LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
TELEPON DINI HARI


__ADS_3

Malam itu aku yang kelelahan masih harus menyelesaikan anyaman tas pandan pesanan mama Moli yang akan diambil besok pagi. Terpaksa harus lembur sampai dini hari gara-gara banyak urusan yang di luar rencana seperti kembalinya Aga, kedatangan Andi dan urusan lainnya. Kapok. Lain kali aku tidak akan menerima pesanan paksa seperti ini. Sungguh menyiksa dan melelahkan. Aku tak bisa menurunkan kualitas anyaman dengan alasan produksinya terburu-buru. Tidak juga bisa mengulur waktu yang akibatnya dapat melanggar komitmen yang telah kami sepakati. Mau tak mau kukerjakan sampai dini hari.


Ting. Gawaiku berbunyi. Pesan di tengah malam menuai rasa penasaran. Aku segera menaruh tas pandan yang kebetulan baru saja selesai kuanyam dengan rapi di atas meja.


Ehm, pesan dari nomor baru yang tidak kukenal.


Kuabaikan saja. Biasanya pesan dari nomor tak dikenal isinya cuma sampah. Entah iklan produk, pesan hadiah yang ujung-ujungnya penipuan atau pesan nyasar yang tidak jelas juntrungannya.


Kumatikan lampu ruang tamu lalu pergi ke kamar tidur dengan gawai di tangan. Penat sekali tubuhku. Mataku pun sudah mengantuk. Harus segera tidur sebab biasanya esok kepalaku sakit kalau kurang tidur. Aku bukan seorang workaholic dan terbiasa tidur cukup 6 - 8 jam sehari.


Iseng kubaca pesan dari nomor tak dikenal itu dalam perjalanan ke tempat tidur.


Fifa, besok ke kantor jam 16.30 WIT ya. -Firdaus Sanjaya-


Ya ampun, tengah malam bos muda itu mengirim pesan hanya untuk sebuah perintah datang ke kantornya. Dasar bos gila. Entah bagaimana rasanya jadi karyawan yang punya bos macam ini. Kak Hisyam pasti punya kesabaran ekstra menghadapi bos yang suka main perintah tanpa kenal waktu begini.


Terbersit keinginan membalas pesan dengan permintaan jadwal ulang pertemuan agar Andi dapat menemaniku. Tapi akh ... malas. Jari-jariku sudah enggan bergerak. Besok sajalah dibicarakan lagi. Hari sudah menjelang pagi dan aku harus segera tidur. Ngantuk berat.


Setelah mematikan lampu, aku segera merebahkan diri di tempat tidur kayu yang beralaskan tikar pandan. Kuletakkan gawaiku di meja kecil sebelah tempat tidur.


Tak lama kemudian gawai itu menyala dan berdering nyaring.


Mengganggu saja. Siapa sih yang menelpon dini hari begini. Tak sopan. Tidak tahu ini jam orang istirahat tidur. Aku menggerutu kesal namun kuangkat juga telepon dari nomor tak dikenal itu.


"Kenapa dibaca doang?"


Kujauhkan gawai dari telinga karena terkejut mendengar suaranya. Tanpa salam langsung bertanya dengan nada protes keras. Semua orang pasti kesal mendapat telepon tengah malam yang model begini.

__ADS_1


Sengaja aku tak langsung merespon. Kubiarkan saja pria tak punya sopan santun itu dengan asumsi dan pikirannya sendiri. Semoga dia sadar kalau kelakuannya mengganggu jam istirahat orang lain. Entah apa maksudnya. Masalah sekecil itu saja sampai perlu dibahas dengan mengganggu jam tidur orang.


"Aku tahu kamu masih melek, Fifa. Kenapa pesanku tidak dibalas?" Dia masih komplain untuk hal yang sama. Kali ini nada bicaranya sedikit menurun dan terdengar lebih manis di telinga.


"Maaf, aku ngantuk. Ini jam tidur, kak. Tidak bisakah dibahas besoj pagi saja?"


"Apa susahnya jawab oke. Kan cuma ngetik dua huruf. O dan K."


Tanganku sudah kelu. Mengetik 2 huruf pun sudah tak sanggup. Maunya membalas dengan kata seketus itu tapi yang keluar di mulut malah kata, "Maaf."


Entahlah, daya magisnya begitu kuat. Padahal jelas hatiku masih kesal dengan kelakuannya, tapi kenapa malah aku yang minta maaf.


Bray tertawa pelan. Aromanya terdengar seperti sedang merayakan kemenangan kecil. "Datang tepat waktu ya. Jadwalku padat."


Otoriter banget sih. Sok sibuk. Siapa juga yang butuh ketemu buru-buru. Aku belum setuju dengan penawarannya. Tidak ada haknya sama sekali buat memerintah aku begitu. Aku orang merdeka, bukan pegawai atau orang suruhan.


"Re-schedule aja kalau begitu." jawabku dingin dan ketus. Seiring dengan dinginnya angin malam yang masuk lewat celah-celah dinding papan rumah kami, otakku makin terasa beku. Lelah dan kantuk lebih menguasaiku.


"Eh, jangan ditunda. Harus besok, Fifa. Kebaikan itu tak boleh ditunda."


Kuiyakan saja karena malas berdebat. Aku tak paham kebaikan apa yang dimaksud. CSR untuk konservasi mungkin cuma akal-akalan agar citra perusahaannya dianggap baik oleh masyarakat.


Mataku sudah 5 watt. Aku benar-benar mengantuk dan tak ingin apa pun kecuali tidur.


"Oke. Aku tunggu di kantor besok ya. Selamat tidur, Fifa. Mimpi yang indah ya." Dia menutup telepon dengan nada manis dan suara decakan yang membuat hatiku mendadak berbunga.


Mauku membalas dengan mengucap kata yang sama untuknya tapi sambungan telepon terlanjur ditutup.

__ADS_1


Aku lupa, bos tak pernah bicara dua arah. Kalimat yang diucapkannya hanya berisi perintah dan pemberitahuan yang tak perlu direspon. Kelakuannya pun bagai hantu jailangkung, datang tak diundang pulang tak diantar. Suka suka hatinya saja. Jawabanku sama sekali tak penting buatnya. Dasar penggangu. Kelakuannya manis-manis menyebalkan.


Kutaruh lagi gawai itu di atas meja. Jam telah menunjukan pukul 1 pagi. Suara Bray masih terdengar segar pada dini hari. Entah sudah bangun dari tidur atau masih beraktivitas pada dini hari begini.


"Selamat tidur, Fifa. Mimpi indah ya." Suara dan kalimat manis itu terus terngiang-ngiang di dalam kepala. Mungkin begitulah cara gelombang magisnya bekerja mempengaruhi kerja otakku.


Mataku yang semula sudah redup kini malah sulit diajak terpejam meski posisiku sudah berbaring nyaman. Lampu pun telah padam. Suara serangga malam di kejauhan mengusik kesepian malam menjelang pagi.


Baru kali ini ada pria selain baba yang mengucapkan selamat tidur dan membuat hatiku dipenuhi bunga mengingat senyum manisnya. Ya Tuhan, aku jadi kangen baba. Aku kangen ceritanya saat menjelang tidur. Aku kangen belaian tangannya pada rambut atau punggung kami sebagai pengantar tidur. Biasanya aku dan Fifi berebutan ingin sama-sama diusap-usap rambut atau punggungnya sampai tertidur.


Baba sudah berusaha adil menggunakan kedua tangannya untuk membelai dua anak gadisnya yang saling iri. Tapi kami masih saja sering bertengkar. Sebabnya sepele, sama-sama ingin dibelai dengan menggunakan tangan kanan.


"Aku nggak mau dielus pakai tangan kiri." kata Fifi sambil melotot ke arahku.


"Aku juga nggak mau." Kubalas dengan menjulurkan lidah dan pandangan mata yang sama.


"Tangan kiri kan biasa buat cebok. Aku nggak mau diusap pakai tangan kiri."


Kami sama-sama ngotot tak mau kalah. Akhirnya baba malah menarik tangannya berhenti membelai keduanya.


"Tangan baba cuma 2, kanan dan kiri. Kalau tidak ada yang mau mengalah baba nggak mau usap-usap punggung kalian lagi." Baba marah dan bersiap hendak pergi meninggalkan kami.


Aku mencebik ke arah Fifi. Begitupun sebaliknya.


"Jangan pergi, Ba! Fifa nggak apa-apa kok diusap pakai tangan kiri." ucapku sambil tersenyum manja. Fifi melonjak gembira karena merasa menang.


"Tapi nanti kalau Fifi sudah tidur, Fifa diusap pakai 2 tangan ya, Ba." rayuku dengan berbisik lembut di dekat telinga baba.

__ADS_1


Sebagai kakak aku memang harus sering mengalah, tapi dengan trik-trik tertentu aku sebenarnya justru diuntungkan. Dengan pura-pura nengalah aku menang banyak hal lain yang Fifi kadang tidak sadar atau malah tidak tahu menahu. Hahaha... itulah liciknya aku.


__ADS_2