
Perjalanan ke sungai tak memakan waktu lama. Hanya sekitar 10 menit saja. Benda pipih yang disebut GPS tracking itu benar-benar canggih. Sangat membantu menunjuk jalan. Jarak dan waktu tempuhnya pun terukur dengan pasti. Hebat. Orang-orang modern punya alat-alat yang membuat hidup terasa lebih mudah.
"Benar-benar tepat ya, kak." Aku benar-benar mengagumi akurasi alat itu sekaligus menyadari betapa banyak hal yang belum aku ketahui. Aku masih bodoh. Betul kata Fifi, lebih tepatnya aku ketinggalan jaman.
Kak Hisy tersenyum bangga seperti Arfa yang selalu bangga menceritakan banyak hal modern yang tidak kuketahui. Dengan sabar ia mengulurkan tangan dan membantuku turun dari kuda.
"Aku mau langsung mandi."
"Bawa baju ganti?"
Aku menggeleng. "Tapi aku bawa kain panjang. Kalian jangan ngintip ya."
Kak Hisy tertawa keras. Sementara Bray tersenyum sinis.
"Mandilah agak ke sana. Kami akan mandi dan cari ikan di sana." Kak Hisy menunjuk arah yang berbeda. Aku diminta berjalan untuk mencari tempat mandi yang aman ke arah hulu sungai, sementara kedua lelaki itu akan beraktivitas di sungai yang lebih dekat ke hilirnya.
Aku tahu penentuan itu dilakukan untuk melindungiku. Jika amit-amit hanyut terbawa arus, mereka mungkin bisa menolong sebab posisi air mengalir ke arah lokasi mereka beraktivitas.
"Hati-hati ada buaya." Bray berteriak sambil terkekeh.
"Aku cuma takut buaya darat." sahutku keras.
Tawa keduanya makin keras mendengar candaku.
Memang benar ketika mandi di sungai kita harus waspada pada buaya sungai, juga riak dan pusaran air yang diam-diam bisa menyeret kita hanyut terbawa derasnya arus sungai.
"Nih, mandi pakai sabun biar bersih dan nggak bau. Pakai kemeja itu buat ganti." Bray melemparkan kemeja berbahan jeans dan botol ķecil yang katanya berisi sabun. Tulisannya Natural soap. Tampaknya ia menggunakan jenis sabun berbahan natural tanpa detergen. Sabun jenis ini tak mencemari air sungai, sebagaimana daun-daunan yang biasa kupakai untuk mandi.
Diam-diam aku makin mengaguminya, sebab dia ternyata peduli pada alam dan enggan mencemari lingkungan.
"Kak Bray?"
"Aku nggak butuh sabun, sebab dari lahir sudah bersih dan wangi." jawabnya sambil tersenyum jemawa.
Puih, sombongnya. Mana ada bayi lahir sudah bersih dan wangi. Di mana-mana bayi lahir itu pasti bau amis sebab masih berlumur darah dan air ketuban.
Anehnya biar sombong Bray tetap saja terlihat menawan. Dilihat dari paras, sikap dan penampilannya, dia memang cocok bergaya cuek dan sombong.
"Terima kasih."
__ADS_1
Bray terkekeh. Entah apa yang lucu. Mungkin menertawakan kebodohanku.
Aku dengan percaya diri memanggilnya dengan sebutan kak Bray padahal ia tak pernah memperkenalkan diri. Belakangan aku tahu dari Arfa bahwa nama aslinya bukan Bray, tapi Firdaus Sanjaya. Dia bukan orang sembarangan, melainkan anak pemilik PT XY -tempat dimana Arfa dan kak Hisyam bekerja. Eh, aku jadi minder. Cukup tahu dan mengagumi dari jauh saja. Meski lagaknya sombong tapi sekilas aku melihat hatinya baik. Buktinya ia memberikan sabun dan kemeja panjang untuk ganti. Seandainya celananya dirasa tidak akan kedodoran, mungkin ia juga akan memberikan celana panjangnya untukku.
Hihihi ngarep. Afifa, kamu kesambet setan apa? Ayo banyak dzikir biar setan-setan hutan yang menguasai dirimu lari.
Aku mandi cukup lama mengingat tubuhku sudah lama tak terkena air. Rasanya segar berlama-lama berendam di air. Aku juga suka menghirup wangi sabun yang membuatku seperti ketagihan akan wanginya. Ingin rasanya aku habiskan sabun cair itu untuk membilas tubuhku agar wanginya menempel lebih lama. Tapi aku segera sadar untuk tidak serakah menggunakan barang milik orang lain. Gunakan secukupnya saja.
Aku muncul kembali di tempat kuda ditambatkan dengan lebih percaya diri sebab tubuhku telah bersih dan tidak bau. Kemeja kak Bray kebesaran tapi sangat nyaman dipakai. Kemeja itu turut menambah rasa percaya diriku berlipat-lipat banyaknya.
Kedua pria itu sedikit terpukau melihatku telah bersih. Mungkin terlihat lebih fashionable dengan kemeja jeans, celana panjang dan pasmina pendek yang kuikat di belakang. Penampilanku tak tampak lusuh, kotor dan bau lagi.
"Ternyata kalau bersih begini kamu cantik sekali, Fifa. Pantas Arfa tergila-gila sama kamu."
Ow? Kenapa komentar kak Hisy begitu?
"Biasa aja. Jangan dibilang cantik, nanti dia besar kepala." Bray merespon cepat dengan berkomentar sinis.
Ups. Tadi kulihat matanya sempat terpukau, ternyata mulutnya tak sejalan.
Sudahlah, Fifa. Biarkan saja. Jangan pedulikan dia berkomentar apa pun. Lebih baik membantu kak Hisyam menyiapkan makanan.
Ikan bakar yang sudah disiapkan kak Hasyim menggoda seleraku. Dimasak dengan bumbu dan tidak dibakar langsung di atas api, tapi menggunakan semacam mangkuk stainles bergagang ebonit yang diolesi dengan mentega. Banyak peralatan masak yang dibawa mereka masuk ke dalam hutan. Termasuk panci penanak nasi, kompor kecil dan gas dalam tabung mini. Begitulah cara orang kota yang modern berlibur masuk hutan. Ribet.
Mereka juga membawa alat penyaring air minum. Mereka tak berani meminum air sungai langsung, melainkan harus dimasukan ke dalam alat yang mereka sebut filtrasi baru dimasukan ke dalam botol-botol air persediaan minum mereka. Sungguh merepotkan.
"Alat ini namanya filtrasi. Fungsinya untuk memastikan kondisi air higienis dan layak minum." terang kak Hisyam ketika tadi aku membantunya memasukan air yang telah disaring alat itu ke dalam botol-botol persediaan air minum mereka.
Kak Bray sama sekali tidak membantu kegiatan kak Hisyam. Dia sibuk berlatih memanah. Entah apa targetnya. Aku melihat kalau ada buah jatuh karena anak panahnya ia tertawa bangga. Kupikir targetnya adalah memanah buah-buahan.
"Kak Hisyam pandai memasak."
"Iya, ikan bakarnya sangat enak."
"Keluargaku punya rumah makan di Ternate. Kapan waktu mas Bray mampirlah ke sana."
"Pasti." Bray mengacungkan jempolnya.
Oh, kak Hisyam ternyata asli Ternate. Aku menyimpulkan sendiri identitas kedua teman baruku melalui percakapan saja. Tak berani bertanya-tanya langsung.
__ADS_1
"Minggu depan mas Bray masih di sini atau sudah kembali ke Jakarta?"
"Lusa aku balik ke Jakarta. Urusan di sini sudah selesai."
"Kapan mau menyelam di pulau Kei? Sa siap temani mas Bray."
"Tunggu kabar aja." jawab Bray ringan.
Aku tak berani ikut nimbrung obrolan dua pria itu. Lebih baik sibuk menikmati ikan bakar yang dimasak kak Hisyam. Perut kenyang lebih penting dari apa pun.
Jadwal mereka ternyata masih padat. Mereka berencana jalan-jalan masuk hutan menuju goa Melisa untuk menjelajah keindahan stalaktit dan stalakmit serta ekosistem goa alami di dalam goa yang namanya diambil dari nama ahli Botani Amerika yang meneliti ekosistem hutan di kawasan TNAL itu.
Jadi tak enak hati. Aku ingin segera pulang supaya tidak merepotkan teman-teman baruku. Mana tega aku melihat kak Hisyam lari-lari menuntun kuda seperti tadi. Apalagi aku ingin segera menemui mama untuk bertanya mengapa makam baba dipindah tanpa persetujuanku. Banyak urusan dalam kepala yang harus segera diselesaikan.
"Tak perlu antar sampai rumah. Kak Hisyam cukup tunjukan arah jalan pulang saja. Sa bisa pulang sendiri. Sa yakin ini su dekat. Dengan berjalan kaki menyusuri tepi sungai pun akan sampai di rumah. Sa hanya perlu petunjuk pasti arah ke hulu atau ke hilir."
Sebenarnya kalau diperkenankan aku ingin meminjam GPS tracking itu saja. Tapi tentu saja itu mustahil. Mereka lebih membutuhkan alat itu sebab rute perjalanan mereka lebih panjang dan harus masuk ke wilayah hutan. Sedangkan aku hanya tinggal menyusuri sungai saja.
"Ngana yakin bisa pulang sendiri?"
"Yakin."
"Ngana su sehat betul?"
"Tentu. Terima kasih sudah menolong serta memberi makan dan minum yang banyak." ujarku malu-malu.
Kak Hisyam mengambil GPS tracking dari saku celananya.
"Rumah ngana sekitar 4 kilometer dari sini. Menyusuri sungai ke arah hulu."
Benar dugaanku. Rumahku tak terlalu jauh dari sini.
"Terimakasih untuk semuanya. Sa yakin sudah bisa pulang sendiri."
"Sa kabari Arfa ya. Maaf, sa tak bisa antar ngana sekarang. Sa harus temani mas Bray ke goa Melisa dulu."
"Tak apa. Sa yang bingung bagaimana harus balas kebaikan budi kak Hisyam. Sa hutang nyawa."
"Kita teman. Tak perlulah merasa begitu."
__ADS_1
Aku pamit dengan melambaikan tangan pada kak Bray yang kembali asyik berlatih panah. Dia pun membalas dengan lambaian tangan dari jarak yang cukup jauh. Senyumnya masih mengandung kafein, bikin semangat dan jantung berdebar cepat. Akh... kak Bray.