
Karin sedang menemani suaminya. Setelah satu minggu lebih memberikan teori berwudhu dan sholat kini pria itu akan mempraktekkannya. "Satu kali gerakan benar tiga kali cium. Bagaimana?" Tanya Ansel sebelum menyalakan kran air di depannya. "Kenapa bisa begitu?" Karin jelas terkejut dengan apa yang diucapkan suaminya. "Hadiah. Kan aku sudah belajar dengan baik." Jawab Ansel sambil tersenyum. "Lakukan saja dulu." Pria itu mengangguk. Ia lalu memulai wudhu nya. Ansel membaca basmallah secara lisan kemudian membasuh tangannya hingga ke sela sela jari sesuai yang diajarkan sang istri. Selesai itu Ia kemudian melakukan gerakan selanjutnya secara urut dan semuanya benar. "Cium." Ucap Ansel tersenyum bangga. "Sholatnya belum." Jawab Karin sambil berjalan pergi.
Ansel tersenyum mengamati wajah istrinya yang sedang fokus memakaikan Ia baju koko dan sarung. "Ingat. Daddy tidak boleh bersentuhan dengan lawan jenis ketika sudah wudhu. Karena ini hanya praktek saja tidak masalah." Karin mengingatkan. "Sama kamu juga tidak boleh? Kan istri sendiri." Wanita itu menggeleng pelan menanggapi suaminya. "Jika bersentuhannya mengundang syahwat atau keinginan bisa membatalkan. Namun lebih baik dihindari bersentuhan jika itu berpotensi membatalkan." Ansel mengangguk. "Harus pakai sarung ya?" Tanyanya merasa kurang nyaman. "Celana panjang boleh. Aurat pria itu dari pusar sampai lutut. Tapi nggak mungkin kan Daddy mau sholat hanya pakai kaos dan celana di bawah lutut. Pakai celana yang di atas mata kaki lebih baik." Jawab Karin sembari memakaikan peci. Ansel mengangguk kemudian segera berdiri di atas sajadah yang sudah di gelar istrinya. Pria itu tersenyum. Ia yakin akan menang banyak kali ini karena sudah memahami setiap gerakan dan bacaan meskipun kadang lupa. Otaknya memang cerdas. Di usia yang tak lagi muda Ia mampu menghafal dengan baik mampu mengalahkan Bella yang sedikit lemot menurutnya. Otak remaja itu menurun dari Ibunya meskipun paras dan sikapnya menurun dari sang Ayah. Almarhumah Ibu Bella bisa dibilang bodoh. Bahkan dua kali pernah tidak naik kelas. Ansel pun heran kenapa Jordan menyukai wanita itu padahal tidak cantik ataupun menarik sama sekali.
__ADS_1
Karin tak mengingkari janji. Ia membiarkan Ansel menciuminya sampai puas seperti apa yang diinginkan pria itu. Semua yang dilakukan benar dan Karin memberikan hadiah sebagai apresiasi karena suaminya belajar dengan baik. "Sudah ya." Keluh wanita itu karna wajahnya mulai basah. "Masih belum puas." Jawab Ansel meneruskan lagi.
Bella baru bangun menghampiri orang tuanya yang sibuk di dapur. "Dasar kebo. Tidur dari jam 9 baru bangun jam 3. Benar benar kamu." Ucap Ansel menyindir putrinya. "Minum dulu biar melek." Ucap Karin meletakkan segelas jus jeruk dingin. "Makasih Mom." Ucap gadis itu langsung meneguknya. "Minum sambil duduk Bel." Tegur sang Ibu membuat Bella seketika mendudukkan bokongnya di kursi. "Mom lagi bikin apa?" Tanyanya. "Bikin redvelvet." Jawab Karina sembari memotong kue nya. "Mau mau." Bella bergegas menghampiri Karin. "Potongan pertama untuk Daddy." Ansel merebut piring kecil yang akan diberikan pada Bella lalu mengecup pipi sang istri sebelum beranjak pergi. "Tua nggak mau ngalah." Gerutu Bella melihat tingkah Ayahnya.
__ADS_1
Bella mengikuti kedua orang tuanya yang sedang berbelanja. "Mom pembalut Bella habis." Ucap gadis itu berbisik. "Kita beli. Biasanya kamu pakai yang mana?" Tanya Karin. "Nanti Bella kasih tau. Tapi Daddy nggak boleh ikut." Jawabnya. Karin membalikkan badan menatap suaminya. "Kenapa? Apa sudah selesai?" Tanya pria itu. "Daddy tunggu depan aja. Ini biar aku yang bawa." Pinta Karin namun seketika Ansel menolak. "Kenapa sih? Biar aku yang bawa." Ansel tentu saja menolak. "Kita mau beli sesuatu Dad. Daddy nggak usah ikut. Daddy tunggu depan saja. Sini Bella dorong trolinya." Ucap gadis itu mengambil alih.
Sore hari Karin bersama suami dan anaknya sudah berada di belakang rumah untuk memetik sayuran. "Ini gimana petiknya Mom?" Tanya Bella sudah berdiri di depan pot sawi. "Tinggal cabut aja seperti ini." Jawab Karin sambil memberi contoh. Gadis itu mengangguk segera melakukan seperti yang dilakukan Ibunya.
__ADS_1
Ansel barus selesai mandi dan berganti baju menghampiri istrinya yang sedang duduk membaca al quran. Pria itu meletakkan kepalanya di pangkuan Karina sembari mencium perut sang Istri yang belum terlalu kentara. "Apa kamu mendengarnya di dalam. Suara Mom sangat merdu." Gumamnya mengusap dengan lembut. "Sudah selesai?" Tanya Ansel tak mendengar lagi lantunan ayat suci. "Sudah." Jawab Karin meletakkan al qurannya di atas meja. "Dia laki kali atau perempuan ya?" Tanyanya menatap wajah cantik sang istri. "Maunya apa?" Karin balik bertanya. "Apa saja. Ketika kelak Ia dewasa aku berharap menurun kebaikan kamu." Jawabnya.