LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
KABAR SALMAN 2


__ADS_3

Kabar tentang kembalinya Salman membuatku merasa sangat bahagia. Kami merasa kembali mempunyai sosok lelaki pelindung keluarga. Ini adalah anugerah terindah buat kami. Salman masih hidup dan tak kurang sesuatu apapun. Dia sudah berhasil menamatkan pendidikan tinggi. Aku bangga pada perjuangan dan tekat kerasnya untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Salman memang hebat.


Mama kembali ke beranda dengan membawa secarik kertas.


"Kemarin mama khawatir banget sama kamu, Fifa. Sampai lupa mau berbagi kabar baik ini." kata mama sambil merekahkan senyum dan menyerahkan kertas itu padaku.


Mama agak lebih banyak bicara hari ini. Senyum tak henti mengembang di bibirnya. Aura kebahagiaan dan semangat hidup terpancar jelas dari ekspresi dan segala tingkah lakunya. Tidak seperti aku yang masih dibayangi ketakutan akan kedatangan pemanah misterius itu.


Aku segera mencatat nomor yang tertulis di kertas itu dalam daftar kontak di gawaiku.


"Telepon dia sekarang ya, Fa!" Mama tampak tak sabar. Padahal aku baru saja selesai menyimpan nomor Salman.


Aku pencet gambar gagang telepon berwarna hijau di gawaiku. Sambungan telepon langsung terhubung dan diangkat.


"Assalamu'alaikum."


Terdengar suara berat dari telepon yang kuaktifkan pengeras suara luar agar mama dapat ikut mendengar dan berbicara.


"Wa'alaikumsalam. Kaukah itu Salman? Ini mama, Nak." Mama langsung menyahut dengan antusias sekali.


"Apa kabar, Ma? Fifa sudah pulang?"


"Sudah, Nak. Fifa sudah sampai rumah dengan selamat kemarin sore. Dia dapat musibah. Teman baiknya kena panah beracun waktu ziarah ke makam baba." Mama langsung mengadu pada anak lelaki kesayangannya tentang peristiwa kemarin.


"Katanya racunnya sama persis dengan racun yang ada pada anak panah yang membunuh baba. Untungnya Fifa punya insting baik dan sempat menarik temannya hingga anak panah itu tidak kena jantungnya. Kalau tidak, mungkin dia terbunuh seperti babamu. Karena insiden itu, mama baru ingat telepon kamu sekarang. Kemarin Fifa harus memastikan temannya dapat pertolongan dokter secepatnya. Dia juga diperiksa polisi. Sekarang rumah kita dijaga polisi dan satpam. Takutnya pembunuh itu datang lagi."


"Bagaimana keadaan Fifa sekarang?"


"Baik. Tapi dia masih takut. Sering kaget dan mencurigai sesuatu padahal nggak ada apa-apa."


"Ini nomor Fifa kan, Ma?"


"Iya. Ini nomor Fifa. Kau simpan ya, Nak. Nanti Fifa juga akan kirim nomor Fifi. Mama tak punya hp hehehe."


Mamaku berubah lebih cerewet pada anak lelakinya. Aku senang mama tampak lebih bersemangat setelah mendapatkan kembali anak yang selama ini hilang tanpa kabar.


"Boleh Salman ngomong dengan Fifa?"

__ADS_1


"Tentu boleh. Bicaralah, Fifa! Kakakmu kangen suaramu." Mama menyerahkan gawai padaku dengan setengah hati. Aku tahu sesungguhnya mama masih ingin melepas kangen dengan anak lelakinya. Salman saja yang kurang peka.


"Ubah aja jadi panggilan video ya. Salman penasaran seperti apa Fifa sekarang."


Tuuut... Salman mengakhiri panggilan suara lalu kembali menelpon dengan panggilan video.


Tampaklah wajah manis yang kata mama mirip dengan baba. Kurasa memang mata mama agak rabun. Salman lebih mirip mama dibandingkan dengan baba. Hidungnya tinggi, berambut kecoklatan, dan matanya tajam layaknya ciri khas orang keturunan suku Lingon. Bola matanya berwarna abu-abu gelap.


"Hai, Fifa. Kamu sudah besar sekarang. Makin cantik."


Aku tersipu. Bingung mau ngomong apa kalau dipuji begini. Aku hanya mampu menjawab, "Hai, Kak."


Susah sekali otak ini mencari kata yang tepat untuk menyapa kakakku yang sudah lama hilang dan tak ada komunikasi sama sekali. Rasanya sama canggungnya dengan berkomunikasi dengan orang asing yang baru pertama kali ini bertemu muka.


"Berapa lama di rumah nenek?"


"10 hari."


"Kabar nenek dan keluarga paman bagaimana?"


"Baik. Kakak bisa cuti nggak hari jum'at besok? Kita sama-sama menjenguk nenek di Makassar. Maaf! Waktu kemarin ketemu nenek Fifa bilang kak Salman sudah belasan tahun tak ada kabar. Nenek pasti sangat senang kalau bisa bertemu kak Salman."


"Harus bisa, Salman. Kamu harus ketemu Fifi dan nenek. Adik bungsu kamu masih bayi waktu kamu nekat pergi ikut kak Tari sekolah ke Jawa." Mama menarik gawaiku agar bisa melihat dan berbicara dengan Salman.


Salman tersenyum. Mungkin kenangan nekat pergi demi melanjutkan pendidikan adalah kenangan yang paling penting dalam sejarah hidupnya. Seorang anak usia 12 tahun pergi mengadu nasib tanpa bekal apa-apa.


"Salman kirim KTP aja. Nanti Fifa pesankan tiketnya supaya kita bisa berangkat sama-sama. Tempo hari Fifi cuma diminta kartu identitas saja terus tiketnya langsung dikirim lewat telepon. Jaman sekarang canggih, Nak. Adikmu Fifa itu pintar dan beruntung. Dia berteman dengan orang-orang hebat. Sekarang dia berkawan dekat dengan direktur, anak pemilik perusahaan tambang nikel besar yang ada di pinggir hutan itu."


Ampun deh mama. Benar-benar cerewet ingin diperhatikan anak lelaki satu-satunya. Segala hal diceritakan persis mama-mama rempong yang suka ghibah. Aku yang jadi malu karena jadi obyek yang dibicarakan.


"Salman harus mengajukan cuti dulu, Ma."


"Kabari secepatnya ya, Nak." Mama kembali menguasai gawaiku. "Kalau atasanmu tidak mengijinkan cuti, biar mama yang menghadap."


Aku tersenyum sendiri. Tiba-tiba saja mamaku berubah jadi sok berani. The power of emak-emak tumbuh begitu saja. Wajar sih. Mama pasti masih kangen pada Salman. Bertemu beberapa jam belum menghapus rindu yang sudah belasan tahun terpendam dalam diamnya. Rindu yang berbalut kesedihan panjang tanpa tahu kabar puteranya masih hidup atau sudah mati. Saat sang putera harapannya pulang dalam keadaan sehat, kebahagiaannya pasti meluap sampai tumpah ke mana-mana.


"Mama ingin kita punya waktu berkumpul bersama keluarga. Kalau kata Fifi istilah kerennya itu family time. Sekarang ini waktu yang paling tepat. Mumpung nenek dan mama masih hidup. Baba, kakak dan adik lelakimu sudah meninggal, Salman. Kamu akan menyesal kalau tidak meluangkan waktu untuk bertemu sisa keluargamu sekarang." Mama bicara berapi-api. Kekuatan suara hati ibu yang bicara dan memaksa harus diiyakan.

__ADS_1


"Iya, Ma."


Mama tersenyum puas lalu menyerahkan kembali gawai padaku yang tersenyum-senyum melihat ulahnya. Hari ini mamaku jadi emak rempong.


"Kak Salman sudah lama dinas di Jailolo?"


"Baru sekitar 5 bulan. Setelah lulus seleksi penerimaan pegawai tidak tetap, ada pelatihan dan pembekalan teknis dulu selama 3 bulan di Bogor sebelum diterjunkan ke lapangan."


"Kenapa baru sekarang pulang kampung? Memangnya nggak kangen sama kita?"


"Bukan nggak kangen. Dananya belum cukup. Bayaran gaji aku masih sering terlambat. Selain itu aku harus menyisihkan gaji buat bayar hutang jadi belum bisa nyicil sepeda motor. Kemarin itu dibujuk teman yang hobi touring motor jadi nekat pulang kampung pakai motor dinas bersama dia." Salman terlihat malu buat mengungkap keadaannya yang belum mapan.


Sebagai pegawai tidak tetap yang masih tergolong baru, Salman belum bisa berbuat banyak. Sifat mandirinya itu mirip dengan baba. Tak mau menyusahkan orang lain dan tak pernah memaksakan diri jika belum mampu. Dia juga sebenarnya enggan menggunakan fasilitas dinas untuk kepentingan pribadi.


Alhamdulillah. Aku sedikit lega dengan anugerah hari ini. Pada saat aku kebingungan bagaimana mengelola perkebunan, muncul Salman yang ternyata lulusan sarjana terapan sebuah perguruan tinggi yang dikelola oleh departemen pertanian. Rasanya separuh bebanku lenyap begitu mendengar kabar baik ini.


"Diusahakan banget bisa ke Makassar hari jum'at ya, Kak. Kalau jum'at nggak bisa cuti, ambil penerbangan sore aja. Nanti dijemput di bandara."


"Iya, nanti kakak kabari lagi pastinya ya."


"Sip." Aku mengacungkan ibu jari sambil tersenyum.


Salman terlihat mengamatiku lalu tersenyum sedikit nakal. Entah apa yang sudah diceritakan mama tentang aku hingga Salman menatapku tajam. "Adik kakak sudah dewasa dan makin cantik. Pantas kata mama banyak yang ngantri mau melamar. Kamu belum cerita soal teman dekatmu yang diceritakan mama. Aku mau tahu bagaimana cara gadis pedalaman kayak kamu bisa berteman dengan direktur sebuah perusahaan besar."


Ah, sebel. Gara-gara mama berubah rempong aku jadi ditanya-tanya Salman tentang hubunganku dengan Bray.


"Nanti saja kalau kita ketemu langsung. Silakan kakak lanjut kerja! Jangan kebanyakan mencuri waktu kerja. Ada yang bilang itu namanya korupsi waktu. Kakak dibayar pakai uang negara lo." Tiba-tiba saja aku menemukan suatu alasan jitu untuk mengakhiri panggilan video ini.


"Oh iya. Nanti sore setelah selesai jam kerja kita ngobrol lagi ya."


"Iya. Sebentar lagi Fifa mau berangkat ke kantor yayasan. Selamat bekerja, Kakak."


Aku yang sudah bersiap memencet gambar gagang telepon berwarna merah mengurungkan niatku.


"Tunggu dulu! Kamu bekerja di yayasan apa?"


Rupanya Salman penasaran.

__ADS_1


"Ngurus konservasi burung khas hutan Lolobata. Kak Salman kalau mau tahu aktivitas yayasan bisa buka website kami. Tolong promosiin ke teman-teman kakak ya." Aku menyebutkan alamat website yayasan Bidadari Halmahera yang kukelola. Mana tahu kawan kak Salman banyak dan sukarela getok tular hingga konten website kami banyak pengunjungnya dan bisa dimonetisasi.


__ADS_2