
Ansel memutuskan untuk mengajak anak dan istrinya pulang satu hari lebih cepat dari yang di rencanakan. Pria itu merasa khawatir akan keselamatan Karina karena kejadian kemarin. Selain di Villa tidak terlalu banyak orang, keamanan disana juga belum maksimal. Hanya ada CCTV berbeda dengan disini yang dilengkapi penjaga dan sensor berteknologi canggih.
"Kalian istirahat dulu. Daddy mau bicara dengan Damian." Ucap Ansel bergegas pergi setelah meninggalkan kecupan di kening Karin dan Bella. Pria itu menaiki tangga untuk ke ruangannya yang berada di lantai dua.
"Tuan." Damian berdiri dari duduknya menyambut kedatangan Ansel. Ia kemudian duduk kembali setelah di persilahkan. "Apa yang kau dapat?" Tanya Ansel sembari ikut duduk di singgle sofa tak jauh dari tempat sekretarisnya berada. "Ini Tuan." Tanpa basa basi Ia menyerahkan hasil penyelidikannya semalam. Ansel mengangguk segera membuka map coklat yang di berikan Damian. Bola mata pria itu bergerak membaca setiap tulisan di dalamnya. "Jadi dia disini. Masih belum selesai juga urusan kita yang dulu. Dam, atur pertemuan karna aku ingin bicara dengannya." Ucap Ansel langsung di laksanakan.
__ADS_1
Setelah dari rumah Tuannya Damian tidak langsung pulang. Ia menghentikan mobilnya di depan salah satu hunian mewah di kompleks perumahan elit. "Saya ingin bertemu Tuan Jordan." Ucapnya setelah menurunkan kaca mobil. "Silahkan masuk." Sahut seseorang disusul dengan gerbang yang terbuka lebar.
Damian di antar masuk ke dalam oleh beberapa penjaga. "Ada apa?" Tanya Seorang pria dengan santai sembari menyesap winenya. "Oh iya. Duduklah." Lanjutnya mempersilahkan. "Tuan Ansel ingin bertemu dengan anda." Damian menyampaikan maksud dan tujuannya sembari duduk di sofa. "Hm. Kau masih setia dengan tuanmu itu. Apa dia tau kemarin aku menemui istri cantiknya?" Tanya Jordan sambil terkekeh. "Tau Tuan. Oleh karena itu Tuan ingin bicara untuk menyelesaikan masalah kalian." Jawab Damian. "Suruh dia menemaniku di tempat ini." Jordan menuliskan sesuatu di secarik kertas kemudian memberikan pada asisten rivalnya.
Ansel panik karena tiba tiba saja badan istrinya panas. Pria itu langsung menempelkan plester demam sembari menunggu dokter datang. "Kok bisa sakit." Ucap Bella khawatir. "Mungkin kecapean." Jawab Ansel lalu menyuruh putrinya untuk pergi ke dapur untuk meminta bibi membuatkan bubur.
__ADS_1
Karina mengerjapkan matanya. "Umi." Ucap wanita itu melihat sang Ibu duduk sembari menggenggam tangannya. "Kenapa kakak bisa sakit?" Tanya Kafil sembari mengusap pipi Karina. "Takdir." Jawabnya sambil tersenyum. "Memang cuaca kadang berubah ubah jadinya gampang sakit. Mbak tidak minum vitamin ya? Abi kan sudah ingatkan." Karin mengangguk. "Minum kok Bi. Memang waktunya sakit saja." Jawabnya. "Makan dulu ya. Setelah itu minum obat." Ucap Ansel lembut. "Nggak pengen makan." Ia menolak suaminya. "Bubur loh Mom. Enak kayanya." Bujuk Bella. "Atau mau makan opor yang Umi bawa." Tawar Umi di jawab anggukan cepat oleh putrinya.
"Adek nggak ngaji?" Tanya Karin sambil makan disuapi Ibunya. "Sekarang ngajinya habis magrib. Abi yang rubah jadwalnya. Padahal kan enak habis ashar." Jawab Kafil. "Abi kenapa rubah jadwal ngajinya Kafil. Kan kalau belajar jadi susah Bi." Ia protes mewakili adiknya. "Cuman sementara Mbak. Ustadz Syam lagi urus surat perceraian." Jawab Abi membuat Karin tersedak. "Minum Mom." Bella dengan sigap membantu Ibunya minum. "Cerai? Kenapa cerai? Perasaan sama istrinya selama ini baik baik saja." Umi menggeleng pelan. "Nggak tau juga masalahnya apa. Mereka pasti ada alasan kuat sehingga memutuskan untuk berpisah." Jawabnya.
Ansel kembali lagi ke kamar setelah mengantar mertuanya. Pria itu langsung merebahkan tubuhnya di ranjang sembari memeluk Karin yang sedang tiduran. "Siapa ustadz Syam?" Tanya Ansel tiba tiba membuat Karin mendongak menatap suaminya. "Guru ngaji Kafil." Jawab Karina. "Bukan guru ngaji Mom juga?" Ansel menatap sang istri penuh selidik. "Guru ngaji aku ustadzah Azizah dan sekarang orangnya sudah meninggal." Ia menghela napas mengingat wanita luar biasa itu. "Oh. Daddy pikir dia juga guru ngaji Mom juga. Soalnya dari respon tadi agaknya kalian saling kenal." Ucap Ansel. "Kenal biasa." Karin memejamkan mata karena mengantuk setelah minum obat.
__ADS_1
Sore hari, Ansel baru selesai mandi langsung bergegas keluar kamar untuk mencari istrinya. "Baru ditinggal sebentar sudah pergi entah kemana." Gerutu pria itu sembari menuruni tangga.
"Kenapa nggak istirahat di kamar saja sih." Ansel menghampiri istrinya yang sedang duduk bersama Bella di ruang keluarga. "Pengen disini." Jawab Karin kembali menonton film bersama putrinya. "Dia tampan ya Mom." Ucap Bella. "Biasa saja." Jawab Karina. "Lalu yang tampan seperti apa?" Tanya Ansel ikut duduk memangku kepala istrinya. "Hah. Yang tampan seperti apa?" Ia bertanya lagi sembari menarik dagu sang istri agar menatapnya. "Seperti Abi." Jawab Karin jujur. "Kok seperti Abi. Memangnya Abi lebih tampan dari Daddy?" Ansel tidak terima membuat Bella tertawa. "Iya. Kan kita harus jujur Dad." Karin kembali fokus lagi ke layar besar di depan tak menghiraukan suaminya yang terus berdecak.