
Usia Isam sudah genap enam bulan. Sekarang bayi tampan itu sangat aktif merangkak dan mulai belajar berjalan. "Ayo berangkat Sayang." Ucap Karin menggendong putranya saat Ansel sudah siap. Mereka akan belanja untuk membeli beberapa keperluan bersama Kafil juga. "Sama Daddy yuk." Ajaknya namun Isam malah mengeratkan pelukan pada sang Ibu.
Mereka telah sampai di Mall setelah sekitar seperempat jam menempuh perjalanan. "Mau beli apa dulu? Kafil kamu mau beli apa?" Tanya Ansel. "Nggak beli apa apa. Kafil cuman ngikut aja." Jawab remaja itu. "Kaos kaki kamu katanya hilang Dek. Kita beli yuk." Ajak Karin menggandeng tangan Kafil.
__ADS_1
Karin membeli beberapa kaos kaki lalu membayarnya. "Yang ini nanti kasihkan ke Bella. Kaos kaki dia sering ilang." Ucap Wanita itu memberikan paper bag pada suaminya. "Hm. Nanti aku berikan." Jawab Ansel miris melihat Karin begitu perhatian dengan putrinya namun sayangnya Bella tak menghargai itu.
Selesai membeli kaos kaki Karin lanjut membeli kebutuhan dapur. Wanita itu memasukkan sayuran, buah dan salmon untuk membuat MPASI untuk isam. "Sereal mau yang mana dek?" Ia menawari. "Yang coklat aja Kak. Yang dibelikan Umi kemarin kurang enak." Jawab Kafil. Karin mengangguk kemudian mengambilkan beberapa. "Daddy mau sesuatu?" Tanyanya pada sang suami. "Spaghetti aja nanti bikinin di rumah Mom." Jawab Pria itu.
__ADS_1
"Bell." Ansel menghampiri putrinya lalu ikut duduk di sebelah gadis itu. "Ini dari istri Daddy." Ucapnya memberikan dua paper bag. "Apa ini Dad?" Tanyanya. "Kaos kaki. Tadi kita belanja terus istri Ayah membelikan itu untuk kamu karna kaos kaki kamu suka hilang. Yang satunya itu spaghetti dan kue kering rasa matcha kesukaan kamu." Jawab Ansel membuat Bella menangis. "Kenapa nangis?" Tanya Pria itu. "Bella kangen Mom. Dad tolong pertemukan Bella dengan Mom. Bella mau minta maaf." Ungkapnya. "Sudah jangan menangis. Dia bukan Ibu kamu Bell. Dia orang lain yang tidak ada hubungannya dengan kamu. Dia hanya sahabat kamu yang menikah dengan Daddy karena harta. Dia perempuan yang suka tebar pesona. Untuk apa kamu menangisinya?" Ucap Ansel membuat putrinya menangis lebih kencang. "Bella salah Dad. Dia wanita baik. Bella yang salah." Jawabnya sambil sesenggukan. Ansel tak menanggapi lagi. Pria itu berdiri kemudian mengusap kepala Bella sebelum pergi.
Suara seorang wanita berceloteh membuat Ansel membelokkan langkahnya menuju ke teras belakang. "Assalamualaikum." Ucap Pria itu lalu ikut duduk bergabung bersama istrinya. "Waalaikumsalam." Jawab Karin sambil mencium tangan pria itu. "Kenapa nggak tidur siang?" Tanyanya menyandarkan kepalanya di pundak sang istri. "Isam nggak mau tidur siang tuh. Semalam tidur terus nggak bangun makannya siangnya nggak tidur." Jawab Karin kemudian berdiri menitah putranya. "Baru saja Daddy mau nyender kamu sudah minta jalan jalan saja." Protes Ansel memilih merebahkan tubuhnya dengan nyaman di sofa. "Bella apa kabar Dad?" Tanya Karin setiap kali Ansel pulang dari menjumpai gadis itu. "Ya seperti biasa." Jawabnya. "Dia nggak capek apa minta jalan terus." Lanjutnya melihat putranya begitu aktif.
__ADS_1
Karin akhirnya bisa beristirahat setelah putranya tidur pulas. "Bikin capek Mom ya kamu." Ucap Ansel mencolek pipi putranya yang tidur di tengah tengah Ia dan dan istri. "Jangan di ganggu nanti bangun." Tegur Karin. "Iya. Cuman sentuh dikit. Emm... Besok temani aku ya Mom." Pinta Ansel. "Kemana?" Tanya Wanita itu. "Potong rambut. Sama sekalian warnai sudah ada ubannya." Jawab pria itu. "Kaku mau warnai rambut?" Karin memastikan apa yang di dengarnya tidak salah. "Iya. Makin tua sementara kamu masih muda. Aku juga harus terlihat muda walaupun masih jomplang tapi setidaknya kan nggak keterlaluan." Jelas Ansel. "Mau warnai apa?" Ansel tampak berpikir sebentar. "Hitam." Jawabnya langsung di tolak oleh Karin. "Haram. Yang lain." Ucap sang Istri membuat Ansel berpikir keras warna apa yang sekiranya cocok. "Pirang? Coklat? Abu abu atau biru?" Tanyanya meminta pendapat. "Ih masa iya daddy mau warnai pakai warna biru atau abu abu. Memang Daddy mau jadi idol k pop. Ga cocok. Warna coklat aja." Karin memberi saran. "Ok. Oh iya Mom kenapa warna hitam haram?" Ia ingin tahu. "Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, diceritakan bahwa saat Fathul Makkah, ayah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Abu Quhafah, datang dengan rambut yang telah putih beruban. Jabir berkata: 'Pada hari penaklukan Makkah, Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) datang dalam keadaan kepala dan jenggotnya telah memutih (seperti kapas, artinya beliau telah beruban). Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam.” (HR. Muslim) Jadi mewarnai rambut itu boleh di lakukan bahkan dianjurkan tapi hindari warna hitam. Rasulullah juga bersabda “Pada akhir zaman nanti akan muncul suatu kaum yang bersemir dengan warna hitam seperti tembolok merpati. Mereka itu tidak akan mencium bau surga.” (HR. Abu Daud)." Jelas Karin akhirnya membuat Ansel paham. "Makasih Mom. Ada Ilmu baru setiap hari berkat kamu." Ucapnya mencium kening wanita cantik itu dengan lembut.