
"Ayo turun Dad." Ucap Karin saat mobil yang ditumpanginya bersama sang suami sudah terparkir mulus di halaman rumah. "Dad." Ulang wanita itu karena suaminya melamun. "Ah iya. Apa?" Tanyanya gelagapan. "Sudah sampai. Ayo turun." Ansel mengangguk segera menyusul.
"Assalamualaikum." Ucap Karin memasuki rumah diikuti suaminya. "Waalaikumsalam cucuku." Serang pria paruh baya yang masih tampan dan bugar berperawakan tinggi gagah dengan wajah blasterannya langsung berhambur memeluk Karina. "Kakek merindukanmu sayang." Ucapnya. "Karin juga kangen Kakek." Jawab wanita itu sambil membalas pelukan.
Ansel tersenyum kemudian mencium tangan Kakek setelah kedua orang didepannya melepaskan pelukan. "Kakek apa kabar?" Tanyanya ramah. "Baik." Jawab Pria paruh baya itu singkat kemudian mengajak Karina untuk segera duduk. Ansel tal banyak protes. Jika saja bukan orang yang harus di hormatinya maka Ia akan mengumpat. Namun sayangnya Kakek Karin menjadi orang terpenting dalam jajaran keluarga besar Shahab. Sang penguasa itu menduduki puncak silsilah keluarga dan menjadi yang paling dihormati jadi Ansel tak berani macam macam.
__ADS_1
"Kamu nggak ke kantor?" Tanya Kakek Karin pada Ansel berniat agar pria yang telah melukai cucunya itu cepat pergi. "Iya Kek." Jawab Ansel sadar diri jika diusir dengan halus. "Aku berangkat dulu." Ia mengecup kening istrinya dengan lembut kemudian segera berpamitan karena tak tahan dengan situasi canggung di antara dia dan Kakek Karin.
Ansel baru sampai di ruangannya kemudian langsung duduk dengan nyaman di kursi. "Huft..." Ia mengeluarkan napas kasar dari mulut mengingat pertemuannya dengan Kakek Istrinya yang selalu saja tidak berjalan mulus. "Dari sorot matanya dia sangat membenciku." Gumamnya pelan mengingat tatapan pria paruh baya itu yang begitu membara penuh kemarahan dan kebencian yang siap menelannya hidup hidup. Tak heran. Ansel malah menganggap jika Kakek istrinya itu masih memiliki hati. Jika saja Ansel di posisinya maka Ia tak segan akan membunuh siapapun yang telah melukai orang yang begitu dicintai dan dijaga dengan baik. Dampak perbuatan yang dilakukan Ansel begitu besar. Amarah sang Kakek baru bisa di redam belum lama ini. Bahkan pria paruh baya itu mendiami anak dan menantunya karena telah gagal menjaga Karina. Kalaupun jika bukan karena sang cucu yang meminta agar memaafkan mungkin sampai sekarang pria itu tak sudi hanya untuk sekedar berbicara dan akan tetap berniat membawa Karin pergi.
Beberapa saat memejamkan mata Ansel menegapkan duduknya ketika mendengar pintu rungan terbuka. "Aku kira siapa." Ucap Pria itu melihat kedatangan sekertarisnya. "Ada meeting tuan." Ucap Damian menyampaikan. "Jam berapa?" Tanya Ansel. "Lima belas menit lagi." Pria itu menganggu kemudian ikut duduk bergabung di sofa untuk sekedar mengobrol dengan tangan kanannya.
__ADS_1
Ansel menghampiri keluarga yang sedang asyik bertukar cerita sambil tertawa. Pria itu duduk di dekat mertuanya setelah mengucapkan salam karena Karin sudah duduk bersama Kakeknya dan Ansel cukup tau diri agar tidak nimbrung. "Ansel." Panggil Kakek dengan suara tegas. "Iya Kek." Jawabnya sambil menatap pria paruh baya itu takut takut. Abi yang menyadari ketidaknyamanan menantunya menepuk punggung Ansel untuk menenangkan. "Setelah lebaran nanti Aku akan membawa kedua cucuku ke Arab untuk liburan. Hanya mereka berdua yang lain tidak boleh ikut termasuk kamu." Ucapnya. Ansel tak bisa menjawab hanya terbengong. Harus pisah dengan istrinya? Bagaimana mungkin? Beberapa jam tanpa Karin saja hidupnya hampa. Apalagi jika terpisah lama. Oh Ansel tidak bisa membayangkan itu. "Yah. Karin kan lagi hamil." Abi mencoba membantu Ansel. "Dokter bilang tidak masalah. Ayah kangen menghabiskan waktu dengan cucu. Apa kamu melarang Ayah?" Abi mengehela napas. Jika mau sesuatu Sang Ayah memang tidak bisa diganggu gugat. "Tapi kan kita tidak tenang kalau Karin jauh dari kami." Umi ikut angkat bicara. "Oh. Kamu meragukan Ayah tidak bisa menjaga cucu Ayah?" Umi menggeleng tak mau membantah.
"Kenapa tidak buka puasa disini saja?" Tanya Kakek masih memeluk cucunya yang hendak pulang. "Anak anak kan di rumah Kek. Nggak enak kalau harus buka puasa sendiri. Apalagi Karin sudah janji mau masakin rendang." Jawabnya sembari mengusap kepala Kafil yang juga memeluknya kemudian segera berpamitan.
Ansel memeluk istrinya yang sedang sibuk menyiapkan makanan di atas meja. "Kenapa?" Tanya Karin menatap wajah sang suami yang muram sejak pulang tadi. "Bagaimana bisa aku jauh darimu. Tidak bisa ya membatalkan niat Kakek untuk membawa kamu pergi?" Tanyanya meloloskan bulir bening. "Sudah aku coba tapi keputusannya tetap sama. Sabar. Hanya beberapa hari saja." Jawab Karina mengusap air mata suaminya.
__ADS_1
Meskipun lebaran masih beberapa hari lagi namun di taman belakang rumah Ansel sudah heboh memainkan kembang api. Sebenarnya hanya Shie yang minta namun Bella juga ikut ikutan main. "Jangan lari lari nanti jatuh." Tegur Karin saat Shiena berlari ke arahnya. "Sudah habis." Bella ikut duduk bersama kedua orang tuanya.
"Mama, kenapa semua keluarga tidak menyayangi Shie?" Tanya gadis itu membuat mereka yang mendengarnya membeku. "Mereka sayang Shie kok." Jawab Karin sembari mengusap pipi gadis kecil di depannya. "Mama bohong. Buktinya mereka selalu mengatakan jika tidak menginginkan Shie hingga Papa harus keluar dari keluarga demi untuk mempertahankan Shie." Ucapnya. "Jangan sedih. Kan sudah ada Papa, Paman, Mama, Kak Bella dan Abi, Umi juga boleh Shie anggap sebagai Kakek Nenek Shie sendiri." Karin mengusap punggung gadis itu. "Terimakasih. Shie tidak pernah merasa sebahagia ini." Ungkapnya sambil tersenyum.