
Aku mengingat-ingat lagi postur tubuh pengendara sepeda motor yang memanah Bray. Kuperhatikan dan kubandingkan baik-baik bagaimana postur tubuh dan gerak-gerik Arfa dengan lebih seksama. Keyakinanku makin bulat. Dialah orang yang memanah Bray. Motifnya masuk akal dan postur tubuhnya pun mirip. Tapi bagaimana dengan kasus pembunuh nuri dan babaku? Apakah Arfa juga pelakunya? Tak ada motif yang memicu Arfa melakukan hal yang paling menyakiti hatiku itu. Tidak mungkin dia pelakunya.
Dia sahabat dekatku dan telah banyak membantu di sepanjang hidupku. Namun pagi ini aku hati kecilku merasa telah dikhianati. Aku tak pernah tahu Arfa pandai meracik racun. Mungkin bukan Arfa yang memanah baba tapi dia pasti sudah tahu siapa yang melakukannya. Menurutku itu hipotesa yang paling masuk akal. Saat sedang kecewa dan putus asa Arfa belajar memanah dan ilmu racun pada orang itu untuk menghilangkan nyawa Bray yang dianggap telah merebut hatiku. Tidak menutup kemungkinan Arfa juga memiliki dendam pribadi pada Bray terkait penyebab keluarnya Arfa dari status pegawai PT XY yang pernah dibanggakannya.
"Sa cinta pe ngana, Fifa." ucap Arfa dengan suara dan tatapan sendu.
Aku menggeleng. Sudah berulang kali kudengar ungkapan itu. Sudah berulang kali pula aku menolaknya. Arfa tetap kukuh mengatakannya lagi dan lagi. Harusnya dia sudah tahu keteguhannya tak bisa mengubah hatiku. Cinta tak bisa dipaksakan. Meski demikian kata orang bijak, cinta masih bisa diupayakan dengan terus-menerus meminta pada Sang Penguasa hati dalam doa di sepertiga malam terakhir agar Dia menyematkan cinta dalam hati orang yang kita cintai.
Kali ini justru rasa takut yang timbul dalam hatiku. Bukan cinta atau belas kasih saat melihat matanya yang sendu. Semakin lama aku muak dengan ungkapan cintanya.
Menurut bisikan hati yang kuyakini, Arfa hanya berambisi menguasai aku. Selama belasan tahun bersama seharusnya ia sudah mengerti bagaimana aku. Bagiku cinta itu adalah wujud keikhlasan hati untuk memberi dan saling menerima. Bukan menuntut, memaksa apalagi menguasai yang dicinta.
"Sa su bilang tak ada cinta. Sampai kapan pun tetap tak bisa." jawabku tegas.
Krek. Suara dahan patah. Aku menoleh ke arah suara. Kulihat Santi mencoba berdiri sambil meringis dan agak ketakutan di dekat dahan yang patah. Rupanya ia terpeleset. Aku baru ingat ada Santi yang mengawalku.
"Ada apa, San? "
"Maaf, saya terjatuh karena kaget. Ada ulat bulu." jawabnya setengah tersenyum setengah meringis.
"Sapa dia?" tanya Arfa dengan suara tinggi.
"Dia Santi. Sa punya pengawal."
Arfa menatap gadis bertubuh tegap itu dengan tajam dari ujung rambut sampai ujung kaki. Santi membalas dengan tatapan yang sama tajamnya tepat pada matanya. Sejurus kemudian pandangan sinis Arfa tertuju ke arahku seolah menuduhku sebagai seorang pengkhianat.
"Mentang-mentang banyak uang mau jumpa teman saja sekarang ngana harus bawa pengawal." protesnya.
Aku tersenyum tipis sambil bergumam dalam hati, "Benar. Waktu dan keadaan telah mengubahku makin licik. Apalagi menghadapi teman yang tak lagi bisa dipercaya sebagai teman."
Kuhembuskan nafas dengan sedikit kasar. Kecewa tapi aku harus mampu mengendalikan emosiku.
"Ngana banyak berubah." keluhnya dengan membuang pandangannya ke derasnya air sungai yang mengalir.
__ADS_1
"Maaf, sa tara punya banyak waktu. Ngana mengaku saja sudah. Biar ngana bisa hidup tenang. Tak harus terus sembunyi di hutan to."
"Apa yang harus diakui?"
"Mama mama kampung bilang ngana dicari bapa polisi. Piki saja sendiri ngana punya salah apa. Tak mungkin dicari polisi kalau ngana tidak punya salah. Kita su tau ngana tinggal di hutan untuk sembunyi. Mimpi ngana dapa kerja bagus dan banyak uang. Sampai kapan ngana betah tinggal sendiri di hutan yang jauh dari peradaban modern dan tak menjanjikan karir seperti apa yang ngana mau. Ngana masih muda dan punya masa depan yang panjang. Piki lagi baik-baik keputusan ngana mau buat apa di masa depan. Sa selalu siap bantu sebagai teman."
Arfa diam dengan dahi berkerut. Mungkin ia berpikir aku masih penyendiri dan tak peduli pada gosip mama-mama kampung. Padahal sekarang mama-mama itu telah bersekutu denganku.
"Masalah itu harus dihadapi. Tak akan selesai kalau ditinggal lari. Inga sa bilang! Ngana sendiri yang akan rugi."
Arfa terpaku. Keningnya berkerut-kerut. Tampak tengah menimbang-nimbang sesuatu. Namun aku tak bisa menunggu lama. Hari beranjak terang. Lebih baik segera melangkah menjauh dari darinya. Arfa masih tidak mau jujur mengakui kesalahan. Padahal aku yakin satu hal, orang yang memanah Bray adalah Arfa.
"Tunggu dulu, Fifa!"
Aku menoleh, "Apa lagi?"
"Jangan menikah dengan Firdaus."
"Alasannya?"
Kau temanku tapi kau menyembunyikan fakta penting soal pembunuh baba dariku. Bagaimana mungkin aku percaya kata-katamu, Arfa.
Kutinggalkan saja Arfa sendiri di tepi sungai. Aku berjalan meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi. Santi sempat baku tatap lagi dengan Arfa sebelum menyusul mengikutiku berjalan pulang ke rumah.
"Dia Arfa, sahabat sejak kecil." jelasku pada Santi.
Aku tak mau Santi berpikiran buruk apalagi melapor yang tidak-tidak pada Bray setelah mendengar percakapan kami tadi.
"Kenapa Nona diam-diam menemuinya? Padahal dia yang mencelakakan pak Firdaus tempo hari."
"Mau beri kesempatan agar dia secara sukarela mengakui kesalahannya. Selama ini dia baik. Mungkin saja dia khilaf atau terpengaruh orang lain."
Santi kelihatan belum puas dengan jawabanku. Tentu saja sesampainya di rumah aku langsung telepon Bray memberitahukan pertemuanku dengan Arfa. Bagiku jujur itu baik meskipun keputusanku pergi diam-diam pasti membuat Bray marah dan kecewa.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak ijin aku dulu sebelum menemui Arfa?" Jelas sekali nada suara Bray terdengar sumbang dan dingin. Namun aku sudah siap mental. Kutanggapi dengan santai.
"Aku takut mas Bray lapor polisi."
"Dia memang buronan, Fifa. Aku kan sudah bilang beritahu aku kalau ada kabar tentang dia. Sudah seharusnya kita lapor polisi. Jangan gegabah! Bisa saja dia menyakitimu."
"Dia sahabat baikku. Tak mungkin menyakitiku. Aku mau memberi kesempatan dia buat merenungi kesalahannya, meminta maaf, dan dengan sukarela menyerahkan diri ke polisi."
"Kenyataannya dia tidak mau melakukan itu, kan."
"Iya. Tapi aku tidak menemuinya sendirian kok. Andai ada sesuatu denganku, setidaknya Santi bisa bantu dan menjadi saksi." jelasku tenang. Kukeluarkan suara manjaku agar terdengar bodoh dan membuatnya iba.
Bray sempat diam. Kukira dia mulai terpengaruh trikku. Tak tega melanjutkan marahnya karena mendengar suara seorang gadis bodoh yang patut dimaklumi. Terdengar jelas di telingaku sebuah tarikan nafas yang panjang sebelum Bray kembali bertanya dengan nada yang telah menurun.
"Dapat informasi apa kamu dari dia?" tanyanya dengan nada rendah tapi masih terdengar sedikit tekanan menahan kesal.
"Tak ada. Hanya mengeluh tidak betah kerja di pulau Obi karena tidak bisa kerja sampingan jadi pengepul damar seperti waktu di sini. Selain itu di sana ada pekerja asing dan perlakuan diskriminatif."
"Kamu mau bilang dia tidak terlibat pencurian?"
"Entahlah."
Lagi-lagi aku mendengarnya membuang nafas agak kasar. Aku menunggu agak lama agar Bray dapat menata emosinya.
"Jangan ulangi lagi ya! Lain kali apapun yang menyangkut Arfa, ngomong dulu sama aku."
"Iya. Maaf."
"Semoga omonganmu didengar cecunguk itu. Kita tunggu saja besok atau lusa, apakah dia yang menyerahkan diri atau polisi menangkapnya di hutan."
Kuharap Arfa mendengar omonganku. Toh aku masih bersedia membantunya. Mungkin sekarang dia masih tertekan dan tak bisa mengambil keputusan cepat. Tapi aku yakin dia akan mempertimbangkan apa yang kusampaikan tadi.
"Oh iya, aku bingung. Arfa bilang dia dipecat PT XY. Tapi mas Bray bilang mengundurkan diri. Sebenarnya mana yang benar sih?"
__ADS_1
"Tanya saja sama Jim! Kejadian sebenarnya HRD sudah mau memproses kesalahannya tapi Hisyam membela dan memberikan solusi yang lebih baik buat karirnya. Selain HRD, Jim menyimpan salinan surat pengunduran diri Arfa."
Agak susah memang bila mengkonfrontir berita dari orang yang dari segi apapun bertolak belakang. Bray pasti menang. Bray lebih pintar, punya banyak uang, punya kekuasaan, dan punya anak buah yang loyal padanya. Seharusnya aku tak perlu mempermasalahkan urusan Arfa dipecat atau mengundurkan diri. Yang perlu kugarisbawahi adalah kenyataan yang kulihat Arfa menaruh dendam pada Bray. Masalah hubungan Arfa dan Bray tidak ada berkaitan dengan misi pribadiku, yaitu mengungkap siapa di balik teror panah beracun itu. Sampai detik ini semua masih gelap dan aku belum ikhlas babaku mati dengan cara seperti itu. Aku hanya mengikhlaskan dan menerima takdir. Jika ada kesempatan aku pasti akan cari tahu siapa yang memanah babaku.