Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Bertemu Jordan


__ADS_3

Ansel menemani anak dan istrinya jalan jalan. Pria itu hanya mengikuti langkah keduanya yang asik berkeliling dan sesekali singgah di beberapa tempat. "Mau noton." Bella mengajak Ibunya bergegas. "Pelan pelan kenapa sih Bel." Kesan Ansel menegur karena sedaritadi putrinya itu terlalu bersemangat hingga menarik tangan Karina kesana kemari.


"Daddy ikut masuk?" Tanya Bella hendak membeli tiket. "Kamu pikir? Daddy kamu suruh tunggu di luar." Ansel berdecak menanggapi putrinya. "Kirain. Daddy kan paling malas nonton Film." Gerutu gadis itu kemudian pergi meninggalkan orang tuanya. "Capek ya." Ansel menggenggam tangan sang istri. "Enggak kok." Jawab Karin sambil tersenyum tipis.


Ansel tak menikmati film yang sedang mereka tonton. Pria itu malah sibuk menatap istrinya yang sedang fokus memperhatikan film. "Kenapa?" Bisik Karin menyadari sedaritadi di tatap suaminya. "Tidak apa. Filmnya tidak menarik." Jawab pria itu pelan menyandarkan kepalanya di bahu sang istri dengan nyaman.


Selesai nonton keluarga kecil itu singgah di salah satu restoran untuk makan siang. "Aku ke mushola dulu ya." Pamit Karin karena sudah masuk waktu dhuhur. "Ayo." Ucap Ansel ingin mengantarkan. "Tidak perlu Dad. Hanya sebentar dan juga dekat disana." Tunjuknya di sisi kanan. "Yasudah. Cepat kembali." Jawabnya membiarkan Karina pergi sendiri.

__ADS_1


"Mom kemana?" Tanya Bella yang baru kembali dari toilet. "Sholat." Jawab Ansel sembari memperhatikan pintu yang dimasuki Karin beberapa saat yang lalu.


Ansel hanya memperhatikan anak dan istrinya yang sedang makan. "Kenapa tidak makan?" Tanya Karin. "Tidak enak." Jawabnya jujur. Tidak ada yang lebih enak dari masakan sang istri membuat Ansel enggan untuk makan diluar. "Makan di rumah saja." Lanjut pria itu di tanggapi anggukan oleh istrinya.


"Kak Karin." Seorang gadis tiba tiba memeluk Karina yang sedang makan. "Shie." Jawabnya sedikit terkejut. "Shie kamu meninggalkan Papa." Suara seorang pria membuat Ansel mengepalkan tangan. "Ansel. Kau disini." Jordan menyapa. "Mari bicara." Tak menjawab Ia berdiri kemudian melenggang pergi.


Ansel menatap lawan bicaranya dengan tajam. Tak perlu menjelaskan sesuatu pun Jordan sudah tau apa yang dipikirkan pria itu. "Aku tak mengikutimu. Aku menemani anakku." Ucapnya sembari berdecak. "Aku tidak bermaksud menganggu kalian." Lanjutnya lagi kemudian menceritakan bagaimana Karin dan Shiena bisa saling kenal. "Apa ini bagian dari rencanamu?" Tanya Ansel meminta penjelasan. "Tidak. Aku bersumpah." Jawab Jordan cepat. "Setelah aku pikir pikir dendam tidak akan pernah berujung. Aku putuskan untuk berdamai saja." Ansel memincingkan mata mendengar penuturan pria di depannya. "Aku serius." Ucap Jordan.

__ADS_1


"Lain kali kita ketemu lagi." Ucap Karin sembari mengusap punggung Shiena yang enggan berpisah. "Janji?" Tanya gadis itu sembari melepaskan pelukannya. "Insyaallah." Jawab Karin mencium kening Shiena kemudian segera masuk ke mobil karena suami dan anaknya sudah menunggu. "Jangan sedih. Ayo pulang." Jordan menggenggam tangan anaknya yang masih memperhatikan mobil Ansel yang mulai menjauh.


Selesai masak Karin langsung menemani suaminya makan. "Em...Dad. Boleh balikin ponsel aku nggak. Biar kalau mau hubungi Umi lebih mudah." Ucapnya takut takut. "Boleh." Jawab Ansel. "Tapi harus ganti nomor supaya tidak ada yang hubungi lagi selain keluarga." Ia memberi syarat langsung di setujui istrinya.


Ansel menghampiri Istrinya dan ikut duduk di samping wanita itu. "Kemarilah." Ia menepuk pahanya. Karin yang sudah mengerti langsung berdiri kemudian duduk di pangkuan sang suami. "Ini. Nomornya sudah di ganti." Ansel memberikan ponsel istrinya yang beberapa minggu ini Ia bawa. "Terimakasih." Ucap Karin sambil tersenyum. "Sama sama." Jawab Ansel mencium bibir istrinya. Pria itu tiba tiba saja menggendong tubuh ringan Karin dan membawanya masuk ke dalam.


Setelah semua gorden tertutup Ansel berjalan menghampiri istrinya yang sudah dibaringkan di ranjang sembari melepas semua pakaian hingga tidak tersisa apapun di tubuh atletis pria itu. Ia menaiki ranjang mengungkung tubuh sang istri lalu mulai mencumbu sembari tangan bergerak meloloskan semua pakaian Karina. Aroma wangi dari tubuh istrinya membuat darah ansel berdesir. Gairahnya sudah memuncak tak sabar untuk segera melakukan inti dari kegiatan ini. "Ugh." Karin menggelinjang merasakan sentuhan di area sensitifnya. "Panggil namaku Baby." Bisik Ansel sensual menggigit pelan telinga sang istri. "Kenapa sempit sekali." Ucap Ansel berusaha memasukkan miliknya. "Akh..." Karin menggigit bibir bawahnya. "Jangan digigit." Ansel mencium bibir istrinya lembut sembari menggerakkan di bawah sana dengan tempo sedang.

__ADS_1


"Terimakasih." Ansel memeluk tubuh polos istrinya setelah pergulatan panas berakhir. Pria itu mencium lembut bibir mungil Karin sambil mengusap punggung wanita itu. "Dad. Ada yang ketuk pintu." Ucap Karin. "Biarin. Paling Bella." Jawab Ansel masih nyaman dengan posisinya. "Coba dilihat dulu. Siapa tau penting." Ansel berdecak segera duduk kemudian memakai jubahnya lalu pergi setelah meninggalkan kecupan lembut di bibir dan kening sang istri.


Ansel menatap putrinya kesal. "Ada apa?" Tanyanya. "Ada Om Damian di bawah. Mom mana?" Ansel menutup pintunya yang sedikit terbuka. "Lagi mandi. Temui nanti saja." Jawab Pria itu bergegas masuk lalu mengunci pintunya.


__ADS_2