ajak Kafil langsung diangguki oleh Karina.
"Mbak mau kemana?" Tanya Abi melihat kedua anaknya bergandengan tangan. "Mau beli bakso." Jawab Kafil. "Ayo aku antar." Ucap Ansel. "Nggak perlu. Dekat di depan. Bella mana?" Karin tidak mendapati putrinya. "Ke kamar mandi. Hati hati ya." Umi menjawab sekaligus memberi pesan.
__ADS_1
Karin telah sampai di tempat bakso langganannya. "Eh Mbak Karin. Lama nggak ketemu." Ucap Pria paruh baya itu tersenyum. "Iya Pak. Bapak apa kabar?" Tanyanya. "Alhamdulillah baik. Lagi hamil ya." Karin mengangguk. "Berapa bulan?" Tanya Istri si penjual menghampiri. "Empat bulan Bu." Jawabnya.
Ansel baru saja keluar dari gerbang rumah mertuanya untuk mencari sang istri namun pria itu sudah mendapati Karina yang berjalan pulang sambil menggandeng tangan adiknya. "Kenapa lama?" Tanyanya karena hampir satu jam Karin keluar hanya untuk membeli bakso membuat Ia khawatir. "Masih ngobrol tadi." Jawab Karin.
"Beneran nggak mau Bell?" Karin menawari lagi. "Nggak Mom. Bella masih kenyang." Jawab Bella. "Jangan lagi." Ucap Ansel mencekal tangan istrinya yang hendak mengambil sambal. "Sedikit saja." Karin menawar. "No. Sakit perutnya nanti." Pria itu tatap menolak tak menghiraukan keinginan sang istri. "Mbak hamil begini mau ikut puasa?" Tanya Umi. "Iya Mi. Kata dokter nggak papa." Jawab Karin.
"Sayang." Panggil Ansel tak mendapati istrinya berada di kamar. Baru saja hendak mencari Ia mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. "Habis cuci kaki?" Tanya Pria itu di angguki oleh sang istri.
__ADS_1
Karin meminum susu dingin buatan suaminya sampai tandas. Ketika hendak disuapi salad buah oleh Ansel wanita itu menggeleng. "Masih kenyang Dad." Ucapnya. "Yasudah sekarang tidur siang." Jawab Ansel tak ingin memaksa. Ia mengecup kening, bibir dan pipi istrinya bergantian kemudian membantu wanita itu untuk berbaring. "Nggak capek Dad. Nggak usah dipijit." Karin melayangkan protes saat Ansel memijit kakinya namun pria itu tak menghiraukan.
Karina sudah tertidur pulas dalam pelukan suaminya. Tangan Ansel yang sedaritadi mengusap punggung sang istri berhenti sejenak untuk menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik Karina. "Maaf memaksa untuk menjadikanmu milikku. Namun percayalah ini semua aku lakukan karna aku sangat mencintaimu." Lirih Ansel.
"Sayang." Ucap Ansel yang baru bangun langsung berlari memeluk Karin yang keluar dari kamar mandi. "Ada apa?" Tanyanya sedikit tersentak dengan pelukan Ansel yang tiba tiba. "Mau spaghetti." Rengeknya terdengar manja. "Iya aku buatin. Daddy mandi dulu bajunya sudah siap." Jawab Karin berusaha melepaskan pelukan suaminya. "Mandiin." Ia enggan untuk jauh dari sang istri.
Ansel tak mau duduk. Pria itu terus memeluk istrinya yang sibuk masak. Ia meletakkan kepalanya di pundak Karin dengan nyaman sambil sesekali mendusel di ceruk leher sang istri. "Sudah matang. Duduk dulu." Ucap Karin. "Nggak mau." Jawab Ansel cepat.
__ADS_1
Karin menyuapi suaminya karna pria itu yang meminta. "Pelan pelan Dad." Ia terkejut karena saking lahapnya Ansel seperti tidak mengunyah melainkan langsung telan saja. "Duduk yang benar Dad." Lanjutnya menegur Ansel sedaritadi terus menempel. "Begini nyaman." Jawab Ansel enggan merubah posisi. "Iya kalo makan yang baik." Ucap Karin dengan lembut dan akhirnya sang suami menurut meskipun tangan pria itu masih merangkul pinggangnya.