
"Mama." Ucap Shiena begitu girang langsung memeluk Karina yang sedang duduk di ruangan suaminya. "Shie kangen Mama." Ucap Gadis kecil itu. "Masa sih. Kemarin baru ketemu loh." Jawab Karin sambil tertawa kecil. "Kemarin ketemunya kan cuman sebentar Ma karna Papa buru buru." Karin mengangguk sambil tersenyum. Ia kemudian menyuruh Shie untuk cuci tangan.
__ADS_1
Semuanya sudah berkumpul makan siang bersama dengan bekal yang dibawa Karin. "Bella gimana?" Tanya Jordan pada sepupunya. "Bukannya kamu sering ke rumah." Ucap Ansel menanggapi. "Iya. Tapi selalu saja nggak pernah ketemu. Bella sering keluar." Jawab Pria itu. "Entahlah. Aku sudah pusing menghadapi anak itu. Sikapnya menurun dari Ibunya. Wanita yang dulu kau puja sampai membenciku." Jordan tersedak kemudian segera minum air yang diberikan Karina. "Mana aku tau kalau dia memang tukang selingkuh. Tau begitu dari awal ini semua tidak akan terjadi." Kesalnya karena Ansel terlambat membeberkan kelakuan mantan pacarnya yang ternyata suka berselingkuh dengan beberapa pria.
__ADS_1
Ansel dan Jordan sudah sampai di rumah setelah mengantar Karin dan Shie di rumah mertua. "Bella belum pulang?" Tanya Pria itu pada salah seorang pelayan yang sedang menyiram tanaman. "Belum Tuan." Jawabnya. Ansel mengangguk kemudian segera masuk ke dalam diikuti Jordan yang berjalan di belakang.
__ADS_1
Pukul 7 malam pintu utama terbuka lebar. Sosok gadis berjalan masuk sambil menenteng tas ranselnya. "Darimana kamu jam segini baru pulang?" Tanya Ansel. Pria itu kemudian mendekat mengendus putrinya yang bau asap rokok. "Dad. Bawa Mom kembali. Bella sudah tidak sanggup lagi." Ucapnya sambil menangis. "Kamu berkali kali bertemu kenapa tidak bicara sendiri." Ansel dongkol dengan tingkah anaknya yang semakin keterlaluan itu. "Bella nggak bisa Dad. Bella malu. Bella butuh Mom Dad. Bella nggak mau begini. Semakin Mom jauh semakin Bella rusak." Tangisnya pecah hingga bertumpu dengan kedua lutut. "Bukan dia yang menjauh tapi ku Bell. Kamu sendiri yang membuat masalah dan Kamu harus menyelesaikannya sendiri. Kalian berdua butuh bicara. Jika kamu diam seperti ini masalah tak akan selesai. Kamu sekarang baru sadar kan seberapa kamu menyakiti dia tetap baik dan perhatian dengan kamu Bell. Setiap hari dia menanyakan kabar kamu ke Daddy. Mengingatkan Daddy untuk selalu bicara baik baik dan mengajak kamu mengobrol agar tidak kesepian. Peran sebagai orang tua sudah Ia usahakan dan jalankan dengan baik. Kamu tidak melihat ketulusannya Bell? Hanya karena omongan orang kamu menutup semua fakta yang kamu lihat sendiri. Daddy capek Bell. Di nasihati pakai cara apapun kamu nggak berubah. Daddy udah tahan dan coba sabar kamu nggak ngerti juga." Ansel memeluk putrinya yang masih berlutut. "Sudah. Sekarang mandi Daddy tunggu di ruang makan." Ucap pria itu membantu Bella berdiri.
__ADS_1
Ansel makan malam bersama anak dan sepupunya sambil melakukan panggilan video dengan sang istri. Pria itu asik mengobrol sementara Bella dan Jordan hanya menyimak. "Mom mulu ya yang kamu panggil. Coba sebut nama Daddy nak." Ucap pria itu. "Nggak mau dia." Sahut Abi yang berada di samping Karina. "Iya nggak mau soalnya Daddy nya nyebelin." Sahut Kakek membuat Ansel tertawa kecil. Pria paruh baya itu meskipun masih ketus tapi perlahan sudah mulai menerima Ansel sebagai suami dari cucu kesayangannya. "Jangan buat Mommy kelelahan Sam. Kamu minta jalan mulu." Tutur pria itu kasihan dengan Karin yang begitu lelah menjaga Isam yang sangat aktif. "Kalau belum lelah ya belum mau berhenti." Jawab Karin. "Shiena mana? Dia mau pulang atau tidur disitu?" Sahut Jordan menanyai anaknya. "Shie katanya mau tidur disini. Dia lagi pergi sama Umi ke minimarket depan." Karin menanggapi. Wanita itu terlihat menggendong anaknya. "Mau kemana?" Tanya Ansel. "Kepo deh. Udah matiin. Makan juga kamu harus banget ya video call sama istri." Sewot Kakek heran dengan kebucinan Ansel.
__ADS_1