
Bella tersenyum karena Karin membangunkannya seperti dulu. Momen yang begitu Ia rindukan dari sang Ibu. "Ayo bangun. Sholat terus kamarnya di bereskan." Celoteh wanita itu mendekati ranjang putrinya setelah membuka gorden kamar. "Sudah bangun Mom." Ucap Bella langsung duduk lalu memeluk pinggang sang Ibu. "Jangan tinggalin Bella." Karin menghela napas mengelus lembut kepala anak gadisnya. "Ayo segera sholat. Aku harap kamu tidak lupa bagaimana cara sholat." Jawabnya. Bella mengangguk. Ia lalu berdiri mencium Ibunya dan bergegas pergi untuk melaksanakan perintah wanita itu.
"Bella sudah bangun?" Tanya Ansel memeluk istrinya yang sedang sibuk memakaikan pakaian untuk Isam. "Sudah." Jawabnya kemudian menggendong bayi tampan itu setelah siap. "Bantu aku bersiap Mom." Karin menghela napas. Wanita itu meletakkan anaknya di karpet kemudian memakaikan suaminya kemeja. "Sebentar sayang. Daddy kamu lagi manja tuh." Tutur Karin melihat Isam memeluk kakinya. "Daddy pinjam Mom dulu Sam. Sama kamu mulu jadi lupa sama Daddy." Ansel memeluk istrinya membuat wanita itu kerepotan. "Jangan banyak tingkah Dad." Tegur Karin agar pekerjaannya biar cepat selesai.
Semuanya sedang sarapan bersama di ruang makan. "Kamu kena skorsing berapa hari?" Tanya Ansel pada putrinya. "Seminggu Dad." Jawab gadis itu sedikit takut dengan tatapan Sang Ayah. "Gunakan untuk belajar. Sebentar lagi ada ulangan tengah semester." Tutur Karin sambil menyuapi putranya. "Iya Mom." Jawab Bella patuh. "Sudah habis sayang. Apa kamu belum kenyang?" Tanya Karin membersihkan bibir Isam. "Pengen Asi ya." Ansel memainkan tangan putranya. "Sudah minum sebelum mandi tadi." Karin menggendong putranya untuk diajak jalan sebentar agar tenang.
__ADS_1
Ansel sudah sampai di kantor bersama Istrinya. "Aku meeting sebentar. Jangan keluar." Ucap pria itu mengecup kening dan bibir istrinya dengan lembut. "Tolong titip Mom ya sayang. Mommy kamu suka nakal. Jangan biarkan Mom keluar dari ruangan Daddy." Ia memberikan kecupan juga di pipi Isam sebelum pergi.
Mood Ansel seketika memburuk ketika sampai di ruang meeting. Pria itu mengepalkan tangannya melihat salah seorang karyawati dengan pakaian minim dan begitu ketat. "Siapa kau dan dari divisi mana?" Tanya Ansel menatap tajam membuat semua yang ada disana merasakan hawa tidak enak. "Sinta Tuan. Dari divisi keuangan." Jawabnya. " Pakaian macam apa itu seperti wanita penggoda. Apa kau tidak membaca tata tertib karyawan. Keluar." Bentaknya sembari memukul meja. "Baik." Ucap Wanita itu bergegas pergi keluar.
Meeting berlangsung cepat. Hanya satu jam dan Ansel sudah kembali ke ruangannya. "Kenapa cepat sekali?" Tanya Karin berdiri dari duduk. "Tidak papa." Jawab Ansel memeluk istrinya. "Dia tidak mau diam ya. Kamu pasti capek." Lanjut pria itu melihat anaknya yang sedang merangkak. "Huft. Bikin Mommy kesal." Ansel menghampiri anaknya lalu menggendong bayi tampan itu. "Mom." Isam memanggil Ibunya sambil menggerakkan tangannya seakan ingin ikut Karin. "Sama Daddy dulu." Ucap Ansel enggan menuruti membuat putranya menangis. "Sudah cup cup...." Karin menenangkan Isam. "Sama Daddy sendiri tidak mau ya sayang. Kamu memang pilih kasih." Keluh Ansel ikut mengusap punggung putranya.
__ADS_1
Ansel mendorong troli mengikuti istrinya yang sedang memilih. "Mau apa sayang?" Tanya Karin saat tangan isam menggapai gapai. "Mau jeruk?" Ia mengambilkan satu jeruk kecil untuk di genggam putranya. "Memangnya kamu doyan hm?" Ansel mencubit pipi menggemaskan Isam. "Memang sudah boleh makan jeruk Mom?" Tanyanya. "Boleh yang manis. Sarinya saja." Jawab Karin.
"Assalamualaikum." Ucap Karin saat memasuki rumah. "Waalaikumsalam Mom." Jawab Bella berteriak sembari berlari menuju Ibunya. "Mulut kamu. Isam sedang tidur sampai terbangun awas saja." Kesal Ansel. "Maaf." Bella memelankan suaranya. "Aku ke kamar dulu." Pamit Karin buru buru membawa putranya untuk di tidurkan di ranjang agar nyaman.
"Lagi buat apa Mom?" Tanya Bella memeluk Ibunya yang sedang memasak di dapur. "Daddy minta Spaghetti. Kamu mau?" Ia menawari. "Mau." Jawab Bella. "Duduk dulu tunggu sebentar lagi." Tutur Karin.
__ADS_1
"Isam masih tidur?" Tanya Karin saat suaminya datang. Ansel langsung duduk di samping Bella lalu makan spaghetti yang sudah tersaji. "Masih. Nyenyak banget." Jawab pria itu setelah menelan makanannya. "Em... Dad. Malam nanti diajak Kakek datang ke pengajian boleh Kan?" Karin meminta izin dan tentu Ansel tak mungkin menolak karena itu keinginan Kakek sang istri. "Nanti aku antar." Ucap Pria itu. "Bella juga ikut " Sahutnya. "Yakin mau ikut? Ntar kabur lagi Kakek marah." Ansel dan Bella mengangguk mantap. "Kali ini nggak kabur lagi." Tutur pria itu bersungguh sungguh.