
Karin menghampiri suaminya yang sedang sibuk di ruang kerja. Wanita itu membawa secangkir teh lalu meletakkannya di meja.
"Ada yang Daddy pikirkan?" Tanyanya sembari mengusap punggung Ansel dengan lembut.
"Hm. Mom ngerasa nggak kalau akhir akhir ini Jordan sangat aneh." Ucap Pria itu menyampaikan apa yang mengganggu pikirannya.
"Ya. Memang masalahnya dengan Om belum selesai juga?"
"Tidak tahu. Keduanya sama sama diam. Tidak ada yang mau mengaku. Aku jadi bingung. Tidak biasanya mereka begitu."
"Mungkin belum siap untuk cerita. Jangan di paksakan. Nanti kalau sudah waktunya akan cerita sendiri." Ucap Karin memberikan pengertian pada suaminya.
"Um Dad. Hari ini mau ke rumah Abi boleh?" Lanjutnya meminta izin.
"Iya. Tunggu sebentar ya. Nanti sama aku."
"Ya. Aku tunggu sama anak anak saja."
"Tunggu sini. Temani suami kerja." Jawab Ansel menarik pinggang sang istri hingga wanita itu duduk di pangkuannya.
"Mas Isam adeknya diapakan lagi?" Tanya Karin menghampiri kedua anaknya yang sedang duduk bersama menunggu untuk berangkat ke rumah Abi. Safa tampak merengek entah apa yang di lakukan sang Kakak. Hal ini cukup sering terjadi.
"Nggak Mom. Isam nggak apa apain." Jawabnya.
"Abang nakal." Safa berlari memeluk Karin.
"Nakal kenapa abang kamu?" Tanya Ansel menggendong sang putra mendekati istrinya.
"Nggak Dad. Jangan percaya Safa. Isam nggak nakal."
"Kakak lempar bantal ke Safa." Gadis kecil itu mengadu.
"Mas Isam."
"Maaf Mom. Isam hanya bercanda."
__ADS_1
"Minta maaf ke adiknya."
"Maaf." Isam memeluk Safa yang di gendong Ibunya.
"Begini kan enak. Ayo berangkat. Kakek sudah telpon terus daritadi." Ucap Karin.
Setibanya di rumah Abi Karin membiarkan anak anaknya duduk duduk di karpet sementara Ia duduk bersama Umi dan yang lainnya di sofa.
"Isam sekolahnya gimana?" Tanya Kafil.
"Lancar Om." Jawab bocah tampan yang sibuk membolak balikkan album foto keluarga itu.
"Mom. Ini foto Mommy?" Tanya Isam menunjuk bayi foto bayi cantik yang sedang duduk memakai pakaian dengan warna baby blue.
"Iya. Kok Mas Isam tau?"
"Mirip adek. Lihat Safa. Ini mirip kamu." Ia menunjukkan foto itu pada adiknya.
"Kalian berdua memang mirip Mom." Ansel mengusap kepala kedua anaknya.
"Kakak nggak mau buka cabang restoran lagi. Kalau cuman satu begitu kayanya kewalahan deh Kak." Ucap Kafil karena restoran Kakaknya yang begitu ramai.
"Iya sih. Kakak sibuk dengan urusan di rumah makannya nggak kepikiran. Nanti Kakak tanya suami dulu deh. Kalau kasih izin ya Kakak buka lagi."
"Kalau mau buka lagi rencananya Kakak mau bangun tempat baru atau bangunan jadi?"
"Kayanya bangunan jadi aja. Nanti kalau harus bangun lagi kelamaan."
Kakek berdecak melihat Ansel yang memeluk Karin saat wanita itu baru datang. Rasanya baru berpisah sebentar. Tidak ada setengah jam dan kelakuan pria itu sangat keterlaluan seperti di tinggal lama saja.
"Bisakah kamu bersikap normal? Bikin sakit mata saja." Sindir Kakek.
"Nggak papa dong Kek. Kan halal." Jawab Ansel tertawa kecil menanggapi pria paruh baya itu.
"Mau Yang." Ucap Ansel melihat istri dan anak anaknya makan begitu lahap.
__ADS_1
"Kamu baru sembuh. Tidak boleh makan begini. Coba tanya Kafil."
"Bener apa yang kakak bilang. Jangan makan begini dulu." Pemuda tampan itu tersenyum mengejek.
"Kasih sana Mbak. Kasihan suami kamu." Ucap Abi.
"Iya deh." Karin buru buru menyuapi suaminya.
"Enak nggak?"
"Enak." Jawab Ansel.
"Mbak nanti nginep disini?" Tanya Umi.
"Belum tau Mi. Tadi nggak bilang sama Bella. Tergantung anak anak nanti rewel nggak. Kalau nggak rewel kita nginep."
Ansel duduk bersama istrinya di balkon kamar menikmati suasana sore berdua karena anak anak sudah bersama dengan Omnya.
"Dad. Restoran kan rame banget. Sepertinya kewalahan deh kalau cuman satu restoran saja karena banyak pesanan juga. Kalau aku punya rencana mau buka cabang baru boleh?" Tanya Karin yang sedang dalam pelukan suaminya.
"Memang mau buka dimana?" Tanya Ansel mengecup kepala sang istri.
"Belum tau. Maunya sekitar situ saja biar enak."
"Ya. Nanti Daddy bantu carikan tempat."
"Makasih Dad."
"Masa cuma terimakasih aja."
"Iya iya.." Karin buru buru mencium sang suami karena tau apa yang diinginkan pria itu.
"Love you." Ungkap Ansel.
"Love you too." Balas Karin tersenyum menatap sang suami.
__ADS_1