Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Terimakasih


__ADS_3

Karin sedang mampir ke rumah untuk melepas rindu bersama keluarga karena dua hari belakangan tidak bertemu. "Ayo." Ucap Kafil menghampiri Kakaknya yang sedang mengobrol bersama Abi, Umi dan sang suami di ruang keluarga. "Kita berangkat dulu. Assalamualaikum." Ucap Karina berpamitan mencium tangan tiga orang itu.


"Semakin membaik ya." Ucap Abi melihat perkembangan hubungan rumah tangga putrinya. Pria itu tau Karina yang mulai bisa menerima suaminya. "Iya Bi." Jawab sang Ansel sambil tersenyum. "Dengan Bella bagaimana?" Tanya Umi takut takut Karin memperlakukan anak sambungnya itu kurang pantas atau sebaliknya karena kejadian yang tiba tiba itu mampu membuat hubungan yang renggang jadi erat dan yang mulanya baik baik saja bisa berantakan. "Sangat baik. Bella yang tidak pernah merasakan sosok Ibu tentu sangat bahagia." Jelas Ansel kemudian menceritakan kedekatan keduanya yang seperti Ibu dan anak sungguhan. Abi dan Umi lega mendengarnya. Mereka ikut mendukung hal baik ini karena bagaimanapun juga anaknya sudah berumahtangga dan sudah sepatutnya menjalankan peran sebagai Istri serta Ibu yang baik.


Kafil tiduran manja bersama kakaknya setelah menghabiskan sate dan es kelapa muda yang mereka beli tadi. "Kapan Kakak menginap lagi?" Tanyanya. Ia belum bisa menerima keadaan yang harus berjauhan dari Kakaknya lagi. Saat mendengar kabar Karin sudah lulus Ia begitu bahagia karena akan selalu bersama wanita cantik itu. Namun siapa sangka kejadian yang tak terduga terjadi membuat keduanya tak bisa menikmati waktu bersama setiap hari. "Sabtu, Minggu kan kakak menginap." Jawab Karina sambil mengusap kepala adiknya penuh sayang. "Masih kurang." Keluhnya. "Kamu main ke rumah Kakak kalo gitu." Ia memberikan saran jelas di tolak mentah mentah karena Kafil adalah orang yang paling menentang hubungan Karin dan Ansel. Menurutnya sang Kakak tidak pantas jika harus bersanding dengan pria seperti itu. Namun sangat disayangkan dengan cara kotornya pria tak tau malu yang kini telah menjadi iparnya itu mampu mengikat Karina dalam sebuah hubungan yang sah secara hukum dan agama.

__ADS_1


"Mau boba." Ucap Karina saat dalam perjalanan pulang. "Mom tadi baru minum es loh." Jawab Ansel takut istrinya batuk atau pilek. "Masih haus." Ia memainkan jemari sang suami yang sedang menggenggam tangannya. "Baiklah." Putus pria itu setelah beberapa saat berpikir. Ia kemudian memerintahkan supirnya untuk mampir membeli boba sang istri.


Dua puluh menit dalam perjalanan sepasang suami istri itu sudah tiba di rumah. "Mom." Bella langsung memeluk Ibunya hingga wanita itu terhuyung ke belakang namun dengan sigap Ansel menahan tubuh sang istri agar tidak terjatuh. "Bisa pelan tidak." Kesal pria itu dengan tingkah sembarangan anak gadisnya. "Maaf. Kenapa pulangnya lama sekali?" Tanyanya mengeluh. "Mampir ke rumah Umi tadi. Mau boba?" Tawar Karina di jawab anggukan cepat. "Makasih Mom." Ucapnya langsung minum dengan semangat. "Minum sambil duduk Bel." Tegur Karin. "Hehehe...Iya." Gadis itu langsung menggandeng tangan sang Ibu untuk diajak duduk bersama di sofa. "Mom mau istirahat dulu." Ucap Ansel menggandeng tangan istrinya untuk diajak pergi. "Daddy." Teriak Bella kesal padahal Ia ingin mengobrol.


Ansel tersenyum menyambut kedatangan istrinya. Wanita itu tampak cantik mengenakan lingerie hitam yang begitu kontras dengan kulitnya yang seputih susu. Sudah di penuhi kabut gairah Ia menggendong tubuh ringan sang istri lalu merebahkan di ranjang dengan hati hati. Di usapnya wajah cantik itu dengan jemarinya hingga turun ke bawah. "Tunggu." Ucap Karina. "Kenapa Mom?" Tanyanya. "Baca doa dulu." Jawabnya lalu menuntun sang suami.

__ADS_1


Karin mulai gelisah saat suaminya bermain di area leher dan sekarang sudah turun sampai ke dada. Pria itu tak melepaskan ciuman dengan tangan yang terus bekerja hingga telah merobek kain transparan mahal yang menutupi tubuh indah sang istri dan membuang asal. "Ugh..." Karin menggelinjang saat Ansel memainkan intinya. "Akh... Sakit." Ia meneteskan air mata sembari mencengkram erat sprei saat sesuatu masuk ke dalam miliknya. "Maaf Baby. Salurkan rasa sakit ke tangan Daddy." Ucap Ansel mengarahkan tangan sang istri untuk berpegangan pada lengan kekarnya. "Sebentar lagi tidak akan sakit." Lanjutnya sembari mengecup kedua mata istrinya lalu mencium bibir wanita itu dalam dalam. Ia mendorong lebih dalam lagi hingga terbenam sempurna membuat Karin seketika menjerit pelan.


"Ah...Ah..Ah...Kamu luar biasa Baby. Ini begitu nikmat." Rancu Ansel menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang beraturan. Karin masih memegang erat tangan kokoh sang suami untuk menahan guncangan di tubuhnya. Rasa sakit yang tadi berangsur sedikit membaik seiring berjalannya waktu. "I love you Baby. Ini sangat nikmat....Ah...." Ansel tak bisa diam. Mulutnya tak berhenti menyebut dan mengungkapkan isi hati.


"Akh..." Suara erangan panjang terdengar setelah penyatuan yang berlangsung berjam jam lamanya. Ansel menggulingkan tubuh kekarnya yang dipenuhi keringat di samping sang istri lalu mendekap tubuh wanita itu dengan erat. "Terimakasih." Ucapnya sambil berkali kali menciumi wajah cantik Karina. Hasrat yang Ia kubur sekian lama setelah Ia mengambil keperawanan istrinya telah tersalurkan dan begitu nikmat luar biasa. Hanya ingin menjadikan istrinya nyaman Ia sampai tak berani meminta untuk di layani dan terpaksa harus menyalurkan dengan tangannya sendiri. "Masih sakit?" Tanyanya. "Sedikit." Jawab Karin menenggelamkan wajahnya di dada bidang suami. "Maaf." Ucap Ansel. "Mau mandi." Pinta Karin. "Ini sudah malam Mom. Besok pagi saja." Karin menggeleng pelan. "Malam ini, biar besok bisa langsung sholat subuh." Jawabnya. "Tunggu Daddy siapkan air." Ia bergegas memakai jubahnya kemudian pergi setelah mengecup bibir sang istri.

__ADS_1


__ADS_2