
Ansel telah sampai di restoran. Manik mata pria itu langsung tertuju pada seseorang yang sedang duduk santai sambil menikmati minumannya. Ia melangkah lebih dekat kemudian di kursi duduk dalam satu meja yang sama. "Ada apa kau ingin bertemu denganku?" Tanya Seorang pria sembari meletakkan gelasnya. "Ada sesuatu yang harus ku luruskan." Jawab Ansel dengan tatapan mata serius. "Santai saja. Minumlah dulu." Ucapnya sembari menuangkan minuman untuk pria di depannya. " Aku sudah tidak minum." Ucap Ansel membuat Jordan terkekeh. "Kehadiran wanita banyak membuatmu berubah ya." Ia berkata dengan nada sedikit mengejek. "Tak mengherankan." Lanjutnya lagi.
Beberapa saat setelah obrolan pertama keduanya sama sama diam. Ansel dan lawan bicaranya hanyut dalam pikiran masing masing. Semuanya berawal dari sebuah kesalahpahaman diantara keduanya. Ansel dan Jordan andalah sepupu. Hubungan mereka tidak baik karna istri Ansel dulunya adalah kekasih dari Jordan. Hingga keduanya sama sama dijodohkan. Ansel berjanji tidak akan menyentuh istrinya agar Jordan bisa bersama dengan wanita itu saat mereka sudah bercerai. Namun siapa sangka sebuah kejadian mengubah semuanya dan membuat Jordan marah sekaligus kecewa. Pria itu masih menaruh kebencian dan rasa sakit karena penghianatan yang di lakukan oleh saudaranya sendiri. "Aku peringatkan padamu untuk jangan mengganggu istriku. Ini masalah kita berdua dan dia tidak ada hubungannya sama sekali. Aku pikir kau adalah seorang pengecut jika menggertakku atau menyakitiku dengan orang orang terdekatku. Aku tak akan menjelaskan apapun padamu karna semua yang aku ucapkan sia sia. Di sini aku hanya ingin mengatakan itu. Sekali lagi. Jangan ganggu istriku." Ucapnya penuh penekanan kemudian bergegas pergi.
__ADS_1
Jordan menatap punggung Ansel yang menghilang dibalik pintu. Pria itu menghela napas karen bimbang dengan hatinya. Sebenarnya Ia tak ingin larut dalam kekecewaan. Namun ingatan itu tiba tiba muncul dan membuat lukanya kembali. "Ya." Ucapnya mengangkat panggilan yang baru saja masuk. "Aku segera kesana." Jawab Jordan bergegas pergi.
Mobil sport berhenti di sebuah klinik. Sosok pria turun kemudian masuk ke dalam dengan sedikit berlari. Ia langsung memasuki salah satu ruangan yang ada di sana. "Shie kau tak apa?" Tanyanya sembari menghampiri gadis yang terbaring di ranjang. "Shie tidak apa Pa." Jawabnya sembari mengulas senyum di wajahnya yang pucat. "Tuan Papanya Shiena?" Tanya seorang wanita membuat Jordan menoleh. "Istri Ansel." Batin Jordan begitu mengenali suaranya. "Ah iya Pa, Kak Karina yang membawa Shie kesini." Ia memperkenalkan. "Terimakasih banyak." Ucap Jordan membalikkan badan menatap Karina sambil tersenyum. "Sama sama Tuan. Saya permisi." Ucap Karin bergegas mengambil belanjaannya di sofa. "Mau saya antar." Tawar Jordan dan sebenarnya Ia tau jawaban apa yang akan diberikan istri sepupunya itu. "Terimakasih Tuan. Saya sudah pesan taxi." Jawabnya sopan. "Shie. Cepat sembuh ya." Ia mendekat lalu mengusap kepala gadis itu. "Iya. Terimakasih Kak. Shie berharap kita bisa bertemu lagi." Jawabnya segera duduk kemudian memeluk Karin.
__ADS_1
"Papa kenapa?" Tanya Shiena melihat Jordan melamun setelah kepergian Karina. "Tidak. Kamu tadi gimana bisa pingsan?" Tanyanya. "Tadi Shie jalan mau ke cafe untuk makan siang. Tiba tiba saja pusing terus nggak ingat. Shie sudah di klinik di tungguin sama Kak Karina." Jawab Shiena menceritakan. "Kau menyukainya?" Tanya Jordan karena Ia tau sikap anaknya yang tidak bisa akrab dengan sembarang orang. "Iya. Dia baik dan lembut. Bukan cuman sekali kita bertemu. Ini yang ketiga kalinya." Ucap gadis itu kemudian menceritakan pertemuannya dengan Karin.
Ansel menghampiri istrinya yang baru selesai sholat. "Mau kemana hm?" Tanyanya sembari memeluk Karina yang buru buru memakai jilbab. "Mau siram sayuran. Tadi pagi lupa." Jawabnya sembari berusaha melepaskan diri dari sang suami. "Aku ke belakang dulu Dad." Pamitnya bergegas pergi.
__ADS_1
"Tuh kan. Tadi kan sudah dibilang untuk hati hati." Ansel mengomel melihat istrinya yang tersandung bangku taman. Untung saja dengan sigap Ia menahan tubuh Karin sebelum jatuh di rerumputan. "Maaf." Karina merasa bersalah tak mendengarkan ucapan sang suami. "Hati hati." Tegasnya di tanggapi anggukan oleh sang istri.
Bella menghampiri kedua orang tuanya. "Mom." Ucap gadis itu sembari memeluk Karina yang sibuk menyirami tanaman sayurnya. "Sudah mandi?" Bella mengangguk pelan. "Sudah. Baru saja. Memangnya tidak tercium aroma sabunnya ya?" Karin tertawa kecil. "Wangi kok." Jawabnya. "Dad, besok aku bawa Mom jalan boleh ya..." Bella meminta izin. "Kemana?" Tanya Ansel. "Ke Mall." Ansel tampak berpikir sejenak. "Daddy pikirkan dulu." Ucapnya tak ingin gegabah dalam mengambil keputusan. Ia tak mau istrinya keluar tanpa dirinya karena besok ada meeting di kantor tentu saja Ansel tidak bisa menemani.
__ADS_1