Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Kamu Bukan Anak Daddy


__ADS_3

Semuanya sedang sarapan bersama di ruang makan. "Daddy tidak ke kantor?" Tanya Isam karena melihat Ayahnya menggunakan pakaian biasa.


"Tidak. Hari ini Daddy libur." Jawab Ansel sembari meletakkan cangkir tehnya.


"Kenapa tidak makan?" Karin melihat suaminya tak menyentuh sarapan sedikitpun. Ia tau pria itu sedang banyak pikiran. Namun melewatkan sarapan juga bukan hal baik apalagi Ansel punya riwayat asam lambung. Karin tak mau suaminya sakit seperti kemarin kemarin.


"Tidak lapar Mom." Jawabnya menghela napas.


"Makan walaupun sedikit saja. Kamu punya asam lambung. Jangan sampai kambuh lagi." Tutur wanita itu membuat hati suaminya menghangat karena perhatian yang diberikan sang istri menurutnya sangat manis.


"Baiklah." Ansel mengecup pipi Karina kemudian segera menyantap makanan yang sedaritadi Ia abaikan.


Selesai mengantar Isam ke sekolah, Karin, suami dan juga anak perempuannya kini sudah sampai di rumah sakit.


"Mom. Apa Kakak sakitnya masih lama?" Tanya Safa yang sedang di gendong sang Ayah.


"Nanti segera sembuh. Besok atau lusa boleh pulang." Jawab Karin sembari mengulas senyum. Ia memang yang merawat Bella selama di rumah sakit bergantian dengan Om Pandu karena Ia harus ada untuk anak anak di rumah. Sudah lima hari Bella di rawat dan kata dokter besok atau lusa gadis itu boleh pulang. Selama berada di sini tak ada satupun keluarga dari pihak Ayah kandungnya yang menjenguk. Bahkan Jordan pun tak datang. Karin paham semuanya begitu rumit dan butuh waktu bagi mereka untuk menerima kenyataan yang ada.


"Assalamualaikum." Ucap Karin memasuki ruangan Bella.


"Waalaikumsalam." Jawab dua orang yang sedang duduk bersama. Bella tampak tersenyum menyambut kedatangan Ibunya yang sejak semalam Ia rindukan.


"Om sudah sarapan?" Tanya Karin mengeluarkan kotak bekal yang Ia bawa.


"Sudah. Bella nunggu sarapan dari kamu jadi Om duluan."


"Kamu makan dulu ya Bell." Karin menyiapkan sarapan lalu mulai menyuapi Bella.


"Bagaimana keadaan kamu?" Tanya Ansel masih sama setiap datang menjenguk.


"Baik Dad. Daddy kenapa nggak nunggu Bella disini? Kok malah Opa."

__ADS_1


"Daddy lembur di kantor. Ada banyak kerjaan yang harus di selesaikan. Lagian kamu kan juga sudah di tunggu Mommy." Jawab Ansel kemudian memilih untuk duduk di sofa bersama putrinya.


Suasana kembali hening. Tidak ada obrolan apapun diantara mereka. Ansel, Pandu tak saling bicara sama sekali membuat Bella menjadi curiga.


"Kenapa pada diam? Tidak biasanya begini. Selama aku sakit kalian tidak saling bicara. Memangnya ada apa Dad?" Tanya Bella mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.


"Daddy bukan Daddy kamu Bel." Ucap Ansel membuat mereka semua membeku di tempat. Mereka tak menyangka Pria itu akan mengatakannya sekarang dan dalam keadaan seperti ini.


"Maksud Daddy apa? Daddy jangan bercanda." Bella tak mengerti dengan semua ini. Ia menatap pria yang masih duduk santai itu penuh tanda tanya.


"Mom. Jelasin sama Bella. Apa maksud Daddy ngomong begitu? Daddy bercanda kan Mom?" Tanyanya menggenggam tangan sang Ibu.


"Daddy serius Bel. Daddy bukan Daddy kamu. Kamu bukan anak Daddy."


"Terus aku anak siapa?" Bella mulai menangis dalam pelukan Karina.


"Kamu anakku Bell." Jawab Pandu.


Bella meraih amplop yang di berikan Pandu dan mulai membacanya. Gadis itu menangis lebih keras hampir tak mempercayai fakta yang ada di depan mata.


"Keluar." Ucap Bella. Karin menganggukkan kepala menyuruh Ansel membawa Om dan putrinya untuk keluar.


Bella saat ini sudah sedikit lebih tenang. Ia menatap Ibunya dalam dalam. Wanita yang selama ini memberikan dia kasih sayang layaknya Ibu kandung sendiri. Bella tak mau jika harus berpisah. Ia sadar diri bukan anak Ansel jadi tak bisa tinggal lagi dengan pria itu.


"Mom. Bisakah Aku tetap memanggilmu begitu?" Tanyanya memeluk Karin.


"Tentu saja. Tidak akan ada yang berubah Bel. Kasih sayangku kepadamu akan tetap sama. Jangan berpikir begitu. Sekarang terima kenyataan yang ada Bel. Meskipun ini berat tapi Om Pandu memang Papa kandungmu. Kamu tidak boleh membencinya." Tutur Karin memberi nasihat.


"Akan Bella coba Mom." Jawab gadis itu.


Pandu memasuki ruangan putrinya setelah Karin mempersilahkan. Pria itu duduk di samping tempat tidur Bella.

__ADS_1


"Bell. Maafkan Papa Nak." Ucapnya menggenggam tangan gadis yang masih setia duduk dengan posisi yang sama saat Ia pergi tadi.


"Papa tau Papa salah. Papa akan memperbaiki semuanya. Papa akan menjaga kamu. Kita mulai dari awal lagi. Hidup sebagai Ayah dan anak seperti yang lainnya. Kamu mau kan Bell?" Bella menatap Papanya. Ia tau selama ini pria itu sangat baik. Bella nyaman namun butuh waktu untuk menerima keadaan.


"Aku butuh waktu." Ucapnya pelan.


"Papa mengerti. Papa akan menunggu. Maaf untuk selama ini karena ketidaktahuan Papa. Papa janji akan perbaiki semua."


Karin dan keluarga dalam perjalanan pulang setelah menjemput Isam dari sekolah.


"Eskrim." Gumam Safa menatap keluar jendela.


"Di rumah ada Nak." Ucap Ansel menanggapi putrinya.


"Boba." Gadis kecil itu terus bergumam menyebut makanan dan minuman.


"Safa mau?" Tanya Isam yang sedang duduk pangkuan Ibunya.


"Iya."


"Baiklah. Kita beli." Jawab Karin menuruti keinginan putrinya.


Ansel menghela napas. Safa begitu mirip dengan Ibunya. Gadis itu tadi hanya bilang ingin Boba. Tapi pada kenyataannya hampir semua jenis makanan di beli dan sekarang telah di tata rapi memenuhi meja.


"Yakin habis?" Tanya Ansel pada putrinya yang duduk di pangku sang Ibu.


"Ada Mommy." Jawabnya sambil tersenyum.


"Kok Mommy." Karin melayangkan protes.


"Mommy yang bantu habiskan. Mommy kan hobi ngemil." Ansel tersenyum mengecup bibir istrinya.

__ADS_1


__ADS_2