Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Wisuda


__ADS_3

Waktu berlalu dengan cepat. Karin di sibukkan dengan kegiatannya sebagai Ibu rumah tangga mengurus putrinya yang kini sudah berusia tiga tahun dan Abrisam yang kini sudah bersekolah. Hari ini Ia dan keluarga akan menghadiri acara wisuda Bella yang telah lulus dari jenjang S1 dengan waktu yang cukup lama.


Karin menggandeng tangan kedua putra putrinya agar adil karena jika menggendong salah satu pasti yang satunya akan rewel. "Daddy mana Bel?" Tanya wanita itu karena Bella duduk menunggu sendiri di ruang keluarga.


"Lagi terima telpon sebentar tadi Mom. Kita disuruh ke mobil dulu."


"Yasudah ayo." Ajak Karin.


Ansel masuk ke dalam mobil duduk di samping istrinya. "Maaf lama." Ucap pria itu telah membuat semuanya menunggu.


"Aduh jam tanganku kelupaan." Ansel hendak membuka pintu mobil langsung di cegah sang istri.


"Lain kali jangan grasa grusu." Ucap Karin memakaikan jam tangan suaminya.


"Terimakasih sayang." Ucap Ansel mencium istrinya yang begitu perhatian.


Isam menarik botol susu adiknya membuat gadis kecil itu merengek.


"Mas Isam." Tegur Karin.


"Maaf Mom." Ia mengembalikannya lagi.


"Memangnya enak?" Ansel ikut ikutan jahil.


"Daddy." Safa merengek memeluk Ibunya.


"Ini juga Daddy malah ikut ikutan." Karin memukul lengan pria itu.


"Safa, Daddy di pukul Mom." Ia mengadu.


"Daddy yang nakal." Jawab gadis itu membela sang Ibu.


Ansel merangkul pinggang istrinya saat memasuki tempat acara. Ia memberikan tatapan tajam pada laki laki yang menatap Karin dengan kekaguman. Ansel tau istrinya cantik. Tapi bisakah mereka menjaga pandangan dari Karin yang jelas jelas miliknya. Jika tak jaga image Ansel bisa saja mengumpat saat ini juga.


Bella menggenggam tangan Ibunya. Gadis itu tampak begitu bahagia hari ini. Meskipun tidak mendapatkan nilai yang memuaskan namun bisa lepas dari jerat pendidikan yang membuatnya pusing itu saja sudah cukup. Ia menatap foto hasil wisudanya dengan senyum yang mengembang. Ini adalah momen paling berharga yang tak akan pernah Bella lupakan. "Selamat." Ucap Karin memeluk putrinya diikuti sang suami juga.


"Terimakasih untuk semuanya. Mom, Dad." Jawab Bella menitihkan air mata bahagia.


Untuk merayakan kelulusan Bella Karin mengajak kelurga untuk makan di restoran miliknya. Bukan hanya keluarga saja. Ia sengaja menutup restoran agar karyawan juga bisa ikut makan untuk merayakan bersama. Jordan juga datang bersama Shie dan Papanya.


"Opa nggak makan?" Tanya Bella melihat Papa Jordan daritadi melamun.


"Makan kok." Jawabnya sambil tersenyum.


Dua orang sedang berbicara di ruangan terpisah. Jordan duduk di depan sang Papa menunggu pria di depannya itu untuk berbicara.


"Sebenarnya apa yang ingin Papa katakan." Ucapnya. Tanpa menjawab Pandu menyodorkan amplop di depan putranya. Jordan menatap sang Papa kemudian meraih amplop itu lalu bergegas membukanya. Pertama Jordan tidak menunjukkan ekspresi apapun lalu pria itu membulatkan mata saat membaca lebih dalam lagi. Ia tak percaya dengan semua ini.

__ADS_1


"Apa maksudnya Pa?"


"Maafkan Papa Nak."


"Papa keterlaluan. Aku tidak menyangka dengan semua ini. Apa yang Papa lakukan di luar batas. Apa Mama tau semua ini?" Jordan menggebrak meja membentak Papanya karena tak mampu menahan emosi.


"Kami pamit dulu." Ucap Jordan buru buru mengajak putrinya pulang.


"Kenapa buru buru Om. Apa terjadi sesuatu?" Tanya Karin.


"Tidak. Hanya ada keperluan mendadak. Kami pulang dulu ya."


"Ya hati hati " Jawab Karin tampak kebingungan dengan sikap Jordan yang tiba tiba.


"Om apa yang terjadi?" Tanya Ansel saat Omnya terlihat terburu buru mengikuti Jordan.


"Tidak apa. Kami hanya bertengkar kecil."


"Semuanya baik baik saja kan?"


"Ya semuanya baik. Terimakasih untuk semuanya. Om susul adik kamu dulu. Karin Om pulang dulu." Pamitnya.


Karin sudah berada di rumah. Wanita itu sedang membantu suaminya berganti baju setelah memastikan anak anak tidur.


"Om Jordan kenapa tiba tiba pulang begitu? Tidak bisanya." Ucap Karin heran dengan tingkah aneh sepupu sang suami.


"Nggak tau juga. Mungkin sedang ada sesuatu dengan Papanya. Tapi kalau dipikir pikir mereka akur banget. Mengherankan."


"Memangnya mau kemana?" Tanya Ansel menggenggam tangan sang istri.


"Mau ke kamar mandi sebentar. Aku mau pipis."


"Ayo aku antar."


"Apaan sih." Karin buru buru pergi membuat suaminya tersenyum.


Karin sedang duduk bersama anak anak dan suaminya di ruang keluarga. "Manis tidak?" Tanya Karin yang menyuapi anak anaknya dengan bulir jeruk yang tadi Ia kupas.


"Manis." Jawab Safa.


"Mom. Isam mau lagi." Bocah tampan itu minta di suapi.


"Iya." Karin bergegas menyuapi putranya.


"Kamu mau lagi nggak Dad?" Tanyanya.


"Udah deh. Perut aku nggak enak."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Mual. Pengen muntah."


"Kamu pucat banget. Ayo istirahat di kamar saja." Ajak Karin khawatir dengan suaminya.


Ansel mengeluh pusing dan mual mual padahal tadi baik baik saja. Entah salah makan atau apa tapi pria itu menolak untuk dipanggilkan dokter.


"Mommy Om Kafil datang." Ucap Isam yang sedang di gendong Omnya menghampiri Karin yang menemani Ansel.


"Assalamualaikum." Kafil mencium tangan Kakaknya.


"Waalaikumsalam." Jawab Karin memeluk sang adik.


"Kak Ansel kenapa?" Tanyanya melihat pria itu tengah terbaring lemas.


"Nggak tau. Rasanya pusing sama mual." Jawab Ansel.


"Aku cek dulu ya." Ucap Kafil buru buru mengambil peralatan medisnya.


Kafil mengatakan jika Ansel sedang terkena asam lambung.


"Nanti obatnya aku ambilkan. Jangan dipakai untuk makan kasar dulu dan istirahat yang cukup." Ucapnya menjelaskan.


"Terimakasih Ipar."


"Hm sama sama."


"Kamu tadi dari rumah?"


"Enggak. Tadi dari rumah sakit. Aku mau mandi ya Kak, tadi habis ada operasi aku selesai nggak langsung mandi."


"Iya. Mandi aja terus habis itu makan. Nanti Kakak carikan baju gantinya."


"Udah bawa kok."


Ansel makan di suapi istrinya.


"Besok Daddy masuk kerja?"


"Entah. Kalau belum membaik aku suruh asisten yang handle."


"Ya, kalau memang belum pulih benar jangan kerja."


"Mom. Kalau aku tua nanti kamu akan terus begini kan?"


"Ini kamu sudah tua dan aku juga terus begini." Jawab Karin membuat suaminya berdecak.

__ADS_1


"Sampai kapanpun akan terus begini Dad. Apa jawaban itu membuat Daddy tenang?"


"Iya. Terimakasih untuk semuanya." Ucap Ansel memeluk sang istri.


__ADS_2