LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
PENGAKUAN


__ADS_3

Nenek keluar dari kamarnya dengan didorong bi Siti. Sempat berpapasan dengan Gufron namun tak saling tegur sapa. Aku bingung ada apa dengan keluarga ayahku. Mengapa tak terasa ada kehangatan dalam hubungan mereka. Kupikir dalam adat kebiasaan mana pun sudah selayaknya cucu menghormati neneknya. Sementara Gufron langsung naik tangga tanpa bicara sepatah kata ketika berpapasan dengan nenek.


Nenek menyambutku dan Bray dengan senyum manis seolah tak ada hal yang mengganjal atas apa yang dilakukan Gufron barusan. Timbul pertanyaan di benakku, apa kejadian seperti ini biasa terjadi di rumah ini.


Bray mendekati nenek, menyalami dan mencium punggung tangannya. Nenek mengusap-usap punggungnya dengan lembut.


"Saya Firdaus Sanjaya, Nek. Temannya Fifa."


"Kata Fifa tadi mau ketemu bosnya di kedai."


"Bukan bos, Nek. Tapi teman. Kami terikat kontrak kerja sama, bukan kontrak kerja pegawai." terang Bray dengan gaya bicara yang santun.


Dalam hati aku menggerutu. Kontrak memang judulnya kerja sama, tapi sejak perencanaan sampai saat ini dia semua yang mengendalikan. Sama saja kedudukanku dengan pesuruh.


Nenek mengangguk-angguk senang dengan jawaban itu. Ekspektasi nenek tentang aku bertambah tinggi. Padahal aku masih anak pedalaman yang kurang pergaulan dan harus banyak belajar. Selama ini aku hanya boneka yang mengerjakan kegiatan sesuai rencana kerja yang sudah ditetapkan. Lebih kurangnya Jim dan Bray yang mengatur dan memberi saran alternatif, bukan ide yang muncul dari kepalaku sendiri.


"Terima kasih sudah menjadi teman Fifa. Tolong bantu jaga dia ya. Fifa ini cucu perempuan nenek tertua yang baru saja muncul dari tempat persembunyian. Ayahnya sudah lama pergi merantau tanpa kabar. Begitu dengar kabar rupanya sudah jadi tanah."


Bray gantian mengusap-usap punggung nenek yang kembali sedih saat mengingat anak lelakinya.


"Nenek tak bisa lama-lama menemani kalian. Nenek senang kalau Fifa banyak kawan. Silakan dilanjut ngobrolnya. Nenek mau istirahat. Barusan habis minum obat. Kepala jadi berat." keluh Nenek sambil tersenyum tipis


Tentu saja kami maklum. Untuk orang seusia nenek dengan kondisi tubuh yang renta memang butuh istirahat lebih banyak meski mungkin tak bisa benar-benar terlelap. Bray dengan inisiatif sendiri ikut mengantarkan nenek sampai depan pintu kamarnya. Dia terlihat memiliki empati dan lebih perhatian daripada Gufron, cucu kandungnya sendiri.


Aku jadi tertarik membahas soal Gufron. Tapi nanti saja kalau situasinya lebih nyaman dan kondusif. Sedikit banyak Bray pasti lebih tahu tentang Gufron yang sikapnya acuh dan misterius. Pasti ada 'sesuatu' yang terjadi di rumah ini hingga suasananya kurasa dingin dan tak bersahabat.


"Aku mau terus terang soal sesuatu. Kupikir daripada kamu tahu dari orang lain lebih baik aku yang terangkan sendiri. Biar tidak jadi salah paham ke depannya."

__ADS_1


"Tentang apa?" tanyaku sambil membereskan cangkir kopi dan toples penganan ringan yang dibawa asisten rumah tangga nenek untuk kami.


Aku mempersilakan Bray menikmati suguhan yang disediakan bibi asisten yang aku belum kenal namanya. Ada banyak orang yang bekerja di rumah ini. Aku baru mengenal 3 orang asisten setia yang bergantian merawat nenek dan membersihkan ruangan lantai satu.


"Aku mau bicara tentang Aga."


"Kenapa dengan Aga? Apa aku harus melepasliarkan Aga sesuai kesepakatan awal?" tanyaku agak keras.


Terus terang aku masih merasa sulit berpisah dari teman curhat yang satu itu. Sudah merasa satu hati. Baru 3 hari di Makassar saja, aku sudah kangen Aga. Kangen celoteh dan tingkah manjanya.


Bray sedikit ragu. Terdengar tarikan nafasnya yang panjang. Pria itu cukup berhati-hati menghadapiku yang tidak dalam posisi memujanya lagi. Aku bisa bersikap keras mempertahankan egoku. Dia sudah bisa membaca gelagat itu.


"Dokter Hans belum cerita sesuatu tentang Aga?"


"Tidak. Sepertinya malah belum pernah tahu tentang Aga. Dokter Hans belum pernah berkunjung ke rumahku."


Bray mengendurkan tarikan nafasnya.


Entah apa tujuannya mengungkap ini.


"Aku trenyuh setelah mendengar sebagian kisahmu dari Arfa. Aku minta maaf soal kebijakan pemindahan seluruh warga kampung ke luar wilayah konsesi kami."


Buat apa dia bahas luka itu lagi. Padahal aku sudah hampir lupa.


"Aku juga turut berduka, Fifa. Itu sebabnya aku berusaha mencari cara agar kamu tak terlalu larut dalam kesedihan. Aku tahu kamu melakukan semua karena cinta pada ayah dan tanah kelahiranmu. Kebetulan aku punya program konservasi hewan endemik hutan Lolobata yang ternyata lebih dominan dari jenis burung. Antara program dan kecintaanmu ternyata berjodoh." Bray senyum senyum sendiri. Mungkin yang dipikirkannya sedikit meleset dari apa yang keluar dari mulutnya. Aku tak peduli.


Aku mengambil gawaiku dari dalam tas dan menunjukannya, "Hp ini juga ide mas Bray?"

__ADS_1


Bray mengangguk.


Aku membuang nafas sedikit kasar. Tertipu aku oleh benda pipih yang sekarang sudah dominan menguasai sebagian kehidupanku. Mau dibanting, sudah terlanjur sayang. Bagaimana dong? Masak demi ego aku harus kehilangan benda yang belakangan ini telah berjasa memberiku banyak pengetahuan dan menghubungkanku dengan lebih banyak teman dan saudara.


Kalau soal konsep aviary dan yayasan konservasi itu aku sudah menduga pasti ide Bray. Tak mungkin Arfa atau kak Hisyam punya ide yang berkaitan dengan pengelolaan program pertanggungjawaban sosial perusahaan. Keduanya tidak menduduki posisi strategis dalam manajemen perusahaan itu. Apalagi kalau dilihat dari segi pendanaan. Hanya orang selevel Bray yang mampu membiayai ide itu tanpa berpikir panjang. Dia pasti merasa bersalah soal nuri itu dan tengah berusaha menebus kesalahannya.


"Kamu nggak marah kan?"


"Marah? Untuk apa marah? Aku justru berterima kasih. Itu bagian dari proses pembelajaran hidup. Kalau tidak berurusan dengan ide konservasi burung, mana mungkin aku bertemu kak Andi Syarif yang akhirnya mempertemukan aku dengan keluarga baba di sini." Akhirnya aku menemukan jawaban bijak. Bagaimanapun usaha Bray telah mengubah hidupku menjadi lebih berarti dan berharga bagi makhluk lain. Aku tidak lagi terpuruk dalam kesedihan tak berujung.


Bray tersenyum lega.


"Kamu bahagia bertemu keluarga ayahmu?"


Pertanyaan itu sulit kujawab. Pertemuan tentu membuahkan kebahagiaan. Tapi aku tak menyangka begini keadaan keluarga baba. Aku syok tiba-tiba dapat tanggung jawab mengelola harta pemberian dan warisan keluarga baba. Ini berat sekali. Apa lagi aku melihat tak semua anggota keluarga suka dengan kehadiranku. Apalagi mendukung keputusan nenek soal serah terima harta itu. Entah mengapa aku merasa keselamatan diriku terancam oleh keluargaku sendiri.


"Apa mas Bray sudah tahu sebelumnya siapa keluarga ayahku?"


Bukannya menjawab. Aku malah balik bertanya pada Bray. Barangkali saja ini adalah bagian dari konspirasinya. Buktinya ia sudah lebih dulu kenal Gufron. Bukan tidak mungkin dia memata-mataiku sampai sedalam itu. Apapun bisa dilakukan kalau punya uang dan kuasa.


"Ayahku sudah kenal lama dengan almarhum kakekmu. Pernah kerjasama di tambang nikel Soroaka. Kalau Gufron hanya kenal sepintas lalu. Aku sama sekali tak menyangka kalau kamu bagian dari keluarga pebisnis yang punya beberapa perusahaan yang beroperasi dalam skala nasional. Maaf kalau kukatakan jujur, kondisimu dan Gufron sangat berbeda."


Bray benar. Kami adalah bagian keluarga yang telah terbuang. Kalau boleh memilih, lebih baik aku tak menandatangani apa yang diinginkan nenek di kantor notaris itu. Paman jelas jelas mengemukakan keberatan. Keluarganya pasti berpendapat sama. Aku takut ini jadi bumerang buat kehidupanku kelak. Aku tak mau ribut masalah harta. Apalagi dengan saudara sendiri.


Masalahnya siapa yang bisa menolak keputusan nenek? Dia yang paling dihormati dalam keluarga ini. Paman pun tak berdaya. Nenek dengan tubuh rentanya berani menjalankan sebuah keputusan yang menurutnya adil buat semua anak cucunya. Setidaknya nenek telah memperjuangkan hak kami. Tak wajar bila aku menolak dengan alasan yang masih berupa kecemasan dalam pikiran. Takut begini takut begitu. Semua itu baru dugaan yang timbul dalam pikiranku karena ketidaksetujuan paman dan sikap dingin keluarganya. Belum tampak bukti yang nyata bahwa mereka memusuhiku. Aku memang pengecut.


Mobil penjemput tiba beberapa saat setelah Bray menuliskan pesan dan mengirim lokasi pada pengawalnya. Bray pamit kembali ke hotel setelah puas menyampaikan sesuatu yang mungkin mengganjal hatinya selama ini. Namun dia tetap bersikukuh tidak bersalah atas pembunuhan nuri itu. Malam ini dia cuma mengungkapkan jasanya mengubahku menjadi lebih terbuka terhadap perubahan jaman. Sepertinya dia ingin dianggap pahlawan dalam hidupku.

__ADS_1


"Salam buat nenek dan pamanmu. Jangan lupa tunggu aku ya! Aku sedang berjuang untuk kita." katanya lirih tepat di belakang telingaku.


Ah, gombal. Aku tak percaya. Bray berjuang untuk ambisinya sendiri. Kebetulan saja untuk urusan konservasi ini melibatkan aku yang 'putera daerah' dan aku suka terjun di dalamnya. Dia hanya memanfaatkan kecintaanku pada burung-burung liar dan nuansa alam sekitar hutan. Dalam bisnis selalu ada imbal balik. Tak ada yang benar-benar tulus. Motivasi utamanya pasti uang, uang dan uang.


__ADS_2