
Hari demi hari telah berlalu. Usia kandungan Karin kini sudah memasuki bulan ke tujuh. Wanita cantik itu kemarin baru melakukan acara tujuh bulanan di rumah Umi yang diadakan secara besar besaran. Sebenarnya Ansel ingin acara itu dilaksanakan di rumahnya. Namun karena Kakek tidak mengizinkan terpaksa Ia menurut saja jika acaranya diadakan di rumah mertua.
"Ayo berangkat sekarang." Ucap Ansel menghampiri istrinya yang sedang menunggu. Mereka akan pergi membeli keperluan untuk si kecil yang sebentar lagi akan hadir. Sebenarnya semua hadiah dari Kakek dan Umi sudah lengkap. Namun Ansel ingin merasakan momen belanja keperluan anak bersama istrinya jadi sudah selengkap apapun Ia akan bersikeras membeli lagi. "Daddy yakin? Baju bayi hanya dipakai sebentar loh. Sudah punya banyak. Nanti nggak kepakai mubazir." Jawab Karina sambil berdiri. "Iya. Nggak papa. Ayo pergi. Masa sama anak sendiri itung itungan." Sahut Pria itu sembari mengusap lembut perut istrinya.
Ansel dan Karin sudah sampai di Mall terbesar di kota. Mall milik keluarga Shahab yang dibangun tiga tahun lalu sebagai salah satu bisnis menjanjikan yang sudah di atas namakan dengan Karin sebagai pemilik sahnya oleh sang Kakek. Saking cintanya pria paruh baya itu setiap kali Karina berulang tahun selalu memberikan hadiah hadiah besar meski selalu di tolak. Maklum, Karin adalah berlian di keluarga. Begitu lama menantikan perempuan hadir di tengah tengah mereka akhirnya terwujud dengan lahirnya Karina yang memberikan kebahagiaan lengkap dan sempurna.
__ADS_1
"Yang ini bagus." Ucap Ansel menunjuk sepasang sepatu kecil di etalase. "Terlalu mahal." Jawab Karin membuat suaminya membulatkan mata. Ia tak habis pikir dengan wanita cantik itu. Jika diluar sana orang akan menghamburkan uang untuk membeli barang barang dan pakaian mewah meskipun dalam keadaan sulit sekalipun namun itu tidak berlaku bagi Karina. Jika tidak dibelikan Karin tak akan belanja apapun. Kartu yang diberikan Ansel pada sang istri juga tidak ada pengeluaran kecuali belanja rumah tangga yang tidak seberapa. "Kamu anak orang kaya dan suamimu juga orang kaya jika kamu ingat." Ansel menanggapi istrinya. "Iya. Tapi buat apa mahal mahal kalau ada yang lebih murah dengan kualitas bagus." Memang benar namun Ansel tetap tidak setuju. "Ini untuk anak kita dan aku mau yang terbaik. Jangan perhitungan." Ansel mengingatkan. "Jangan juga terlalu konsumtif." Tegur Karin karena meskipun ada dan mampu untuk membeli namun Ia selalu berhati hati dalam menggunakan uang.
Sebelum pulang Karin dam suami mampir sebentar di toko buah pinggir jalan. "Kenapa nggak di mall tadi sih Yang." Keluh Ansel sembari mengikuti langkah istrinya yang sedang melihat lihat. "Nggak ada disana." Jawab Karin mengambil kantung kresek untuk membungkus buah yang hendak dibeli. "Mau beli apa memang?" Tanya Ansel. "Kesemek." Ia mulai memilih. Ansel yang tak tahan berlama lama membantu istrinya agar cepat selesai. "Ih Dad. Ini masih mentah." Protes Karin. "Disini panas." Keluhnya. "Tunggu di mobil aja. Aku bisa sendiri." Ia sedikit kesal karna suaminya banyak mengeluh.
"Brug...." Ansel tak sengaja bertabrakan dengan seseorang saat keluar dari toko buah. "Jalan pakai mata dong." Bentak pria itu membuat lawan bicaranya ketakutan. "Maaf Tuan." Jawab bocah itu sembari membereskan barang barangnya yang berserakan.
__ADS_1
"Adek tidak apa?" Tanya Karin membantu memunguti jajanan pasar yang jatuh di trotoar. "Tidak apa Kak." Jawabnya sambil tersenyum. "Kita duduk disana ya." Ajak Karina membawanya untuk duduk di bangku yang terletak di depan ruko yang sedang tutup.
Karin mengajak bocah itu mengobrol sambil menikmati minum. "Jadi adek sekolah sambil jualan?" Tanyanya di jawab anggukan. "Iya Kak. Ibu yang buat di rumah. Bapak Reza sudah meninggal jadi Reza hanya berdua dengan Ibu." Jawabnya. "Yasudah semua ini Kakak beli." Bocah itu membulatkan matanya. "Serius?" Tanyanya. "Iya. Serius." Dengan semangat Ia lalu memasukkan semuanya ke dalam kantung kresek lalu memberikan pada Karina. "Ini uangnya." Ia terkejut di beri berlembar lembar uang ratusan ribu. "Kak. Ini hanya 50 ribu." Ucapnya. "Kembaliannya untuk kamu. Kakak minta maaf atas tingkah suami kakak tadi. Ini rezeki. Jangan ditolak." Jawab Karin. "Suami?" Gumam Reza. "Oh Om yang tadi. Sudah Reza maafkan. Terimakasih banyak Kak." Ia tersenyum sambil menangis mendapatkan rejeki yang luar biasa. "Besok sepulang sekolah datang ke alamat ini. Kakak mau bicara banyak. Kita ngobrol. Kakak pulang dulu. Hati hati di jalan. Assalamualaikum." Ucap Karina sembari meninggalkan secarik kertas kecil.
Karin langsung menuju dapur saat sudah sampai di rumah. Ia membagikan kue yang tadi di beli pada Bibi. "Terimakasih Nyonya." Ucap Mereka. "Sama sama. Aku ke kamar dulu ya." Jawab Karin sekalian berpamitan.
__ADS_1
Ansel kelabakan karena perubahan sikap istrinya. Dari pulang sampai sekarang wanita itu tak mau bicara dan hanya menjawab singkat apa yang Ia tanyakan. Karin sedang ngambek sekarang dan Ansel tau semua itu karena sikapnya tadi. Padahal Karin selalu mengingatkan untuk sabar dan tidak arogan. Namun sikap yang sudah mendarah daging tentu akan sulit diubah. "Yang jangan ngambek dong." Ucap Ansel memeluk istrinya yang sedang duduk nyaman bersandar di headboard ranjang. "Lihat Dek. Mommy marah sama Daddy." Ia berkeluh kesah pada anaknya. "Padahal Daddy kan sudah minta maaf berkali kali tapi Mommy tidak memaafkan. Mommy jahat kan." Lanjutnya. "Minggir aku mau tidur." Karin mendorong tubuh suaminya pelan lalu berbaring memunggungi pria itu. "Ish... Sayang kamu tega banget." Ansel terus saja merengek namun Karin tidak peduli. Sesekali Ia harus memberikan pelajaran pada pria itu.