Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Ya Satu Saja Sudah


__ADS_3

Ansel dan istrinya sedang mengantarkan Bella untuk daftar di universitas. Pria itu memeluk pinggang Karin begitu posesif saat pandangan mata tertuju pada wanita cantik miliknya. Beginilah yang Ansel benci. Dimanapun Istrinya berada selalu menjadi pusat perhatian. Terlepas wanita itu sedang bersamanya, sendiri ataupun sedang membawa anak. Tak peduli lajang, bersuami ataupun apa statusnya. Yang jelas wajah bak bidadari milik istrinya selalu menjadi tujuan pasang mata.


Karin duduk menunggu Bella yang sedang mengisi formulir. "Bayarnya sekarang Mom." Ucap gadis itu. "Tapi disini tertulis jika harus uang cash." Lanjutnya. "Yah kalau uang cash sebanyak itu tidak ada." Jawab Karin. Ansel mengambil langkah tegas. Pria itu menyuruh putrinya segera menyelesaikan formulir yang sedang diisi. Ia tak mau berlama lama disini karena merasa tak nyaman istrinya menjadi konsumsi publik. Terlebih ada beberapa mahasiswa yang mendekati Karin dengan dalih menyapa Isam membuatnya kepanasan.


Ansel menghampiri loket biro keuangan. Pria itu menyerahkan formulir putrinya lalu menanyakan berapa nominal yang harus dibayar. "Saya pakai kartu." Ucapnya tegas. "Tapi Tuan...." Mereka tampak keberatan lalu mengangguk mendapat tatapan mengintimidasi dari Ansel.

__ADS_1


"Ayo pulang." Karin mengangguk lalu berdiri. "Sudah selesai Dad. Katanya Daddy ga punya uang cash." Ucap Bella heran. Beberapa saat kemudian gadis itu tersadar. Apa yang tidak bisa dilakukan Daddynya? Pria itu bisa merubah segalanya. Tak bertanya lagi Ia memilih untuk mengikuti kedua orang tuanya yang melangkah lebih dulu.


Ansel sedang kewalahan menenangkan putranya. "Sebentar Boy. Mommy sedang ke kamar mandi." Ucap pria itu menggendong sambil berjalan kesana kemari agar Isam lekas diam.


Karin yang baru keluar dari kamar mandi langsung menghampiri suaminya. Wanita itu dengan cekatan buru buru menggendong Isam. "Dah cup.... cupp...." Ucapnya mengusap punggung bayi tampan itu dengan lembut. "Nen." Kata Isam memainkan jilbab Ibunya. "Haish... Minta nen dia. Daddy sekarang harus kamu sisain terus ya...." Karin tak memperdulikan suaminya bergegas duduk. Ia membuka jilbab dan kancing gamis nya kemudian segera menyusui Isam.

__ADS_1


"Mom." Panggilnya begitu lembut dan penuh kasih. "Ya." Jawab Karin mengancing kembali gamisnya setelah Isam selesai menyusu. "Kamu akan selalu menemani aku kan?" Pertanyaan yang terlontar dari suaminya membuat Karin menatap pria itu lekat. "Kenapa bertanya begitu?" Ia tak habis pikir kenapa sang suami selalu meragukan kesetiaannya. "Tidak. Hanya asal bertanya saja." Jawab Ansel dengan ekspresi kesulitan. Ada guratan cemas yang tercetak jelas di wajahnya yang tegas.


Karin menggenggam tangan suaminya. Ia menatap manik mata Ansel hingga membuat pria itu salah tingkah. "Daddy meragukanku?" Tanyanya. Ansel spontan menggeleng tanda tak setuju namun ekspresi pria itu berkata lain. "Daddy. Jangan bohong. Daddy meragukanku?" Tanya Karin sekali lagi dan Ansel menggeleng pelan. "Bukan ragu. Lebih tepatnya khawatir kamu akan pindah kelain hati. Usiaku akan semakin menua dengan banyak pria muda di luar sana yang menginginkanmu." Jelasnya. Karin menghela napas. Ia menggenggam suaminya lebih erat. "Jika ada kata setia yang selama ini menjadi prinsipku maka semua itu tidak akan terjadi. Daddy suamiku dan insyaallah aku akan menemani Daddy dalam keadaan apapun dan bagaimanapun. Pertemuan kita dan perjalanan rumah kita memang tidak selalu mulus. Tapi aku hanya ingin Daddy percaya bahwa aku tidak akan pernah meninggalkan Daddy." Karin meyakinkan suaminya membuat pria itu terenyuh. Ia merengkuh tubuh istrinya lalu memeluk wanita itu dengan erat. "Terimakasih." Ucapnya. "Iya. Awas dulu nanti Isam bangun." Tegur Karin melihat anaknya yang sedang tidur di pangkuan terhimpit.


"Pelan pelan Nak." Tegur Karin mengimbangi langkah putranya yang sedang berjalan di rerumputan taman. "Hap. Kamu tidak hati hati nanti jatuh." Wanita itu menangkap lalu menggendong putranya membuat bayi tampan itu tertawa. "Duduk yuk..." Ajak Ansel merangkul pinggang istrinya. Karin mengangguk kemudian mulai berjalan ayunan.

__ADS_1


Ansel menyandarkan kepalanya dengan nyaman di pundak sang istri. "Isam mau punya adek nggak?" Ucap Karin membuat suaminya membulatkan mata. Usia Isam baru satu tahun tiga bulan dan bisa bisanya sang istri membahas tentang adik. Bayi satu itu saja membuatnya kurang belaian dari istri bagaimana jika ada lagi. Terlebih Ia tak mau melihat istrinya menderita karena hamil dan melahirkan dengan santainya Karin ingin masa itu terulang lagi. "Nggak." Ansel menjawab cepat. "Kenapa?" Karin menatap suaminya keheranan. "Ya satu saja sudah." Jawab Ansel mencari jalan tengah. "Sudah cukup satu ini saja. Punya suami punya anak satu masa mau tambah lagi. Hidup kamu nggak akan kesepian Mom." Ansel mencium pipi istrinya.


__ADS_2