
Setelah cukup lama bergulat dengan pikirannya semalam, Ansel mengizinkan Karina untuk keluar dari kamar. Mulai hari ini gadis itu di perbolehkan untuk melakukan semua aktifitas di mansion tentu saja dengan pengawasan yang ketat.
"Nona. Tuan." Ucap para pelayan menyapa kedatangan Ansel dan Karina. Gadis cantik itu tersenyum ramah untuk membalas. Tak mau mengganggu. Mereka langsung bergegas pergi karena tau jika Ansel merasa terganggu jika para pelayan masih tetap disini.
Karin harus tetap baik baik saja meskipun setiap hari hidup berada di dalam tekanan Ansel. Sedikit kebebasan yang di berikan pria itu harus di dimanfaatkannya dengan baik. Ia harus pandai menghafal setiap situasi dan keadaan sekitar sembari mencari celah untuknya keluar. "Ingin membuat apa?" Tanya Ansel membuyarkan lamunan. "Ingin masak udang asam manis." Jawabnya sambil mengeluarkan bahan dari kulkas. "Biar aku bantu." Ucap Ansel tak ingin berpangku tangan membantu Karina meletakkan bahan di atas meja.
__ADS_1
"Baru pertama kali memasak?" Tanya Karin melihat Ansel begitu canggung dan asing dengan peralatan yang ada di dapur. "Iya. Baru pertama kali." Jawabnya sambil tersenyum. "Besok aku akan pulang menjenguk Bella." Lanjutnya lagi namun Karin hanya mengangguk sembari sibuk mengupas kulit undang lalu mencucinya. "Dia bilang jika dia sangat merindukanmu. Beberapa hari yang lalu bahkan dia sakit karena memikirkanmu. Bella pernah bilang jika ingin sekali memiliki Mommy sepertimu. Namun apa yang aku lakukan bukanlah hanya untuk menuruti Bella. Ini semua murni dari perasaanku sendiri." Ucap pria itu panjang lebar. "Aku tau. Di pernah berkata begitu." Karina menanggapi sambil tersenyum mengingat celotehan sahabatnya. "Dia begitu manja, peka dan keras kepala. Dan sifatnya yang terakhir itu aku rasa menurun dari Daddy nya." Ucapan Karin mampu membuat Ansel tersenyum lebih dalam. Memang Bella keras kepala. Tak lain dan tak bukan itu adalah sikap yang di turunkan darinya.
Ansel tersenyum melihat kedatangan Karina. Sedaritadi Ia menunggu gadis itu selesai sholat untuk makan siang bersama. Keduanya menunduk sejenak sebelum mulai menyantap hidangan yang mereka buat. Semenjak beberapa hari bersama Karin Ansel berubah. Pria itu kini berdoa sebelum makan. Entah apa yang dibaca. Namun pada intinya Ia meminta makanan yang di makannya bisa menjadi berkah dan menyehatkan tubuh. Sedikit melenceng, Ansel juga menyematkan permintaan pada tuhan untuk tidak di pisahkan dari Karina.
Karina jalan jalan sekitar mansion ditemani salah satu pelayan. "Bibi sudah lama bekerja dengan Om Ansel?" Tanyanya sembari mengajak wanita paruh baya itu untuk duduk bersama. "Sudah lama Nona. Saya pengasuh Tuan Ansel. Dulu sejak kecil kedua orang tua Tuan sibuk bekerja jadi saya yang merawat Tuan." Jawabnya. Ia meraih tangan Karina dan menggenggamnya dengan erat. Manik matanya menatap gadis cantik yang membuat sang Tuan tergila gila. Hatinya menghangat berada di dekat Karina. Mungkin semua orang juga akan demikian. Wajah dan hati yang cantik adalah daya pikat yang begitu kuat dari gadis itu. "Belum pernah seperti ini sebelumnya." Kata Bibi. "Ini pertama kalinya ada yang membuat Tuan jatuh cinta, dan Nona lah orangnya. Dia kejam dan kasar. Namun hatinya bisa lembut dan rapuh ketika berhadapan dengan orang yang dicintainya." Lanjut Bibi sambil mengulas senyum. "Lalu dengan Mama Bella?" Tanya Karina. "Mereka di jodohkan karena orang tua keduanya berteman. Tuan dan Ibu Non Bella tidak ada rasa. Namun suatu kesalahan membuat Non Bella hadir. Saat itu Tuan dan Nona sama sama mabuk setelah pulang dari pesta. Ibu Non Bella yang kala itu memiliki kekasih begitu frustasi mendapati dirinya hamil anak Tuan. Berkali kali ingin mengugurkan namun Tuan selalu memohon untuk janin tak berdosa itu di pertahankan. Hingga lahirlah Non Bella. Kelahirannya tak membuat hati sang Ibu tergerak. Wanita itu tak peduli dan tetap bersama kekasihnya. Hingga suatu ketika Ia meninggal karena kecelakaan." Cerita Bibi panjang lebar.
__ADS_1
Di sisi lain Ansel sedang berbicara dengan Damian yang beberapa saat lalu baru sampai. "Mereka bahkan membuat sayembara untuk menemukan Nyonya Tuan. Hadiahnya begitu besar yaitu 5M." Lanjutnya memberikan laporan. "Tak heran. Mereka begitu menyayangi putrinya. Besok aku akan pulang menemui Bella. Pastikan semua penjagaan disini baik. Aku tidak mau terjadi sesuatu." Ucap Ansel. "Baik." Jawab Damian cepat lalu beranjak pergi.
Baru saja hendak berdiri dari duduknya panggilan video yang masuk membuat Ansel mengurungkan niat. "Daddy." Ucap Bella. "Hy. Kamu sedang apa?" Tanya Ansel. "Bella baru pulang dari rumah Karina." Jawab gadis itu dengan raut wajah sedih. "Apa detektif yang Daddy suruh belum ada hasil?" Lanjutnya bertanya. "Belum. Ini sangat sulit Bell. Tapi Daddy yakin semuanya akan baik baik saja." Ansel meyakinkan putrinya. "Daddy besok akan pulang. Kamu mau dibawakan apa?" Tanyanya menawari. "Tidak. Mau di bawakan Karina Daddy juga tidak bisa." Bella berdecak. "Jaga kesehatanmu Bell. Kemarin kemarin kamu sakit kan karna memikirkan Karin. Jangan sampai sakit lagi. Sahabatmu itu pasti baik baik saja." Ia menuturi putrinya. "Ya. Bella hanya mencemaskan Karina. Bella mau mandi dulu. Daddy baik baik disana. Love you Dad." Ucapnya mengakhiri panggilan. "Love yo too."
Ansel menghampiri Karina yang berdiri di dekat tembok pagar. "Sedang apa?" Tanya Pria itu berjalan semakin mendekat. "Ah tidak." Jawabnya segera membalikkan badan. "Ayo masuk. Sudah sore." Ajaknya. "Sebentar lagi. Masih mau disini." Jawab Karina pelan. "Masuk. Semakin sore akan semakin dingin nanti kamu sakit." Tegas Ansel mampu membuat Karin tak berkutik. Gadis itu mulai berjalan masuk ke dalam diikuti Ansel di belakangnya.
__ADS_1