
Kusimpan kembali gawaiku dalam tas selempang kecil yang kukenakan. Salman dan mama sama-sama menatapku dengan tatapan curiga.
"Siapa itu mas Bray?" tanya mama dengan sorot mata yang tajam.
"Pacar kakak yang tiap tengah malam selalu telepon buat ngucapin selamat tidur, Ma. So sweet banget deh." jawab Fifi sambil tersenyum genit.
Ya ampun Fifi memang susah buat dikondisikan. Sudah ditraktir makan malam mahal sesuai impiannya dan dipinjamkan gawai untuk bikin video yang diinginkannya, tapi tak ada imbal baliknya. Rahasiaku tetap dibongkar habis. Dasar adik tak tahu terima kasih.
"Pacar kakak?" Tatapan mata mama makin menghujam ke jantung. "Kok mama belum kenal."
"Mas Bray itu panggilan mas Firdaus, Ma."
"Itu panggilan sayang, Ma." celoteh Fifi sambil menjulurkan kepala dekat dengan telinga mama.
"Ooo jadi diam-diam kamu pacaran sama Firdaus. Kamu kemarin mengalah sama perempuan sadis itu karena memang merasa salah merebut tunangan orang?"
"Tidak, Ma. Kami tidak ada hubungan sejauh itu. Hanya berteman dan kerja sama melaksanakan kegiatan konservasi burung. Kalau tidak percaya sama Fifa, tanya saja pada kak Hisyam."
"Nggak apa-apa kali kak kalau ngaku pacaran. Mas Bray itu calon suami yang sempurna. Ganteng, baik, dan kaya. Kakak beruntung banget. Bayangkan sampai wajah kakak dirusak begini dia nggak ninggalin kakak. Malah bantu kakak tangkap perempuan sadis psikopat itu. Coba mana ada cowok sebaik itu di jaman now. Gas terus aja sampai halal, Kak. Jangan sampai lepas!" Fifi ngoceh dengan gaya santai. Lagaknya bak konsultan percintaan saja. Mungkin karena sudah terlalu banyak diracuni drama-drama korea.
Aku menunduk. Kata-kata Fifi ada benarnya. Tapi terus terang aku takut menerima kenyataan. Anggaplah Bray mau menerima keadaanku. Apakah orang tuanya lantas bisa menerima aku sebagai pendampingnya? Kalau hanya jadi gula gula mungkin. Tapi aku tak ingin martabatku direndahkan begitu. Aku ingin dapat pasangan yang sepadan saja. Yang penting dijadikan satu-satunya ratu dalam keluargaku nantinya. Aku masih berpikir logis, bukannya orang yang dibutakan oleh perasaan.
"Mama sudah menduga sejak awal. Kalau memang kalian saling sayang, lebih baik diresmikan saja. Jangan sembunyi-sembunyi."
Satu sisi hatiku juga maunya begitu, tapi yang terucap berbeda. "Tidak, Ma. Fifa masih ingin sendiri."
"Sampai kapan?"
Aku menggeleng. Tak tahu sampai kapan aku bisa meyakinkan diriku bahwa menikah adalah keputusan terbaik. Masih banyak inginku yang belum tercapai.
"Kalau kakak nggak mau, Fifi mau menikah dengan mas Bray."
__ADS_1
Salman tertawa, "Mas Braynya mau nggak sama kamu?" tanya Salman sambil menyubit pipi Fifi.
Fifi mengelus-elus pipinya bekas cubitan sayang dari Salman. Matanya menatap Salman dengan raut kesal.
"Berat nih tanggung jawab kakak sebagai wali 2 adik perempuan. Yang satu misterius nggak jelas apa maunya. Yang satu masih kecil tapi centil kepingin kawin."
Fifi memukul bahu Salman. "Bukan aku yang centil kepingin kawin."
Salman terkekeh keras.
"Sudah larut malam. Ayo kita kembali ke rumah nenek. Kamu bayar tagihannya, Fifa!"
Aku mengangguk. Kukenakan kembali cadarku lalu pergi ke kasir. Suasana restoran sudah mulai sepi. Hanya tinggal beberapa pelanggan yang makan. Pak Rodi menunggu kami sambil merokok di smoking area. Kasihan. Kelihatannya dia sudah jenuh menunggu kami.
Kupikir pembicaraan masalah Bray sudah ditutup. Sepanjang perjalanan kami mengomentari soal gedung atau hal-hal unik yang kami lihat di jalan. Suasana jalanan kota Makassar masih ramai. Sangat jauh berbeda dengan kampung kami yang berubah gelap dan sunyi saat malam hari.
Namun sesampainya di rumah Salman meminta waktu bicara empat mata membahasnya lagi. Padahal hari sudah lewat tengah malam.
"Aku penasaran mas Bray itu kayak apa sih? Kapan kamu pertama kali bertemu dan dekat sama dia?"
Meski belum mengantuk tapi aku lebih suka menghindari pembicaraan masalah Bray. Malu. Aku tak ingin berbagi perasaan dengan siapa pun.
"Harus dong. Mumpung kabarnya masih hangat dan masih penasaran. Kapan lagi kita ketemu. Aku kan satu-satunya kakak lelakimu yang tersisa. Anggap saja sebagai wali pengganti baba. Aku harus tahu adikku berhubungan dengan siapa saja." Salman merangkulku mengajak duduk berdua di sofa ruang keluarga yang akan jadi tempat tidurnya malam ini karena semua ruangan kamar telah ada penghuninya.
Aku sebenarnya canggung dan risih ngobrol berduaan dengan Salman mengingat kami baru saja bertemu setelah beranjak dewasa. Tapi aku tak sanggup menolak. Sorot mata baba seolah terpancar dari matanya yang berbentuk seperti kacang hazel. Sorot mata itu memerintahkan aku agar patuh.
"Cerita singkat aja nggak apa-apa." tuturnya dengan nada yang lebih lembut dan santai. Sorot matanya tetap menuntutku harus bicara jujur. Bola mata Salman berwarna terang mirip dengan mama, tapi sorot matanya seperti sedang dirasuki arwah baba.
"Mas Bray dan kak Hisyam menyelamatkan aku saat pingsan di hutan. Itulah saat pertemuan pertama kami." Susah sekali aku menceritakan kembali peristiwa tanpa membayangkan bagaimana rasa hatiku saat pertama kali membuka mata melihat makhluk penuh pesona itu. Tanpa sadar ingatan itu menyebarkan hormon bahagia yang mendorong bibirku untuk melengkungkan senyum.
Tentu saja aku harus bersikap normal di hadapan Salman. Kakak lelakiku itu sedang memperhatikan tiap detail gerak dan ekspresiku.
__ADS_1
"Pertemuan berikutnya mas Bray kedapatan berada di tempat kejadian saat nuri sahabatku yang biasa bertengger di pohon kenari sebelah mushola tua keluarga kita itu mati. Aku menduga dia yang memanah sang nuri sebab hanya dia yang pegang busur saat itu. Kami salah paham. Hari-hari selanjutnya dia mencoba berbagai cara membuktikan bahwa dia tidak membunuh nuri itu. Kejadian itulah yang kemudian melatarbelakangi kerja sama kami membuat kegiatan konservasi dan penangkaran burung endemik hutan Lolobata."
"Sudah? Begitu saja ceritanya?"
Aku mengangguk. Terlalu formal. Memang bukan cerita yang menarik. Tapi itulah cerita singkat kami versi murni tanpa melibatkan perasaan yang terjalin sembunyi-sembunyi di hati kami.
"Kakak masih tidak percaya. Pasti ada baku sayang di antara kalian. Kata mama, direktur perusahaan tambang itu terlalu baik buat sekedar mengaku sebagai teman."
Terjepit sudah aku dengan pernyataan itu. Mama pasti sudah banyak cerita. Saking semangatnya apa pun diceritakan mama pada anak lelaki kesayangannya ini. Bertahan untuk tidak bicara soal hati rasanya sulit.
"Jujur saja, Fifa! Kakak nggak akan marah kok. Jatuh cinta itu bukan suatu kesalahan, tapi anugerah." Salman mengucapkannya dengan senyum bijak. Ia mencoba memancing emosiku agar bicara tentang perasaan.
"Bukan jatuh cinta. Mungkin lebih tepatnya jatuh hati. Fifa nggak ingin jadi pacar atau istrinya kok. Nggak ada pikiran kayak gitu. Cuma senang aja saat melihat dia dan berada dekat dia. Dia memang baik. Gara-gara dia Fifa akhirnya membuka diri melihat dunia. Sebelumnya Fifa lebih suka menyendiri dan tenggelam dalam kesedihan sejak baba meninggal."
"Ehm, kalau misalnya dia minta kamu jadi istrinya apa kamu mau terima?"
Aku menggeleng. "Pernikahan itu sebaiknya sekufu, kak. Gaya hidup dan kebiasaannya terlalu jauh berbeda. Mas Bray tidak bisa seperti baba. Cukup Fifa jadi fansnya saja kayak Fifi ngefans sama oppa-oppa personel BTS."
"kamu ingin menikah dengan orang yang mirip baba?"
Aku mengangguk pasti. Sulit buatku lepas dari penokohan baba, cinta pertamaku yang meninggal dengan cara tak wajar.
"Jadi, kalau dia datang melamar lebih baik kakak tolak saja?"
Akh, pertanyaan itu selalu berhasil membuatku bimbang. Jawaban hatiku masih mengambang. Aku membiarkannya tetap mengambang tanpa kepastian ya atau tidak. Entah sampai kapan. Padahal kadang muncul cemas. Jangan-jangan sebentar lagi Bray akan mundur meninggalkan aku. Manusia punya batas kesabaran. Suatu saat ia akan merasa lelah memperjuangkan aku yang selalu bimbang dan tak berani melawan egoku sendiri. Aku takut itu benar-benar kejadian dan akhirnya aku harus kehilangan dia. Padahal aku butuh bersamanya sebagai teman, kakak dan idola yang menyemangati hidup.
"Tidak usah kamu jawab sekarang. Baca hatimu dengan baik. Jangan lupa selalu berdoa minta petunjuk dari Yang Maha Penyayang sebab Dia yang menyematkan cinta dalam hati setiap makhlukNya."
Aku mengangguk. Bagus nian kata-kata kak Salman. Apakah Tuhan sedang menggunakan panah tak terlihat untuk mencocokan dan menyatukan cinta dalam hati kami. Agaknya Bray tidak hanya pandai memanah secara harfiah, namun juga memanah batin.
Tut tut tuuut gawaiku berbunyi lagi. Panggilan video dari Bray.
__ADS_1
Aku melihatnya sangat terkejut ketika gambarku muncul dengan Salman yang masih merangkul mesra pundakku.
"Assalamu'alaikum." Aku dan Salman mengucapkan salam bersamaan.