Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Merenggut


__ADS_3

Karina merasa aneh dengan suasana mansion yang sepi. Manik gadis itu tak sengaja menangkap semua pekerja yang berkumpul di halaman belakang. Beberapa langkah mendekat Ia dikejutkan dengan suara tamparan keras diikuti makian dan bentakan dari seorang pria. "Kalian benar benar tidak becus. Bodoh, bagaimana kalian lalai dan membuat calon istriku kabur kemarin. Bodoh. Dia sampai tak sadarkan diri." Ucapnya menambah pukulan hingga seseorang mengeluarkan darah dari sudut bibirnya. Karina berjalan cepat mendekat. "Jangan lakukan itu." Ansel seketika berhenti ketika hendak melayangkan pukulan lagi. "Kembalilah ke dalam. Aku hanya memberi mereka sedikit pelajaran." Ucap Ansel. "Karin mohon jangan lakukan. Ini salah Karin Om. Jangan sakiti mereka." Pinta Karina. "Aku mohon." Lanjutnya lagi. Ansel tampak menghela napas. Pria itu akhirnya melakukan apa yang menjadi keinginan gadis di depannya.


Dua orang tampak makan bersama dalam satu meja. "Kenapa tidak makan hm?" Tanya Ansel melihat Karina tidak begitu berselera. "Tidak." Jawab gadis itu buru buru memasukkan satu sendok makanan ke dalam mulut. "Apa pergelangan Kaki masih sakit?" Karin menggeleng karena mulutnya sedang mengunyah. "Setelah ini apa boleh jalan jalan?" Ia bertanya sambil menunduk. "Apa aku di bawah sana sehingga kamu begitu." Karin dengan cepat menggeleng lalu menatap lawan bicaranya. "Boleh. Kita akan jalan jalan setelah kamu menghabiskan makan siangmu." Jawab Ansel sambil tersenyum.


Setelah makan siang Keduanya jalan jalan ke sungai yang pernah mereka kunjungi. "Apa kamu pernah menyukai atau menaruh rasa pada seseorang?" Tanya Ansel sembari menatap wajah cantik Karin yang sedang memandang lurus ke arah depan. "Belum pernah." Jawabnya dengan ekspresi datar. "Percaya atau tidak, aku hanya pernah sekali jatuh cinta dan itu padamu." Ucapnya membuat Karin menoleh menatap wajah pria matang di sampingnya. Ia menelisik dan ternyata hanya ada sebuah keseriusan dalam ekspresi Daddy sahabatnya itu.

__ADS_1


Karina memasuki kamar setelah dari dapur sebentar. Ia melihat sebuah ponsel tergeletak di meja. Ia melihat sekitar yang tampak sepi dan terdengar suara gemercik air dari kamar mandi menandakan Ansel sedang sibuk di dalam sana. Perlahan tapi pasti dengan keberanian mengambil ponsel itu dan membawanya agak menjauh.


"Apa paswordnya?" Gumam Karin sembari mencoba berkali kali. "Tidak mungkin tanggal lahirku." Ucap gadis itu namun di luar dugaan ternyata benar. Tak mau berlama lama Karina langsung membuka kontak untuk menemukan nomor Abi nya. Beberapa kali mencoba namun tidak di angkat Ia beralih menghubungi Bella. Saat panggilan terhubung saat itu pula mulutnya di bekap tangan besar hingga Ia tak bisa berkata kata. "Hallo Dad..." Suara dari sebrang sana terdengar. "Iya. Daddy hubungi nanti." Ucapnya mengakhiri panggilan dan membuang ponselnya asal.


"Apa kamu mencoba kabur ha?" Bentak Ansel sudah menindih tubuh ramping Karina yang terlentang di atas ranjang. "Lepaskan Karin Om. Jangan begini." Lolos sudah air mata gadis itu mengalir membasahi pelipisnya. Ansel tak akan luluh. Ia mencengkram kedua tangan Karina yang sedang memberontak lalu mencium bibir mungil yang menggoda di depannya dengan penuh gairah sembari tangan yang lain melepas jilbab gadis itu. Ansel tersenyum membelai dan menghirup rambut indah Karina yang baru pertama kali Ia lihat. "Ku mohon jangan." Dengan sekuat tenaga memberontak saat tangan kekar ansel membuka bajunya dan membuang ke sembarang arah. "Sangat indah. Akan aku lakukan sesuatu agar kamu tetap bersamaku." Ucap Pria itu memandang kulit putih mulus Karina dengan tatapan penuh hasrat.

__ADS_1


"Akan sakit sebentar." Ansel mengarahkan miliknya yang sudah menegang sedari tadi untuk memasuki lubang kenikmatan milik Karina. Pria itu tampak sangat kesulitan dan masih berusaha tak memperdulikan Karin yang merintih kesakitan. "Akh....Sakit." Teriak seorang gadis yang kini sudah kehilangan kesuciannya karena benda tumpul di bawah sana telah berhasil merobek pertahanannya dalam berkali kali percobaan. Karin mencengkram tangan Ansel yang sedang tertaut pada tangannya sembari menangis kencang. Ia berdosa, Ia kotor sekarang. "Jangan menangis. Kita akan menikah besok." Ansel menenangkan sembari meraup bibir mungil itu untuk mengalihkan rasa sakit di bawah sana karena Ia akan bergerak perlahan.


Ansel menggulingkan tubuh lelah dan berkeringatnya di samping Karin. Pria itu baru mencapai pelepasannya. Semua hasrat yang selama ini di tahan selama ini akhirnya tersalurkan dan itu sangat nikmat. Ia memeluk tubuh gadis yang masih polos di sampingnya dan mengecup pundak mulus itu beberapa kali.


"Akh." Karina merasakan sakit di bawah sana. "Mau kemana?" Tanya Ansel baru terbangun dari tidur. Karin tak menjawab. Gadis itu menangis lagi. Betapa hina dirinya melakukan zina seperti ini. Ia tak bisa membayangkan bagaimana kecewa kedua orang tuanya nanti. "Abi. Umi." Lirihnya. "Aku akan bicara dengan mereka. Sekarang ayo mandi agar lebih baik." Tanpa mendapat persetujuan Ansel menggendong Karina untuk dimandikan.

__ADS_1


Ansel mengganti sprei membiarkan Karin berganti baju. Pria itu tersenyum melihat noda darah di sana. Mengingat pergulatannya tadi membuat Ia menginginkan lagi. Namun logikanya juga masih jalan dan tak mau memaksa yang akhirnya akan membuat Karin semakin tertekan.


"Ayo makan." Ucap Ansel hendak menyuapi Karina namun di tolak. "Makan atau aku akan melakukannya lagi." Bentaknya. Karin mau tak mau membuka mulutnya menerima suapan dari Ansel. "Besok aku akan menjemput kedua orang tuamu. Kita akan melangsungkan pernikahan." Karin menggeleng. "Aku tidak mau." Jawabnya. "Kamu sudah tidak perawan lagi. Bagaimana jika kamu mengandung? Apa kamu mau melihat anak itu tanpa Ayah?" Karin menatap tajam pria di depannya. "Itu lebih baik." Jawabnya bergegas pergi. Ansel meletakkan sendoknya dengan kasar. Ia tersulut emosi karena dalam keadaan seperti ini Karin masih enggan bersamanya.


__ADS_2