
Karin kembali lagi ke kamar setelah membangunkan Bella. Wanita itu melangkahkan kaki menghampiri suaminya yang masih tertidur pulas. "Bangun Dad. Daddy kekantor nggak?" Tanyanya sembari menepuk pelan lengan kekar sang suami. "Um...Baru jam berapa sih Mom?" Ansel menggeliat memeluk pinggang ramping istrinya. Semalam tidur begitu nyenyak membuat pria itu enggan meninggalkan alam mimpi. "Hampir jam 7." Jawab Karin. Ansel mendudukkan diri mendekap tubuh sang istri. "Morning Kiss." Dengan senyuman Ia mengecup bibir istrinya berkali kali lalu menenggelamkan kepala di ceruk leher wanita cantik itu untuk menikmati aroma khas tubuh yang begitu menenangkan.
Bella sudah berpakaian rapi mengecup pipi Karina yang sedang menyiapkan makanan. "Daddy mana Mom?" Tanyanya sambil meneguk susu hangat yang tersaji di meja. "Masih bersiap. Kamu sarapan dulu nanti biar di antar pak supir. Kalau nunggu Daddy pasti telat." Gadis itu mengangguk segera memakan sarapan yang sudah di siapkan oleh Mommy nya.
Ansel baru datang langsung mencium pipi sang istri dan mengusap kepala anaknya. Pria itu menyerahkan dasi pada Karin meminta untuk dipakaikan. "Bella berangkat dulu." Ucap gadis itu mencium tangan kedua orang tuanya. "Hati hati. Bekalnya nggak lupa kan?" Tanya Karina. "Nggak Mom." Jawabnya sambil berlari karena waktu mepet.
__ADS_1
"Mau sarapan pakai apa?" Tanya Karin akan mengambilkan makan untuk suaminya. "Nasi goreng saja." Jawab Ansel sambil tersenyum. "Terimakasih." Ucap pria itu langsung menyantap makanan yang tersaji di depannya. "Nanti ke kantor antar makan siang ya." Ucap Ansel sembari menggenggam tangan Karina. Tak berani membantah wanita itu menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Baru pertama kalinya Karina mengantarkan suami berangkat sampai depan rumah. Hal itu tentunya membuat Ansel sangat bahagia. Ia tak malu sedikitpun disaksikan para pengawal dan supirnya sedang berpamitan dengan sang istri dengan memberikan ciuman dan pelukan lama sebelum masuk ke mobil. "Hati hati." Ucap Karin saat sang suami melepaskan pelukan. "Iya. Jangan lupa makan siangnya." Ansel mengingatkan lagi sembari mengecup kening istrinya untuk entah yang ke berapa kali.
Tepat pukul 11 sosok wanita turun dari mobil yang berhenti di depan sebuah gedung tinggi. Ia melangkahkan kaki masuk ke dalam. Menuju meja resepsionis yang tak jauh dari pintu utama. "Permisi Saya ingin bertemu dengan Pak Ansel ada?" Ucap Karin dengan sopan menghampiri dua wanita yang sedang sibuk berbicara. "Pak Ansel sedang ada rapat penting jadi tidak bisa diganggu. Memang ada perlu apa?" Jawab mereka bertanya dengan sinis sembari memberi tatapan seakan akan merendahkan. "Saya......" Belum sempat melanjutkan kata katanya ucapan Karin sudah terpotong. "Pembantunya ya? Pak Ansel sedang tidak bisa diganggu. Beliau sedang rapat penting." Sedikit mencubit hati namun Karin tak ambil pusing. "Tolong berikan ini ya." Ia menitipkan paper bag berisi makan siang untuk sang suami lalu bergegas pergi.
__ADS_1
Karina terkejut merasakan pelukan yang tiba tiba. "Kenapa tidak antar makan siang hm?" Tanya Ansel. Karin berbalik menatap suaminya kemudian menjelaskan bahwa resepsionis bilang Ansel sibuk jadi tidak bisa di temui. "Jadi Mommy titipkan ke resepsionis?" Karina mengangguk menanggapi suaminya. "Sialan mereka main main denganku. Siapapun itu akan aku pastikan tidak selamat." Batin Ansel sambil mengepalkan tangannya.
Ansel hanya melepas dasi, jas dan sepatunya kemudian ikut makan bersama sang istri. "Mau juga Mom." Bella baru datang mengecup pipi Ibunya kemudian ikut duduk minta di suapi sama seperti Daddy nya. "Ganti baju dulu." Tegur Ansel namun tidak dihiraukan. "Daddy juga belum ganti." Jawab gadis itu membuat Ansel berdecak kesal.
Malam hari sosok pria sedang duduk santai di ruang kerja sambil mengobrol dengan seseorang lewat pesan suara. "Aku ingin kau usut tuntas dan semuanya harus siap besok." Ucapnya kemudian mengakhiri panggilan yang sedang berlangsung. Ia menghela napas karas sembari berdiri dari duduk melangkah pergi meninggalkan ruangannya.
__ADS_1
Ansel menghampiri istrinya yang sedang mengajari Bell dengan telaten. Pria itu ikut duduk setelah memberikan kecupan singkat di kening Karina. "Hah susah Mom." Keluhnya sambil mencomot keripik kentang. "Nggak susah kalau kamu telaten. Coba dijumlahkan satu satu sesuai dengan rumusnya. Jangan biasakan juga pakai kalkulator. Kalau ketergantungan begitu sulit kamu saat ulangan. Ayo di jumlah lagi pakai perkalian silang. Kita sama sama kerjakan. Nanti di cocokkan." Ucap Karina. Bella mengangguk segera melaksanakan perintah sang Ibu.
Beberapa menit berlalu Karin masih menunggu Bella selesai. "Sudah." Ucap gadis itu kemudian mencocokkan dengan pekerjaan Ibunya. "Yey benar." Ia sangat senang berhambur memeluk Karina membuat wanita itu terhuyung ke belakang namun untung saja ada Ansel yang menopang. "Heh. Tau kamu itu berat main tubruk aja. Untung Mom nggak jatuh." Kesal Ansel. "Maaf Mom. Bella senang. Makasih sudah sabar ajari Bella." Jawabnya. "Sama sama." Karin tersenyum sambil mengusap pipi putrinya.