
Perjalanan kami lancar. Kami mendarat dan menginjakan kaki ke hutan beton yang macet dan hiruk pikuk saat matahari telah tenggelam. Pendar lampu menerangi bandara yang tak pernah tidur. Kota ini bukan duniaku. Aku terkulai lemas bersandar di dada Bray selama perjalanan darat dari bandara ke rumah papa yang jaranya tak lebih dari 10 km. Tergolong dekat. Kalau jalan lengang mungkin tak sampai 5 menit sudah tiba di rumah tempat suamiku dibesarkan. Tapi jangan pernah berharap jalan lengang meskipun kegelapan meliputi langit yang berhias bintang. Menurutku macet dan hiruk pikuk adalah ciri khas kota metropolitan ini.
"Capek?" tanya Bray sambil membelai kepalaku yang tertutup kerudung.
"Hm."
"Sabar ya. Nanti sampai rumah langsung istirahat."
"Kapan ke rumah sakitnya?" Aku langsung menodong tujuan utamaku. Penasaran sekali dengan keadaan janin dalam perutku yang kadang sudah mulai menunjukan jati dirinya dengan denyutan pelan dan gerakan yang tak beraturan.
"Besok atau lusa. Kita harus reservasi dulu kapan jadwal prakteknya."
"Katanya lusa mas ketemuan dengan orang Canada itu."
"Pertemuannya malam, Sayang. Kita cari jadwal praktek dokter yang pagi."
"Hm." Aku menengadahkan wajahku untuk menatap matanya menunjukan ketidaksukaanku.
"Kamu mau ikut menemani?"
Aku menggeleng pasti. Bray pasti malu punya istri kampungan. Aku tak mengerti bahasa Inggris. Mungkin juga tidak akan paham topik yang akan menjadi obrolan mereka. Daripada membuat menjadi kambing congek lebih baik bersantai di rumah papa saja.
"Hanya menemani saja, Sayang. Nggak harus ngobrol kok." bujuk Bray yang tahu hambatanku dalam masalah komunikasi. Dengan orang lokal saja aku enggan basa basi, apalagi dengan orang asing yang bahasanya tak kupahami.
"Di rumah saja."
"Kalau kamu ikut akan ada alasan buat pulang cepat."
"Kalau aku nggak ikut kan mas bisa punya alasan pulang cepat. Bilang aja kalau istrinya sedang hamil muda. Nanti setelah sejam atau 2 jam pertemuan aku telepon deh supaya bisa jadi alasan."
Mendengarku ngotot, Bray tak kuasa membantah ideku. Hanya tersenyum pasrah. Entahlah. Aku tak tahu sampai kapan Bray akan bertahan dengan sikap sabarnya yang ekstra. Kupikir semua dilakukannya demi kebaikan bayi kami. Lelaki muda seperti dia pasti kesulitan membedakan mana keinginan ibu hamil mana keinginan bayi. Jadi yah apapun kata ibu hamil harus dituruti sepanjang tidak membahayakan. Selama hamil, Bray tak pernah memaksakan kehendak dan banyak memaklumiku. Mungkin ia terdidik memahami konsep tentang ibu hamil yang harus diutamakan mendapat prioritas di tempat-tempat publik. Begitu pulalah seharusnya ibu hamil di perlakukan di area domestik.
__ADS_1
Papa menyambut kami dengan senyum lebar. Beliau meraba perutku yang sedikit membuncit dan mendekatkan telinganya untuk mendengar sesuatu di perutku. Entah apa yang didengarnya. Mulutnya komat kamit melantumkan doa dengan suara lirih.
"Semoga kamu sehat dan bahagia selalu." katanya sambil mengusap-usap perutku.
"Amin."
"Kalian tak buat syukuran 4 bulanan?"
"Ada. Nenek mau buat acara pengajian besar di Makassar, Pa. Di Lolobata hanya akan bagi-bagi sedekah saja. Fir nggak mau repot." Bray membantuku menjawab. Kebetulan untuk masalah ini aku dan Bray punya pemikiran yang sama. Tidak suka keramaian pesta dan tak mau repot mengurus ini dan itu.
"Papa masih ingin undang teman-teman. Tapi ... Sudahlah, Fir. Nanti saja kita buat pesta tasyakuran sekaligus akikah setelah anakmu lahir. Harus di sini ya." Papa sudah mengklaim akikah harus di rumahnya.
Aku dan Bray saling berpandangan. Maklum melihat secuil ekspresi kecewa yang membias wajah papa. Papa sudah rencana mengundang teman-temannya untuk resepsi pernikahan kami di salah satu hotel berbintang lima. Wedding organizer sudah ditunjuk dan dibayar booking feenya. Sayangnya resepsi pernikahan kami yang sedianya akan diselenggarakan papa di Jakarta digagalkan dengan pertimbangan kehamilanku yang rentan. Papa pasti kecewa dan ingin menggantinya dengan pesta akikah cucu pertama yang sangat dinantinya.
Aku mengelus perutku, "Semoga kamu sehat dan lahir sempurna seperti ayah ya, Nak. Kakek pasti akan membanggakanmu." gumamku dalam hati.
Kami duduk di sofa besar ruang tamu. Rumah ini terlalu besar dan sepi. Banyak ruang kosong di rumah utama ini. Para pegawai dan asisten rumah tangga tinggal di paviliun. Tak ada yang berada di rumah utama kecuali yang sedang bertugas mengurus rumah atau sedang menemani papa.
"Kamu tinggallah di sini sampai melahirkan, Fifa. Di sini banyak dokter dan rumah sakit terbaik yang akan membantu persalinanmu. Papa ingin memberikan yang terbaik buat menantu dan calon cucu papa." Kali ini papa menemukan alasan yang sulit dibantah, yakni fasilitas kesehatan yang terbaik.
Aku menjawabnya dengan senyum. Sulit berkata tidak pada ayah mertuaku. Aku iba melihat seorang pria tua yang kesepian. Papa sangat berharap kami tinggal bersamanya. Di sisi lain aku tak suka tinggal di lingkungan hutan beton yang kualitas udaranya menurut berita termasuk yang terburuk di dunia. Sebaliknya, Bray juga sering membujuk papa agar mau tinggal bersama kami. Tapi ayah mertuaku masih tak yakin bisa tinggal di daerah pedalaman meskipun kenyataannya saat ini beliau sudah tidak memegang kendali bisnis dan jarang berkumpul dengan kawan-kawannya.
"Papa ikut kami saja tinggal di perumahan dinas. Insya Allah papa lebih sehat tinggal di sana. Papa bisa menghirup udara segar."
"Di sana tidak ada pusat perbelanjaan, pusat hiburan dan rumah sakit besar yang peralatannya lengkap."
"Memangnya papa pernah jalan-jalan ke pusat perbelanjaan?"
Papa tersenyum malu. Konon sejak dulu papa jarang sekali pergi belanja. Butuh apapun tinggal panggil asisten lalu barang akan dengan cepat tersedia.
"Masalah kesehatan jangan khawatir, Pa. Perusahaan punya klinik. Kalau papa mau kita bisa menggaji dokter spesialis dan melengkapi peralatan medis yang papa butuhkan. Mungkin kita bisa buat rumah sakit yang bisa menerima pasien warga sekitar supaya keberadaan kita lebih bermanfaat bagi masyarakat."
__ADS_1
Papa terdiam beberapa saat. Kami juga tak berani berkata-kata menunggu jawaban papa.
"Kadang papa ingin tinggal di panti jompo supaya banyak kawan. Rumah ini sepi, Fir."
"Papa tidak ingin menikah lagi? Biar ada yang menemani dan mengurus papa."
Papa menggeleng.
"Kenapa?"
"Fir nggak masalah kok kalau punya adik lagi." Bray tersenyum nakal.
Papa membalas dengan tersenyum lebar, "Enggaklah, Fir. Susah menemukan pasangan yang benar-benar mencintai pria tua yang sakit-sakitan ini."
"Kalau masih ada jodoh, pasti ketemu Pa."
"Ya. Mungkin tidak dalam waktu dekat ini."
"Papa coba dulu ya tinggal di Lolobata beberapa minggu. Kalau papa betah, nanti Fir buat rumah yang fasilitasnya lebih baik buat kita tinggali."
Pandangan papa menerawang jauh. "Rumah ini banyak menyimpan kenangan dengan mamamu. Papa tak ingin meninggalkannya. Di sini papa masih ada kawan."
Bray memandang ayahnya dengan pilu. Kawan siapa? Hanya pegawai yang ada di rumah ini dan papa nyaris tak pernah keluar rumah dan tak ada yang datang menjenguk. Waktu aktif mengurus perusahaan papa memang banyak kolega bisnis. Sekarang? Sebagian perusahaan papa telah diberikan pada mantan istrinya. Sebagian lagi dikelola manajemen profesional. Papa hanya ambil peran sebagai pemegang saham, sama sekali tak terlibat dalam operasional.
Sedetik kemudian Bray memandangku dengan sorot mata yang sama. Berat memang meninggalkan ayah yang sudah berusia senja dan sakit-sakitan. Kupikir memilih menikahiku adalah sebuah kesalahan yang mungkin baru saja disadari Bray. Aku tak suka keramaian dan tinggal hutan beton. Sementara ayah mertua seumur hidupnya dimudahkan dengan berbagai fasilitas yang tersedia diantara hutan beton. Aku yang sederhana dan natural dibandingkan dengan ayah mertua yang terbiasa hidup mewah. Perbedaan kami sejauh jarak yang membentang antara Jakarta dan Lolobata. Jauh sekali. Jaraknya lebih dari 5000 km melintasi laut nan luas dan ribuan pulau-pulau.
"Fir nggak tega meninggalkan papa sendirian."
Papa melirikku yang memilih menunduk. Bukan aku tak sayang papa. Aku tak bisa tinggal di Jakarta yang asing. Aku juga tak ingin jauh dari kenangan tentang baba dan tanah kelahiranku.
"Kalau kamu dan Fifa lebih nyaman di sana nggak masalah, Fir. Papa tidak sendirian. Ada banyak pegawai yang membantu." ucap papa sambil tersenyum samar dan merangkulku.
__ADS_1
Aku tahu papa hanya menghibur diri. Beliau tidak ingin memaksa kami tinggal bersamanya padahal ia sangat mengharapkan itu. Sungguh. Aku menyesal tak bisa menjadi menantu yang berbakti.