
Karina membuka kertas yang di berikan oleh Daddy Bella. Bau mawar semerbak di ketika jemari lentiknya membuka lipatan lipatan itu. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu Baby. Sejauh manapun kamu pergi dan sekeras apapun kamu menghindar aku akan lebih keras lagi." Gumam gadis itu membaca tulisan di dalamnya. Napas nya memburu. Kenekatan Ansel membuatnya benar benar takut. Ia tak menyangka akan di hadapkan dengan masalah serumit ini. Karin sadar Daddy sahabatnya itu bukanlah orang biasa. Ansel bergelimang harta dan berkuasa. Semua bisa dilakukannya dengan mudah.
"Kakak." Kafil berlari menghampiri kakaknya membuat Karin bergegas menyembunyikan apa yang sedang Ia baca. "Hy. Sudah pulang." Ucap Gadis itu sembari mengusap lembut kepala adiknya dengan lembut. "Sudah. Kafil bawa donat. Ayo makan." Ajaknya sambil meletakkan dus di pangkuan Karina. "Cuci tangan dulu." Tegur Umi yang baru datang. "Iya Mi." Kafil bergegas mencuci tangannya dan kembali lagi. "Cepet banget." Ucap Abi. "Iya. Mau cepat cepat makan." Ia naik ke ranjang kakaknya kemudian langsung makan sambil menyuapi Karina.
"Habis ini makan juga ya Mbak." Tawar Umi karena sedari pagi Karin tidak mau makan makanan yang di sediakan dari rumah sakit. Wanita itu sampai pulang untuk memasak dan kembali lagi agar putrinya mau makan. "Gak pengen makan Mi." Jawab Karin masih sibuk makan donat bersama adiknya. "Dari pagi Mbak belum makan loh. Ayo makan dulu. Perutnya diisi biar cepat sembuh. Ini yang masak Umi. Masa Mbak nggak mau makan." Bujuk Abi berharap Karina bisa luluh. "Karin juga sedang makan Bi. Ini nanti sudah kenyang. Makanan yang Umi bawa Karin makan nanti." Jawab gadis cantik itu membuat kedua orang tuanya pasrah.
__ADS_1
Di sisi lain Ansel sedang marah marah. Pria itu bahkan beberapa kali memberikan bogeman pada anak buahnya yang teledor. "Pergi kalian." Kesalnya mengusir beberapa pria yang berdiri di depannya dengan luka memar di wajah. "Baik Tuan." Ucap mereka bergegas undur diri sebelum Tuannya tambah marah.
Ansel duduk nyaman di singgle sofa sembari menikmati wine nya. Pria itu beberapa kali menghela napas menunggu seseorang yang tak kunjung datang. "Tuan." Seorang pria tergesa gesa menghadapnya. Ia memberikan alasan yang logis dan jujur untuk menghindari kemarahan sang Tuan. "Duduklah." Ucap Ansel langsung dilaksanakan oleh tangan kanannya.
"Bagaimana?" Tanya Ansel lalu meneguk kembali wine nya yang masih sedikit hingga tandas. Damian yang peka langsung menuangkan lagi untuk bosnya. Ia juga menuangkan sendiri untuknya karena Ansel yang menyuruh. "Semuanya sudah siap Tuan. Semuanya sudah sesuai dengan kemauan Tuan." Jawabnya lalu menjelaskan dengan detail. Ansel hanya mengangguk. Sesekali Pria itu bertanya singkat untuk mengetahui detail yang terlewat.
__ADS_1
Karina sudah sembuh. Gadis cantik itu sudah di perbolehkan pulang semalam. Ia kini sedang duduk di balkon kamar menikmati hembusan angin yang menyegarkan. "Karina." Suara Bella terdengar. Beberapa saat kemudian badannya merasakan pelukan yang begitu hangat. "Ayo makan siang. Umi mu dan yang lain sudah menunggu di bawah." Ajaknya dengan girang. "Kamu daritadi?" Tanya Karin sambil membalikkan badannya. "Tidak. Aku baru datang dan langsung di ajak makan siang." Jawabnya sambil tersenyum.
Karina tersenyum tipis menyapa Ansel yang sedang duduk sambil mengobrol dengan Abi nya. Gadis itu ikut duduk bergabung untuk makan siang bersama. "Keadaan kamu gimana Karin?" Tanya Ansel. "Baik Om. Alhamdulillah." Jawabnya. "Syukurlah. Kamu harus makan yang banyak biar cepat pulih." Ucap Pria itu di tanggapi anggukan.
Makan siang berjalan dengan di selingi obrolan obrolan ringan. "Bagaimana? Selain mengurus perusahaan sedang sibuk apa?" Tanya Abi penasaran dengan apa yang dilakukan teman barunya kare Ansel orang yang begitu tertutup. "Tidak banyak yang aku lakukan. Pulang kerja, pergi gym sebentar lalu istirahat." Jawabnya. "Apa tidak keluar bersama atau jalan jalan bersama Bella?" Pria itu menggeleng menanggapi Umi Karina. "Jarang. Bella tidak suka keluar denganku. Katanya dia lebih nyaman bersama Karin karena enak diajak ngobrol dan dimintai pertimbangan. Karin kan teman satu satunya. Dia tipikal pemilih teman." Jawabnya sambil terkekeh. "Masa teman kamu cuman Karin saja Bell?" Abi memastikan. "Iya Om. Teman Bella suka keluar keluar ga jelas. Kalau pun ada yang temenan sama Bella pasti ngajak keluar malam. Daddy nggak bolehin dan Bella juga ga mau." Jelasnya.
__ADS_1
Selesai makan Karin mengajak Bella mengobrol di kamar karena tak tahan dengan tatapan Daddy sahabatnya itu. "Karin kalau aku punya Mommy aku pengen yang kaya kamu deh." Celetuk Bella. "Kenapa?" Tanyanya untuk menutupi kegugupan. "Baik, cantik dan enak diajak ngobrol. Pokoknya aku sayang banget sama kamu. Jangan pernah tinggalin aku ya. Aku dah nggak punya siapa siapa. Daddy terlalu sibuk dengan urusannya sementara aku sendiri." Bella memeluk sahabatnya erat. "Iya." Jawab karin sembari membalas pelukan.