
Bella membuka matanya. Gadis itu beranjak dari ranjang untuk mencari seseorang yang beberapa hari ini merawatnya di kala sakit. "Mom mana?" Tanyanya pada salah seorang pelayan yang masuk ke kamar untuk mengantarkan sarapan. "Nyonya sudah pulang Nona." Jawab wanita itu kemudian pergi meninggalkan Bella yang masih termenung. Terhitung sudah tiga bulan lebih Ia ditinggal Karina. Wanita itu tak kembali ke rumah dan Bella pun tak berani menemui karena terlalu malu. Tak di sangka saat Ia pingsan di sekolah Karin lah yang menolongnya. Membawa Bella pulang, memeriksakan ke dokter dan merawat sampai sembuh seperti sekarang. Selama itu terjadi tidak ada obrolan sama sekali. Karin hanya bertanya apa yang di rasakan dan Bella menjawab dengan canggung karena merasa bersalah.
Karin menggendong putranya yang kini sudah berusia empat bulan. Wanita itu akan menemani suaminya ke kantor sesuai dengan permintaan Ansel. "Coba tangan Mom di lepas. Daddy kan juga pengen gandeng." Protesnya saat sudah berada di dalam mobil. "Memang enak ya begitu." Ia melepaskan genggaman Isam dari jari sang Ibu malah membuat bayi tampan itu merengek. "Daddy nakal ya." Karin menenangkan putranya. "Hm... Kecil kecil sudah posesif." Ansel mencolek pipi menggemaskan putranya.
Setengah jam perjalanan sepasang suami istri itu sudah sampai di kantor. Baby Isam mendapat perhatian dari para karyawan yang menyambut kedatangan Ansel dan Karina. Mereka sesekali memuji ketampanan bayi itu dan di tanggapi senyuman ramah oleh Ibunya.
__ADS_1
"Dad nanti aku ajak Isam ke mall depan sebentar ya." Ucap Karin saat telah sampai di ruangan suaminya. "Mau apa? Ada yang pengen dibeli? Suruh orang saja." Jawab Pria itu sambil mengajak istrinya untuk duduk. "Mau beli tissue basahnya Isam. Tinggal satu pack harus stok lagi biar nggak kehabisan." Ansel mengangguk. "Tunggu nanti sama Aku. Setelah meeting kita pergi." Jawab Pria itu.
Karin mengajak anaknya untuk jalan jalan sementara menunggu suaminya selesai. Wanita itu singgah di kantin untuk membeli minuman dingin sebentar. "Nyonya mau sesuatu?" Tawar seorang wanita menghampiri Karina yang berdiri di depan lemari pendingin. "Saya mau susu dingin saja." Jawabnya sambil tersenyum. "Baik Nyonya silahkan duduk dulu." Tak mau membuat istri sang CEO menunggu Ia bergegas pergi untuk menyiapkan pesanan.
"Putra Nyonya sangat tampan." Ucapnya setelah meletakkan segelas susu dingin diatas meja. "Terimakasih Ibu." Jawab Karin sopan. Wanita itu mengangguk kemudian berpamitan membiarkan Karina menikmati minumnya.
__ADS_1
Manik mata Bella menangkap sosok yang begitu familiar sedang berjalan sambil mengobrol mengamati barang barang yang tersusun rapi di rak. Seorang pria dan wanita yang sedang menggendong bayi tampan yang tak lain dan tak bukan adalah adiknya sendiri. Isam sudah sebesar itu dan Bella baru bertemu semenjak Ibunya memutuskan untuk hengkang dari rumah.
"Kamu ngapain disini Bell? Ini masih jam sekolah." Ucap Ansel yang entah sedari kapan tiba tiba sudah berada di depannya. "Ada rapat makannya Bella pulang cepat." Jawab gadis itu. "Oh." Ansel mengangguk. "Daddy lagi ngapain?" Tanyanya. "Lagi beli tissue basah buat Isam."
Karin menghampiri suaminya. "Sudah selesai Dad." Ucap wanita itu mengabaikan Bella yang juga masih berdiri disana. "Mom." Sapa gadis itu. "Kamu sudah sembuh?" Tanya Karin. "Sudah." Jawabnya pelan. "Alhamdulillah. Kamu tidur di rumah Kamu kan Dad. Pulangnya barengan sama Bella saja. Biar aku pulang sendiri." Ucap Karin. "Kan masih nanti malam aku ke rumahnya. Pulang bareng kamu lah. Bella kan sudah ada supir." Jawab Ansel tak terima. "Dad." Tegur wanita itu. "Lihatlah Mommy mu jahat sekali." Ansel mengecup istri dan anaknya bergantian kemudian membiarkan keduanya pergi meskipun tidak rela.
__ADS_1
Ansel dan Bella sudah sampai di rumah. Di sepanjang perjalanan sampai sekarang pun keduanya sama sama diam tak bicara tentang apapun. "Dad." Panggil Bella menghentikan langkah pria itu untuk menaiki tangga. "Ada apa?" Tanyanya. "Bawa Mom pulang lagi Dad. Bella minta maaf." Ucapnya sambil menangis. "Setelah apa yang kamu lakukan. Setelah semua hinaan dan cacian untuknya kamu berpikir Daddy akan membawanya kembali kesini lagi. Kalau pun Daddy mau juga Kakeknya tidak akan mengizinkan. Semuanya berangsur baik Bell. Kini Daddy sudah bahagia telah di terima oleh Kakek dimana itu adalah hal yang sangat Daddy nantikan. Dan sekarang ketika semuanya telah berjalan baik kamu mengacaukannya. Kamu egois Bell. Kamu tidak pernah memikirkan orang orang di sekitarmu. Hanya karena omongan orang kamu membencinya. Sebegitu buta kah hati kamu. Apa kamu tidak melihat ketulusannya? Ingat ini Bell. Dia memang bukan Ibu yang melahirkan tapi kasih sayangnya padamu melebihi siapapun." Ansel menghela napas setelah mengungkapkan semuanya kemudian bergegas pergi untuk meredam kekesalan.