
Abi sedang menemani istrinya yang masih sedih memikirkan Putri tercinta. "Ada telpon." Gumam pria itu sembari mengangkat panggilan yang masuk. "Selamat pagi. Dengan saya sendiri." Jawabnya. "Saya akan mempertemukan anda dengan putri anda yang telah menghilang." Ucap dari sebrang sana membuat sepasang suami istri itu mendapat pencerahan. "Lakukan sesuai perintah saya." Lanjutnya lagi. "Ya. Kami akan lakukan." Jawab Abi cepat. Ia akan melakukan segalanya untuk Karina. "Bawa serta Istri anda dan juga Bella. Jangan sampai anda membawa polisi atau orang selain yang saya sebutkan tadi. Tutup kasus pencarian ini dan blokir beritanya. Pergilah ke bandara. Seorang akan membawa anda pergi menemui putri anda. Jika anda melanggar perintah maka saya tidak segan untuk membunuh putri anda. Mata mata saya ada dimana mana. Jangan bermain main dengan saya." Jelasnya dan panggilan seketika terputus. Abi mengangguk langsung menyuruh orang untuk mencabut semua laporan dan menghapus semua berita sesuai keinginan si penculik.
Kedua orang tua Karin sedang dalam perjalanan ke bandara setelah menjemput Bella. "Kita akan ketemu Karin Bell." Wanita itu tampak tersenyum menggenggam tangan putri sahabatnya. "Iya tante. Akhirnya kita akan bertemu Karin." Bella ikut senang. "Tapi kenapa harus kita saja yang pergi?" Umi bertanya dengan raut wajah penasaran. "Kita turuti saja Umi. Yang penting Karin selamat." Jawab Abi.
Ketiganya telah sampai di bandara. Mereka turun dari mobil langsung disambut beberapa orang yang mempersilahkan untuk segera memasuki pesawat. Tak banyak tanya ketiga orang itu hanya bisa menurut saja. Sebuah pesawat pribadi dengan fasilitas yang mewah di dalamnya. Apakah yang menculik Karin bukan orang yang menginginkan harta? Lalu apa maksud dari penculikan ini? Abi bertanya tanya dalam hati. Selama ini Ia juga tak memiliki musuh. Kolega dan temannya baik semua. Pikiran pria itu tak dapat memecahkan teka teki. Ia masih di buat penasaran dengan kejadian ini.
Setelah menempuh perjalanan udara mereka di bawa dengan sebuah mobil keluar dari daerah ramai memasuki sebuah hutan yang lebat. Jalannya sudah beraspal dengan kiri kanan di tumbuhi pohon pohon besar. Mobil berhenti di gerbang. Seseorang dengan senjata yang sedang berjaga memeriksa sebentar kemudian mempersilahkan untuk melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian mobil memasuki halaman mansion mewah saat sebuah gerbang terbuka lebar. Abi, Umi dan Bella turun sambil mengamati sekitar. Banyak penjaga bersenjata lengkap di setiap sudut. "Tempat apa ini?" Gumam Bella bertanya tanya. "Mari." Ucap seseorang membuyarkan lamunan mereka. Pria itu berjalan membimbing tiga tamu tuannya untuk masuk.
Setelah menaiki anak tangga mereka berhenti di depan sebuah pintu besar. "Silahkan masuk. Tuan di dalam." Ucap pria yang mengantarkan mereka diiringi pintu yang terbuka lebar. Ketiganya mengangguk mulai melangkah dengan ragu. "Di mana Karin?" Tanya Abi tak sabaran. Sosok pria membalikkan kursi menatap tamu yang datang membuat mereka membeku di tempat. "Ansel." Lirih Abi. "Ya. Aku yang menculik Karin selama ini dan aku telah merenggut kesuciannya." Ucap Pria itu sembari berjalan mendekat. "Daddy." Bella tidak percaya apa yang telah di lakukan Daddy nya pada Karin. "Keterlaluan." Teriak Abi Karin memberikan tamparan begitu keras di wajah pria yang sudah berada di depannya itu. "Apa salah anakku sehingga kau tega begini?" Tanya Umi terduduk di lantai sambil menangis di tenangkan Bella. "Aku mencintainya dan dia menolakku. Hanya ini yang bisa aku lakukan. Aku akan menikahinya." Jawab Ansel cepat. "Kau keterlaluan Ansel. Dia putri yang kami jaga dengan hati hati dan kau merusaknya. Kau pria keji, kau tidak berperasaan." Abi tak kuasa menahan air matanya.
"Sayang." Abi, Umi dan Bella langsung berhambur memeluk Karina. "Karin minta maaf." Ucapnya duduk kemudian memeluk kaki kedua orang tuanya. "Karin ini bukan salahmu. Ini salah Daddy." Ucap Bella menenangkan sahabatnya. "Karin tidak bisa menjaga diri dengan baik Karin minta maaf." Ia menangis pilu. "Menikahlah dengannya Nak." Ucap Abi tiba tiba. "Abi. Karin tidak mau." Pria itu memeluk putrinya dengan hangat. "Kalian berdua bertaubatlah dan menikah, itu akan lebih baik." Ia mencoba memberikan pengertian pada putrinya.
Sore hari.
__ADS_1
"Bagaimanapun dia suamimu. Jangan mendurhakai suami karena itu berdosa. Karin ingat pesan Umi." Ucap wanita itu sembari memeluk putrinya sebelum masuk ke mobil. Kedua orang tua Karin memang langsung kembali karena Kafil sendiri di rumah. Tak menjawab Karin hanya mengangguk lemah. "Jaga anakku baik baik." Pesan Ansel pada teman yang kini sudah berubah status menjadi menantunya. "Pasti. Maaf." Jawab Pria itu serius menatap sang mertua yang tak merespon. "Abi pulang dulu sayang. Besok kita ketemu lagi." Ucapnya memeluk dan mencium putri tercinta.
Bella memeluk sahabat yang kini sudah menjadi Mommy nya. "Maaf." Ucap gadis itu sambil menangis. Karina melepaskan pelukan. Ia mengusap air mata Bella yang membasahi pipi. "Bukan salahmu." Jawabnya memaksakan senyum kemudian segera masuk meninggalkan Bella dan Ansel.
"Daddy puas? Daddy jahat. Daddy telah merusak sahabat satu satunya Bella. Daddy kejam." Ia menatap tajam Ansel yang sama sekali tak merespon. "Bella benci Daddy." Teriaknya memukul lengan kekar pria itu sambil menangis. Pria itu tak bisa menjawab apapun hanya bisa memeluk putrinya dengan erat.
Ansel memasuki kamar. Pria itu berdiri di dekat pintu balkon mendengarkan suara tangisan istrinya yang begitu menyayat hati. Ia berjalan mendekat lalu memeluk tubuh ramping sang istri. "Maaf." Ucapnya. "Biarkan aku sendiri." Jawab Karin namun Ansel tak beranjak. "Jangan sentuh aku." Nada bicaranya terdengar dingin dan menekan. Ansel terpaksa melepaskan pelukannya kemudian mengecup pelan kening Karina sebelum pergi.
__ADS_1