
Selama di Jakarta mama mendampingi Fifi ke manapun seperti penggembala domba baik yang mengikuti keinginan ternaknya. Rasa keingintahuan Fifi harus terpuaskan. Kadang orang berekspektasi tinggi terhadap sesuatu karena viral di media sosial. Padahal kalau sudah didatangi tempatnya mungkin biasa saja.
Aku dan Salman mengadakan rapat mingguan secara daring dengan tim manajemen perkebunan dari kamar hotel. Setelah itu sibuk mengecek kembali laporan keuangan perusahaan mingguan. Sementara Salman pergi ke luar untuk pertemuan bisnis dengan beberapa pelanggan dan perusahaan ekspor impor yang menjadi perantara pengiriman produk kami ke luar negeri. Kepergian kami ke Jakarta tidak semata-mata untuk menjenguk pak Budhi saja. Salman bahkan memiliki janji bertemu dengan beberapa kolega dan teman alumni sekolahnya sampai malam.
Aku sendiri di dalam kamar memandang ke arah jendela yang mempertontonkan gedung-gedung dan rumah yang berhimpitan. Juga jalan kota yang dipenuhi kendaraan. Dari lantai 15 kendaraan itu tampak seperti iring-iringan semut warna warni yang berjalan lambat.
Bray menelponku.
"Malam minggu ngapain, Fif?"
"Sendiri aja di hotel. Lihat pemandangan Jakarta dari lantai 15."
"Mama dan saudaramu ke mana?"
"Mama dan Fifi mungkin masih di mall atau pergi ke tempat nongkrong anak muda yang sedang viral. Kak Salman janjian bertemu kolega dan teman sekolahnya."
"Kamu sendirian?"
"Hmm."
"Nggak takut atau bosan?"
"Sudah biasa. Aku lebih suka sendirian dibandingkan dengan berada di keramaian. Suka pusing kalau lihat orang banyak lalu lalang, apalagi kalau desak-desakan."
"Aku jemput ya. Kita keluar makan malam bareng."
Aku tak menjawab. Mager banget. Aku hanya ingin duduk menikmati senja dan malam dalam kamar hotel sambil menikmati kopi dan memandang suasana sekitar lewat jendela besar.
"Di pusat perbelanjaan yang ekslusif. Enggak ramai, tapi nggak sepi juga."
"Hmm."
"Siap-siap ya. 10 menit lagi aku sampai."
Bray menutup teleponnya tanpa menunggu jawabanku. Prinsipnya selama tidak terdengar kata tidak atau penolakan, berarti aku setuju.
Aku terpaksa berganti pakaian, memakai kerudung senada, dan membubuhkan krim pelembab pada wajahku. Kupulas bibirku dengan lipbalm merah muda dengan aroma mint yang menyegarkan. Tak lupa disemprotkan parfum mahal yang dibeli Fifi di gerai parfum internasional dalam bandara.
Cukup lama aku mematutkan diri dengan pakaian, tas dan sepatu yang kukenakan di depan cermin. Tetap saja aku tak percaya diri karena bekas luka yang mulai berwarna kecoklatan ini. Rasanya gatal. Tapi aku tak berani menyentuhnya. Aku hanya mengoleskan salep bening bila rasa gatal itu menganggu. Aku harus disiplin agar lukaku cepat sembuh. Aku takut menimbulkan inflamasi yang bakal memperburuk kondisi lukaku.
Ting tong. Pesan masuk dari Bray.
"Aku sudah menunggu di depan lobby, Fifa. Cepetan ya."
Kusudahi saja memantaskan diri di cermin. Rasanya makin lama di depan cermin makin banyak kekurangan yang kulihat. Tak terbayangkan apa jadinya kalau misalnya nanti di jalan aku bertemu dengan rekan atau mantan pacar Bray. Jangan-jangan mereka mengira aku pembantunya.
Oh...tidak. Jangan sampai itu terjadi. Aku tak ingin diremehkan orang sebab dianggap tak pantas jalan berdua dengannya. Apa aku anulir saja ya. Ajak saja Bray makan di business room privat hotel ini.
Apapun keputusannya aku harus bergegas ke luar kamar. Aku melangkah cepat menuju lift yang akan mengantarkanku ke lobby hotel di lantai dasar. Aku harus menemui Bray dulu. Kasihan terlalu lama menunggu.
Bray telah melambaikan tangannya di parkir vallet tepat di depan pintu keluar hotel. Ia berada di kursi penumpang sebuah sedan berbentuk unik dengan warna hitam metalik.
__ADS_1
"Mas, gimana kalau makan malamnya di hotel ini aja?"
"Masuklah! Makanan di hotel ini nggak ada yang spesial. Kita makan di luar aja."
"Tapi ..."
"Pakai cadarmu kalau kamu malu!"
Bray bisa membaca keresahanku. Memang luka yang belum sembuh ini yang jadi biang keladi rendah diriku.
Aku menurut saja. Duduk bersisian dengannya di kursi belakang mobil yang terlihat pendek, mungil dan menggemaskan itu.
Ada rasa tak nyaman tiap kali berduaan dengannya. Walau ada supir tapi hatiku masih takut-takut mau. Bray tak pernah berhenti mengembangkan senyum. Itu yang membuat jantungku berdetak tak beraturan. Bibirku terhipnotis jadi selalu tersenyum.
"Kita mau ke mana?"
"Ke pusat perbelanjaan." Jawaban Bray tetap konsisten. Aku jadi malu dan merasa bodoh menanyakan hal yang sama.
"Aku tuh sebenarnya mager." kataku sambil menghempaskan tubuh di sandaran kursi mobil yang kenyal tapi empuk.
"Mager atau nggak pede?"
"Dua-duanya hehehe." Aku tak bisa menyembunyikan senyum manjaku. Merasa berharga meski dapat perhatian kecil.
Bray tersenyum lebar. Tangannya mencengkeram jok mobil dengan ekspresi gemas yang tertahan. Andai sudah halal pasti diuyel-uyel. Hihihi.
"Kalau nggak pede pakai aja cadarmu terus kalau bertemu orang asing. Aku lebih suka begitu. Biar orang lain tidak ada yang naksir kamu."
Lebay. Siapa sih yang mau naksir gadis kampung dengan wajah begini. Luka yang sudah kering dan mengelupas saja masih menyisakan garis putih yang menunjukan gradasi warna yang sedikit lebih terang daripada warna kulitku yang kuning langsat. Sedangkan luka di bagian bawah pipi masih berwarna kecoklatan. Tak ada sisi menarik dari gadis berwajah belang. Kalau zebra, macan atau jerapah sih belang menambah estetika kulitnya. Tapi tidak pada manusia.
"Mungkin selasa malam. Aku harus antar papa kontrol ke rumah sakit selasa pagi."
"Apa yang harus disiapkan untuk yayasan?"
"Mereka sudah evaluasi aktivitas yayasan dari website. Yang penting ketika dikunjungi kondisi aviary bersih dan burungnya sehat."
"Itu mah urusannya pak Koli dan dokter Farhana."
"Sudah dibilang, kamu tuh nggak usah nyiapin apa-apa. Siap-siap aja jadi istriku."
"Ih. Apaan sih mas Bray. Biar bagaimanapun secara legal aku ketua yayasan. Tetap harus tanggung jawab dong."
Bray tak menanggapi. Kami telah sampai di lobby sebuah pusat perbelanjaan yang masuknya harus dengan menempelkan kartu member di tepi pintunya.
Benar kata Bray, pusat perbelanjaan itu tidak sepi tapi tidak ramai. Hanya terlihat beberapa orang berjalan keluar dan masuk ke butik-butik ekslusif yang tertata tapi dan elegan.
Bray mengajakku masuk di butik perhiasan mewah berlabel internasional.
"Kamu boleh pilih satu set perhiasan apa saja."
"Aku?"
__ADS_1
"Ya. Kamu."
"Aku punya banyak perhiasan dari nenek yang sama sekali belum dipakai. Bagus-bagus."
"Beda. Ini hadiah dari aku buat ngiket kamu."
"Ih emangnya aku sayur bayam pakai diikat."
"Iya, kamu tuh kayak sayur bening. Saking beningnya jadi nggak tahan pengen makan kamu." ujarnya sambil menyeringai.
Spontan aku mendorong lengan Bray agar menjauh. Pilihan katanya nyebelin. Seringainya menakutkan. Candanya nggak lucu.
Bray tertawa.
"Pilih aja mana yang kamu suka. Jangan kelamaan. Kita belum makan malam."
"Ya udah sih. Kita makan malam aja dulu."
"Di sini dulu, Nona. Pilih perhiasan dulu baru makan."
Aku merengut. Ternyata makin merasa dekat, Bray makin nyebelin dan semaunya sendiri.
Bray berjalan cuek masuk ke dalam butik. Ia menunjuk satu set perhiasan dengan berlian bening berbentuk bunga. Batu mulia itu berpendar aneka warna bila tersorot oleh cahaya. Pengikatnya berbentuk tali pipih seperti pita kecil yang katanya berasal dari campuran emas putih dan platinum. Bray meminta SPG mengambilkan dari dalam rak kaca untuk kami.
Belum puas aku melihat-lihat, Bray telah meminta SPG mengambilkan satu set perhiasan emas bertahtakan batu safir berwarna merah darah.
"Ini juga cantik, Fifa." Bray meletakkannya di depanku.
Tadi dia minta aku yang pilih sendiri perhiasan yang kusuka. Kenyataan malah Bray yang sibuk memilih dan membuatku bingung. SPG telah mengambil 5 set perhiasan yang sama cantiknya.
Setelah menimbang-nimbang, dengan berat hati aku menyingkirkan 3 set perhiasan karena warnanya modelnya terlalu rumit dan warnanya menyolok. Kini di atas meja menyisakan satu set perhiasan bertahtakan berlian bening nan anggun yang pertama kali dipilih Bray dan satu set perhiasan bertahta batu safir berwarna biru tosca.
Cukup lama cincin dan gelang kukenakan di tangan kiri dan kanan. Kulihat-lihat dan kubandingkan dengan teliti mencari-cari apakah ada cacat produksi yang bisa dijadikan alasan buat mengabaikan salah satunya.
"Kak, saya bayar 2 set ini ya." Tiba-tiba saja Bray memutuskan untuk membeli keduanya.
"Eh, enggak. Aku pilih yang ini saja." kataku menunjuk perhiasan berlian yang terlihat sangat elegan. Buru-buru aku melepas gelang dan cincin yang kupakai lalu kutaruh di kotaknya bersama dengan kalung, anting dan bros yang berdesain senada.
"Saya bayar dua-duanya, Kak." tegas Bray lagi. "Tolong packing yang rapi ya!"
Aku hanya bengong.
"Satu set sudah cukup, Mas."
Bray tak peduli. SPG dan kasir butik bekerja dengan cekatan. Tak sampai 5 menit. Transaksi selesai. Bray menarik tanganku agar mengikuti langkah kakinya yang panjang.
"Ini terlalu banyak dan mahal, Mas."
"Nggak apa-apa. Buat persediaan. Kadang kita bisa menyimpan perhiasan buat tabungan. Kalau beruntung ada nilai investasinya juga."
Kalau itu alasannya mau menyanggah bagaimana lagi? Aku ikut saja. Termasuk saat ia memilih masuk resto selera nusantara yang tak memiliki ruang privat. Makanannya disajikan prasmanan dan semua pengunjung berada dalam suatu ruangan yang sama seperti berada dalam sebuah resepsi.
__ADS_1
Aku sedikit ragu membuka penutup wajahku. Tapi tak berani membantah pilihan Bray.
Aku mengambil menu sayur asem, woku cakalang, perkedel, dan sambal dabu-dabu. Sementara Bray mengambil pindang belida, sambal lingkung dan tahu isi. Menu yang jelas membedakan selera kami.