
Hari ini adalah hari pertama Bella bekerja. Gadis itu sudah bangun pagi pagi tanpa harus di bangunkan lagi oleh Ibunya lagi. Ia kini sedang duduk membiarkan Karin merapikan rambutnya karena Bella ingin di kepang agar tidak risih saat bekerja.
"Mau bawa bekal atau tidak?" Tanya Karin menawari.
"Boleh Mom." Jawabnya.
"Yasudah aku siapkan dulu." Karin menghentikan langkahnya saat Bella memeluk erat. "Terimakasih." Ucap gadis itu.
"Daddy belum siap juga." Karin menghela napas saat memasuki kamar melihat suaminya masih bertelanjang dada. Pria itu tampak duduk santai sembari membaca majalah.
"Bantuin pakai baju Mom." Ucap Ansel buru buru berdiri. Karin mengangguk. Wanita itu segera mengambil kemeja suaminya lalu memakaikan.
"Mom. Tempat untuk restoran kamu sudah ada. Besok kita lihat."
"Cepet banget. Baru juga bilang kemarin."
"Mom lupa suami Mom itu siapa."
"Ya. Tidak lupa. Tuan Ansel yang terhormat." Jawab Karin membuat Ansel tersenyum.
"Untuk urusan lainnya Mom terima jadi aja. Daddy nggak mau Mom keluar urus sendiri. Di rumah aja nanti Daddy suruh orang untuk bereskan."
"Masa tidak boleh."
"No. Tidak ada bantahan." Pria itu langsung mengecup bibir istrinya yang sedang cemberut.
Ansel kini dalam perjalanan menuju kantor setelah mengalami perpisahan manis dengan sang istri. Pria itu duduk santai di kursi penumpang sembari memangku laptop untuk mengecek email email yang belum sempat Ia baca. "Mampir di Mall dulu Pak." Ucapnya. "Baik Tuan." Jawab supir pribadi itu dengan cepat.
Sampai di Mall Ansel bergegas menuju ke tempat perhiasan langganannya karena sudah reservasi tempat.
"Selamat datang Tuan." Ucap beberapa pegawai menyambut kedatangan pria itu.
__ADS_1
"Hm. Pesanan saya sudah siap?" Tanyanya.
"Sudah Tuan. Silahkan duduk dulu." Ansel mengangguk kemudian duduk di sofa yang telah di sediakan.
Beberapa orang menghampiri Ansel. Mereka menunjukkan satu set perhiasan khusus pesanan pria itu. Bukan membutuhkan waktu yang sebentar. Pengerjaan di lakukan dengan hati hati dan detail membutuhkan waktu berbulan bulan untuk menyelesaikan. Belum lagi Ansel kerap kali suka mengganti desain sesuka hati membuat mereka kesulitan. Namun sebagai pelanggan setia apalagi dengan member VIP pria itu bisa berbuat sesuka hati dan selalu mendapatkan pelayanan terbaik.
"Apakah sesuai dengan keinginan Tuan?" Tanya mereka karena Ansel tak kunjung berkomentar.
"Ya. Ganti kotaknya dengan warna hitam saja. Yang ini terlalu biasa."
"Baik Tuan." Jawab mereka bernapas lega karena pada akhirnya misi sulit pun berakhir.
"Daddy." Isam berlari memeluk Daddynya yang sudah menunggu.
"Hy Boy. Ayo kita pulang. Mommy masak enak katanya." Jawab Ansel menggendong bocah tampan itu.
"Masak apa?"
"Daddy di telpon Mom?"
"Tentu. Sebelum pulang tadi Daddy telponan dengan Mom."
"Ayo telpon lagi."
"Iya. Kita masuk mobil dulu." Jawab Ansel di tanggapi anggukan oleh putranya.
Isam berlari memasuki rumah ketika telah sampai. Bocah itu langsung ke ruang makan karena tau Ibunya ada disana.
"Mommy." Teriak Isam.
"Heh. Salamnya mana Mas Isam?" Karin menegur.
__ADS_1
"Assalamualaikum Mommy."
"Waalaikumsalam. Daddy mana?" Tanya Karin sembari membantu putranya melepas dasi.
"Disini. Kangen ya?" Tanya Ansel menggoda.
"Ya kangen. Sini peluk." Dengan senang hati Ansel memeluk sang istri. Mencium bibir wanita itu sekilas kemudian kembali lagi memeluk Karin dan kedua anaknya.
"Mom." Ansel menghampiri lalu memeluk istrinya yang sedang duduk sendiri sembari membaca majalah. Keduanya kini bisa memiliki waktu berdua setelah anak anak tidur.
"Ya." Jawab Karin.
"Ada sesuatu untuk kamu."
"Apa?"
"Tutup mata dulu janji tidak boleh di buka sebelum hitungan ke tiga."
"Iya. Aku tutup mata." Karin menutup matanya membiarkan suaminya berhitung. Hingga sampai di angka tiga dan Ansel memberi aba aba Karin baru membuka mata kembali.
"Apa ini Dad?" Ucap Wanita itu melihat kotak hitam cukup besar di atas ranjang.
"Bukalah. Itu untuk Mommy." Jawab Ansel sambil tersenyum.
Karin tak bisa berkata kata lagi. Meskipun suaminya sering memberi hadiah hadiah spesial namun yang satu ini sungguh di luar pemikirannya. Satu set perhiasan cantik yang begitu elegan dan mewah dengan batu mulia yang begitu sulit di dapat. Karin yakin harganya tak main main.
"Mommy suka?" Tanya Ansel.
"Ya. Tentu saja. Terimakasih." Jawab Karin memeluk suaminya.
"Ini sangat indah." Ucap wanita itu membuat Ansel tersenyum pasalnya sang istri selalu memuji dan menghargai apapun yang Ia berikan dan itu membuat hatinya menghangat.
__ADS_1
"Sama sama. Terimakasih telah menjadi istri dan Ibu yang baik. Semua yang aku berikan tidak sebanding dengan apa yang telah kamu lakukan untuk mendamaikan dan menciptakan cinta kasih di keluarga ini. Hadirmu membawa bahagia. Beruntung memilikimu. Istriku, Bidadari surgaku." Balas Ansel mencium istrinya dengan penuh cinta dan kasih sayang.