Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
ExtraPart


__ADS_3

Kalau ada S2 nya setuju ngakk nih?? Coba aku kasih extra part dulu ya..


Karin sedang menyiapkan sarapan mupung anak anaknya belum bangun. Ia harus pandai pandai memanfaatkan waktu agar semuanya dapat selesai dengan baik. Memang ada asisten rumah tangga di rumah. Namun Karin yang tau anak anak dan suami menyukai masakannya memilih untuk masak sendiri di bantu Bibi.


"Bi ini sudah selesai aku tinggal lihat anak anak dulu ya." Ucapnya sembari mematikan kompor.


"Iya Bu." Jawab Mereka.


"Mas Isam sudah bangun." Ucap Karin melihat anaknya duduk di ranjang.


"Mommy." Isam buru buru memeluk Ibunya lalu memberikan ciuman di pipi wanita cantik itu.


"Mandi sekarang ya. Pakai air hangat. Setelah sarapan nanti ke rumah Kakek." Isam mengangguk. Bocah tampan itu memang patuh pada Ibunya. Karin sangat bersyukur di tengah kerepotan mengurus rumah tangga anak anak sama sekali tidak rewel.


Karin selesai memandikan Isam langsung memakaikan baju. Tak lupa Ia juga merapikan rambut tebal putranya yang menurun dari sang Ayah. "Mommy mandikan adek dulu ya. Mas Isam mau tunggu disini atau ikut?"


"Ikut Mom." Karin mengangguk lalu menggendong putranya sambil menciumi leher Abrisam membuat bocah itu tertawa kegelian.


"Daddy sudah bangun." Ucap Karin merasakan pelukan dari suaminya.


"Sudah." Jawab Ansel sembari mengecup kening sang istri kemudian duduk memangku Isam yang duduk menempel dengan sang Ibu.


"Bella tolong bangunin Dad. Aku masih menyusui Safa."


"Minta tolong Isam saja Mom. Daddy lagi malas bicara sama anak itu." Jawab Ansel karena semalam memang mengomeli anaknya.


"Iya. Temenin anaknya."


"Boy, Daddy butuh bantuan kamu. Bangunkan Kakak ya. Daddy bukakan pintunya." Isam mengangguk setuju membuat Bram tersenyum. Pria itu bergegas pergi menggendong putranya setelah memberikan ciuman pada sang istri.


Ansel membuka pintu kamar putrinya lalu menyuruh Isam membangunkan sementara Ia menunggu di ambang pintu.


"Kakak bangun. Sudah pagi." Ucap bocah tampan itu sembari menarik selimut Bella.


"Mommy mana?" Tanya Bella masih setengah sadar.


"Mommy sibuk. Ayo bangun. Kalau tidak Daddy nggak kasih uang jajan." Ansel menggelengkan kepala melihat tingkah putranya. Sudah kecil Isam begitu pandai mengancam. Menurun dari siapa lagi jika bukan dari Daddynya.


Sarapan sedang berlangsung. Karin makan sambil menyuapi Isam.

__ADS_1


"Kamu ikut ke rumah Umi nggak Bel?" Tanya Karin.


"Di rumah aja Mom. Mau ngerjain tugas kemarin belum selesai."


"Mau dibawakan sesuatu?"


"Nggak Mom."


"Mom Isam kenyang." Ucap bocah tampan itu.


"Yasudah. Susunya dihabiskan." Jawab Karin mengambilkan segelas susu hangat milik putranya.


"Dad nanti mampir ke rumah sakit dulu."


"Kenapa? Kamu sakit?" Tanya Ansel khawatir.


"Bukan. Ada cek rutin untuk kamu. Jadwalnya hari ini."


"Malas ah. Paling juga sama hasilnya."


"Mana boleh begitu. Daddy harus cek kesehatan rutin."


Ansel menggandeng tangan istrinya sambil menggendong Isam memasuki rumah sakit. Pria itu langsung menuju ke ruangan dokter langganannya karena sudah membuat janji.


"Selamat datang." Ucap Pria paruh baya itu kemudian mempersilahkan untuk duduk.


"Cek kesehatan seperti biasa Dok. Istri saya ngeyel kalau saya baik baik saja."


"Maklum Tuan. Nyonya pasti khawatir." Jawab Dokter tersenyum lalu mulai melakukan pemeriksaan.


"Sejauh ini semuanya baik baik saja Tuan. Hanya tekanan darah saja yang tinggi." Ucap Dokter sembari menyerahkan kertas hasil pemeriksaan yang telah dilakukan.


"Maklum dok. Anak sulung saya memang suka bikin darah tinggi." Ansel menghela napas. Pria itu kemudian segera berpamitan karena mertuanya sedaritadi tak berhenti menelpon.


"Assalamualaikum." Ucap Karin memasuki rumah.


"Waalaikumsalam. Kenapa lama sekali?" Tanya Kakek memeluk cucunya.


"Kek." Ansel mencium tangan pria paruh baya itu.

__ADS_1


"Masih mampir ke rumah sakit dulu kek. Cek rutin bapaknya anak anak."


"Oh. Ayo duduk." Mengabaikan Ansel Kakek langsung menggendong Isam untuk diajak ke ruang keluarga.


Ansel duduk bergabung dengan mertuanya. Pria itu mengamati istrinya yang begitu cantik luar biasa. Sudah bertahun tahun bersama namun rasa kagum Ansel untuk sang istri masih tetap sama. Ia jatuh cinta bukan hanya karena paras namun juga perangai sang istri.


"Oh. Kurang puas juga lihat tiap hari." Ucap Kakek menyindir.


"Memang tidak boleh Kek?"


"Cih... Boleh. Setidaknya ya jangan terlalu kentara. Dasar." Jawab Kakek membuat mereka tertawa.


Karin menenangkan putrinya yang sedang rewel.


"Haus kali Mbak." Ucap Umi datang menghampiri.


"Sudah minum asi Mi. Badannya anget makannya rewel." Jawab Karin kemudian duduk di sofa setelah putrinya tenang.


"Mbak mau makan pakai apa Umi bikinkan."


"Mau bakso Mi. Lama nggak makan bakso." Yasudah Umi ke dapur dulu. Nanti kalau butuh sesuatu panggil aja."


"iya Mi."


Ansel ikut duduk bergabung bersama sang istri setelah urusannya dengan mertua selesai.


"Daddy habis ngapain keringetan begitu." Ucap Karin sembari mengelap keringat suaminya.


"Huft... Habis bantu Kakek tanam lengkeng di belakang rumah. Pinggang aku sakit banget suruh cangkul tanah."


"Mandi dulu sana. Setelah itu makan."


"Nanti ya. Capek banget." Ansel menyandarkan kepalanya di bahu sang istri.


"Safa tidur?" Tanyanya.


"Ya. Baru tidur. Badannya anget."


"Kita ke rumah sakit kalau gitu."

__ADS_1


"Nggak usah. Normal kok begini. Nanti juga sembuh." Jawab Karin.


__ADS_2