Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku

Ku Renggut Kesucian Sahabat Putriku
Bella Yang Sekarang


__ADS_3

Karina sedang keluar bersama Umi dan putranya untuk berbelanja. Mereka sekarang sedang berada di Mall untuk membeli beberapa keperluan yang sudah menipis. "Isam mau apa?" Tanya Karina melihat putranya sedaritadi tidak bisa diam. "Haus kali Mbak." Ucap Umi mengusap kepala cucunya. "Berangkat tadi sudah minum Asi kok Mi." Jawab Karin menepuk punggung putranya agar tenang. "Nah ternyata pengen di manja ya." Umi tersenyum melihat Isam tenang di elus Ibunya.


"Mampir beli baju buat Isam Mbak." Ajak Umi setelah selesai berbelanja. "Mi. Yang baru masih banyak belum kepakai. Yang dibeliin Mamanya Om Jordan bahkan belum dibuka. Jangan mubazir ah. Bentar lagi Isam besar yang mau pakai siapa." Jawab Karin tak mau buang buang uang karena baju putranya masih sangat banyak. "Ih Mbak. Sama anak sendiri perhitungan. Ini Umi yang traktir." Karin tetap menggeleng. "Bukan masalah uangnya Mi. Ini masalah daya pakainya. Isam masih bayi dan akan bertumbuh. Kalau kebanyakan pakaian bayi nya nanti udah besar nggak kepakai lagi." Jelas Karin membuat Umi pasrah padahal Ia ingin memanjakan cucu kesayangannya.


Karin sedang berada di toilet untuk membersihkan tangan Isam yang kotor karena makan biscuit. "Mom." Satu kata yang tidak begitu jelas keluar dari mulut putranya membuat Karin terkejut. "Apa sayang? Coba ulangi lagi." Ucap wanita itu sembari mengelap tangan Isam dengan tissue basah. "Momom." Ulang Isam. "Pintarnya." Ia mengecupi pipi putranya dengan gemas membuat Isam tertawa.

__ADS_1


Manik mata Karin tertuju pada seorang gadis yang sedang berdiri menatapnya. Ia menelisik penampilan Bella yang begitu berantakan dan terkesan urakan. Bau asap rokok menyengat diikuti beberapa remaja perempuan yang menghampiri mereka. Wanita itu tak mengucapkan apapun hanya melihat benda menyala yang mengeluarkan asap masih berada di sela jemari Putri suaminya. "Mom." Lirih Bella memanggil nama wanita yang diam di depannya. Tak menjawab Karin bergegas menutup wajah Isam kemudian membawa putranya pergi karena asap rokok yang begitu menganggu.


"Kenapa Bell?" Tanya teman Bella. "Aku mau pulang." Jawab gadis itu membuang rokoknya ke dalam tempat sampah kemudian bergegas pergi dengan air mata yang sudah membanjiri pipi. Bella sadar selama ini hidupnya semakin berantakan. Ia tak menyalahkan siapapun karena diri sendirilah penyebabnya.


Karin sedang menemani suaminya makan siang sambil menitah Isam yang tak mau diam. "Coba panggil Daddy." Ucap Ansel menghampiri istri dan anaknya. "Ayo panggil Daddy." Pria itu berlutut di depan putranya. "Momom." Jawab Isam. "Daddy bukan Mom. Daddy." Ia mengucapkannya pelan berharap bayi tampan itu akan mengikutinya. "Makannya itu di terusin Dad." Tegur Karina langsung di turuti oleh sang suami.

__ADS_1


Ansel terbangun dari tidurnya karena mendengar tangisan Isam. "Sayang." Ucap Pria itu bergegas menenangkan. "Cari Mommy ya. Cup....Cup.... Ayo kita cari." Ia bergegas menggendong Isam untuk mencari keberadaan sang istri.


"Sudah bangun ya sayang." Karin buru buru meraih Isam dari gendongan suaminya. "Maaf Nak. Mom tinggal karna lagi buatin Isam makan." Ia menimang nimang bayi tampan itu agar tenang. "Bibi ini tolong di terusin ya." Ucap Karin. "Iya Mbak." Jawab wanita itu sambil tersenyum.


Ansel ikut duduk bersama istrinya. "Enaknya." Ucap Pria itu memainkan bibir Isam yang sedang menyesap sumber makanannya. "Kalo ini sudah di kuasai setidaknya tangan Mom biar sama Daddy dong." Ia mencoba melepaskan tangan mungil Isam yang menggenggam erat jemari sang Ibu namun tidak bisa. "Bayi posesif ku astaga." Ucap Ansel gemas mengecupi pipi putranya.

__ADS_1


"Dad." Panggil Karin. "Ya Mom ada apa?" Jawab Pria itu sekaligus bertanya. "Tolong Bella itu di dekati. Maksud aku perhatikan juga pergaulannya." Jawab Karin. "Kenapa? Kamu tau dia sekarang suka kelayapan dan merokok?" Wanita itu mengangguk sekaligus terkejut dengan ucapan suaminya. "Semua yang dilakukan gadis itu aku sudah tau Mom. Sudah aku nasihati berkali kali kalau temannya itu membawa pengaruh buruk tapi dia juga tidak mau dengar. Aku sudah coba dekati pelan pelan. Ajak dia bicara dan ngobrol seperti yang kamu sarankan tapi nyatanya nggak ada perubahan." Jelas Ansel membuat istrinya menghela napas.


__ADS_2