LAGU CINTA DI LOLOBATA

LAGU CINTA DI LOLOBATA
KOPRA


__ADS_3

Aku masih tak habis pikir. Bagaimana mungkin Arfa yang dituduh melakukan percobaan pembunuhan terhadap Bray. Pikiranku tak henti-henti berusaha mengingat dengan baik pemanah Bray yang sekilas memang postur tubuhnya mirip dengan Arfa. Menyangkal aku tak bisa. Ingatanku berkata demikian. Memastikan benar itu Arfa rasanya bertolak belakang dengan kata hatiku yang lain. Aku terjebak dalam kebingungan dan keresahan yang dalam.


Hari sudah menjelang sore saat Santi mengantarku ke kantor yayasan. Sebenarnya Santi memintaku untuk istirahat hari ini tapi aku menolak. Di rumah yang sepi membuat resahku makin menjadi-jadi memikirkan nasib Arfa dan kebenaran berita-berita yang disampaikan mama mama itu. Aku ingin melepas beban pikiran. Rinduku pada Aga sudah tak tertahankan. Aku berkeras memaksa singgah sebentar ke kantor yang kukira dapat mengobati keresahan hatiku dengan bercengkrama dengan nuri yang pintar nan ramah itu.


"Assalamu'alaikum." Aku mengucap salam saat masuk ke dalam aviary ditemani Santi dan dokter Farhana.


"Assalamu'alaikum. Assalamu'alaikum." Aga mengulang salamku. Sikapnya acuh. Sekedar menirukan tanpa memperhatikan kedatanganku.


Ada kata yang hilang setelah salam. Tak ada kata cantik lagi. Mungkin begitulah yang dilihat Aga. Sekarang aku tak lagi cantik. Wajar. Wajahku masih belang dan lukaku belum sembuh.


Tak ada tatapan hangat menyambutku. Biasa saja. Burung nuri kepala merah itu tetap bertengger di dahan pohon sonokeling.


"Wa'alaikumsalam. Aga. Apa kabar?"


"Assalamu'alaikum. Assalamu'alaikum. Baik. Baik."


Kutunggu selama beberapa menit dengan tangan terulur. Dalam hati berharap Aga akan hinggap di tanganku dan memohon untuk kubelai bulunya yang halus sebagaimana yang biasa dilakukannya kepadaku. Aku merindukan sikap manjanya.


Tanganku pegal tapi Aga tak kunjung hinggap di tangan. Malah terbang menjauh. Berpindah ke dahan yang lebih tinggi. Aku menatapnya dengan kecewa.


Dokter Farhana menaruh sepotong pepaya di sebuah tempurung kelapa yang diikat pada batang pohon yang membentuk sudut 90 derajat dengan salah satu dahan pohon sonokeling. Aga langsung turun menghampiri dan mematuk pepaya yang diletakkan dokter Farhana di tempurung kelapa itu. Dia makan dengan lahap hidangan sore itu.


"Baik. Baik. Apa kabar." ocehnya sambil mengangguk-angguk lalu kembali mematuk makanannya.


Tingkahnya masih tampak lucu. Aku tersenyum walau sedih karena Aga tak mengenaliku lagi. Dia tak merindukanku yang sudah beberapa minggu ini tak pernah bersua dan mengurusnya. Rinduku bertepuk sebelah tangan. Hanya rindu sendiri.


"Aga tak mengenaliku lagi, dokter." ucapku pilu.


"Ingatan seekor burung tak sebaik ingatan manusia, Fifa." hibur dokter Farhana seraya mengembangkan senyum dan menepuk bahuku.


Aku membalas dengan senyum terpaksa. Hanya untuk menghargai usaha dokter Farhana menghiburku.


"Alhamdulillah Aga sehat. Kami berencana menaruh 2 ekor nuri betina di aviary ini supaya dia tidak kesepian. Bagaimana pendapatmu?"


"Setuju." jawabku tanpa perlu berpikir. Sudah saatnya Aga punya pasangan agar dapat berkembang biak.


"Kalau begitu besok kami akan pindahkan 2 ekor nuri betina dari kandang penangkaran ke aviary kecil ini."


"Dokter tak harus nunggu saya datang untuk eksekusi masalah seperti ini. Saya percaya dokter jauh lebih berpengalaman dan berpengetahuan daripada saya. Selama dokter anggap sebuah keputusan itu baik, saya cukup diberitahu saja."

__ADS_1


Dokter Farhana menjawabnya dengan senyum. Aku tahu dia menghargaiku sebagai ketua yayasan yang awam ini.


Aku menunggu Aga selesai makan sambil mendengarkan cerita sekaligus laporan lisan dokter hewan itu. Setelah selesai makan aku mendekat dan mencoba menyapa Aga sekali lagi. Reaksi Aga hanya mengangguk-angguk. Ia tak mengijinkan aku membelai bulu kepalanya yang merah. Burung itu terbang kembali ke dahan pohon sonokeling tanpa mau kusentuh.


Duh, sedihnya. Diacuhkan serasa cinta ditolak.


"Baik. Baik. Assalamu'alaikum. Assalamu'alaikum." Aga mengulang kata-kata itu.


Meski sikapnya acuh, namun aku percaya semua ucapan Aga adalah doa. Aku berharap doa burung berbulu cantik itu terkabul untuk keselamatan dan kebaikanku.


"Lukamu sudah hampir sembuh, Fifa." kata dokter Farhana mengamati wajahku.


Aku tersenyum.


"Masih kontrol ke dokter spesialis kulit?"


"Masih."


"Bagus. Disiplin itu kunci keberhasilan. Hasilnya bagus. Mungkin minggu depan luka yang bagian bawah pipi akan kering sempurna. Kalau gatal jangan digaruk ya. Oleskan salep yang diresepkan dokter aja. Kamu akan kembali cantik lagi."


"Alhamdulillah."


"Entah hari Rabu atau Kamis. Katanya yang penting aviary bersih dan burung-burung sehat terawat. Mereka sudah menilai dari dokumen legal dan website. Ke sini hanya meninjau aviary dan wawancara dengan dokter hewan dan pihak BKSDA."


"Sip. Beres kalau begitu."


Setiap hari aku ke kantor yayasan. Bolak balik ke rumah dengan aman tanpa gangguan sama sekali. Proses penilaian green company dan penjajakan investasi PT XY berjalan lancar. Tak ada kabar atau peristiwa yang mencemaskan. Semua berjalan sebagaimana mestinya.


Mama-mama tukang gosip sudah mendapatkan 'oleh-oleh' yang diinginkannya. Mereka selalu singgah tiap kali melihatku tengah beraktivitas merawat tanaman di halaman depan rumah atau duduk santai di beranda.


Sudah tidak ada berita baru tentang Arfa. Informasi terhenti begitu saja. Tak ada yang tahu dimana dan bagaimana keadaan Arfa sekarang. Berita terbaru yang diributkan mama mama dua hari belakangan ini adalah keluhan tentang harga kopra yang turun hingga petani tak mau memanen kelapanya.


"Kita sudah tak punya wang. Paitua masih tunggu harga baik baru mau panen kelapa. Sebab katanya biaya bayar orang yang petik dan olah kopra masih lebih mahal daripada harga jualnya. Macam mana bisa begini terus. Kita pe hutang tambah-tambah terus."


"Itu mungkin ulah tengkulak."


"Bukan. Katanya kopra memang sedang over produksi dan ongkos angkutnya mahal pula."


Seorang mama tertawa, "Kalau begitu biar saja kelapa sampai jatuh sendiri dan bertunas."

__ADS_1


"Janganlah mengejek. Dari mana kita makan kalau bukan dari jual kopra, mama? Cari damar di hutan makin sulit. Enak ngana pe paitua kerja di PT XY dapa gaji tiap bulan. Tak peduli harga kopra naik atau turun. Tak harus payah cari damar di hutan."


"Ngana minta tolong saja sama Fifa supaya ngana pe paitua dapa kerja di PT XY. Dia kan deka dengan direkturnya. Gampang toh."


Apa? Bahaya betul pemikiran mama muda ini. Bicara seenaknya. Repot juga ternyata dekat dengan mereka. Bisa diperalat. Atau memang itu sebenarnya tujuan mereka ramah dan mendekatiku.


"Bagaimana, Fifa?"


"Maaf! Sa tak bisa bantu. PT XY tidak buka lowongan kerja."


"Cobalah ngana bicara! Jadi tukang sapu pun tak apa."


"Maaf, Mama! Tidak bisa. Sa piki bapa-bapa petani kelapa baiknya bakumpul bersama buat musyawarah. Sama-sama piki jalan keluarnya."


"Ah mana mau bapa-bapa bakumpul kalau tak ada duit."


"Nanti sa tanyakan apakah mas Firdaus mau undang bapa bapa itu bakumpul di sini. Nanti sa sedia kopi dan kacang panggang."


"Nah bagitu sudah. Kalau yang undang bapa direktur diorang pasti mau datang bakumpul."


Memang harga komoditas pertanian dan perkebunan itu tak tentu. Kadang bagus. Tak jarang anjlok karena kelebihan pasokan. Bagi petani yang hanya mengandalkan usaha dari satu jenis tanaman anjloknya harga komoditas merusak perekonomian keluarganya. Aku tak tahu apakah Bray setuju dengan ideku mengumpulkan para petani untuk membuat semacam komunitas agar masalah-masalah mereka dapat dipecahkan bersama. Sebenarnya aku yang ingin mengumpulkan mereka buat musyawarah. Tapi kalau undangannya atas namaku rasanya tidak pantas dan para mama pasti berpikir buruk padaku. Makanya kujual saja nama Bray. Random saja. Kalau seandainya Bray tidak bersedia, aku akan memaksa Salman ke sini.


Tapi eh ... bagaimana kalau kucoba saja mengundang keduanya -Salman dan Bray- bersama-sama musyawarah dengan bapak-bapak petani kelapa itu? Kalau perlu melibatkan mantan bapak tiriku yang kepala kampung. Nanti kusiapkan amplop sedekah sedikit buat mereka agar menambah semangat.


"Jum'at sore kan memang aku sudah janji pulang ke kampung. Tapi bukan buat ngumpulin bapa-bapa petani kopra. Tak enak sama penyuluh pertanian di sana. Seharusnya kan tugas mereka membentuk komunitas petani." kata Salman ketika aku memintanya jadi fasilitator para petani kelapa itu.


"Cuma ngobrol aja, Kak. Sharing pengalaman mungkin dengan kondisi petani kelapa Jailolo."


"Sama saja keluhannya. Harga kopra dunia memang sedang turun. Tapi di sini ada kelompok tani yang sudah punya mesin pengering sendiri dan pabrik pengolahan produk sampingan kelapa, jadi pendapatannya tidak hanya tergantung pada harga kopra."


"Nah, itu bisa jadi contoh praktik baik."


"Hmmm."


"Kakak mau kan? Kebanyakan mereka kan asalnya pedalaman. Harus dibuka wawasannya agar mengerti ekosistem perkebunan kelapa. Mas Firdaus juga akan hadir kok. Ngobrol biasa aja kayak baba dulu berbagi pengalaman dengan orang-orang kampung. Nggak ada target kok."


"Baiklah."


Akhirnya apa yang pernah baba lakukan terlaksana lagi dalam bentuk lain. Kalau baba dulu sering berbagi pengetahuan dengan mengajak dialog orang per orang. Sekarang Salman harus berbagi pengetahuannnya dengan lebih banyak orang dalam sebuah pertemuan warga. Usaha perkebunan kelapa ini relatif baru buat warga kampung kami. Mereka mengikuti para transmigran kampung sebelah yang lebih dulu sukses berkebun kelapa. Sebelumnya orang lebih suka menanam ubi, padi, singkong atau sayur-sayuran yang produknya dinikmati langsung oleh keluarga untuk kebutuhan makan sehari-hari.

__ADS_1


__ADS_2