
Akhir-akhir ini sang nuri makin jarang hinggap di pohon kenari itu. Hariku semakin terasa sepi. Apalagi semua warga telah pindah ke kampung baru. Tak ada yang bisa diajak bicara. Benang kapas yang menemaniku menghabiskan waktu sudah habis kutenun. Kain hasil tenun dibawa Fifi. Katanya sudah laku terjual. Entah berapa harganya, aku tak pernah tahu dan tidak pernah berusaha tahu. Sementara pohon kapas tidak berbunga pada musim ini karena terlalu banyak curah hujan yang turun. Sebagian besar pohon mengalami busuk batang. Hatiku makin nelangsa namun aku tetap menguatkan hati untuk bertahan di gubuk peninggalan baba. Sendirian.
Kemarin Deya berkunjung ke gubukku dengan wajah berlipat-lipat. Sebagai teman, tampak sekali tak ada raut kangen di wajahnya meski kami lama sekali tak bertemu. Kurasa dia sudah tak menganggapku teman lagi. Dia datang bukan lagi sebagai teman.
“Arfa sering ke rumahmu ya?”
Membaca gelagatnya yang kurang enak, aku tersenyum sambil mencoba memberikan jawaban sedikit berkelit. “Tidak juga. Dia sibuk kerja, De. Hanya punya libur di hari minggu. Itupun dia gunakan buat membawa getah damar atau kayu gaharu ke kota.”
Deya mengangguk. Bias kecemburuan meliputi wajahnya. Aku tak tahu apakah Deya tahu persis kegiatan Arfa sehari-hari atau tidak. Seharusnya dia tahu sebab sejak dulu Deya adalah mata mata paling jitu. Setiap aktivitas Arfa tak luput dari pengelihatannya.
“Dia jarang pulang ke rumah.” ucapnya datar.
“Semua pekerja harus tinggal di mess.” Aku menjawab dengan nada sama datarnya.
“Apa seperti itu cara orang modern bekerja? Sepanjang waktu harus bekerja?”
“Kurasa mungkin begitu.”
Deya mengerucutkan bibirnya. Kulihat tangannya mengepal. Aku berusaha cuek sebab aku tak merasa punya salah padanya. Apa haknya marah padaku.
“Orang-orang kampung punya cerita, katanya Arfa sering ke sini. Mereka berencana menggerebek kamu kalau masih sering berduaan sama Arfa.” keluhnya dengan muka semakin kecut.
Masabodo. Aku hanya tersenyum tipis menanggapinya. Aku sudah dengar cerita itu dari mulut ke mulut. Mungkin cerita itu pula yang membuat Arfa semakin jarang menemuiku. Tak apa. Kupikir itu baik buat kami. Aku tak berharap warga benar-benar menggerebek aku. Kami benar-benar murni bersahabat dan tidak pernah berbuat aneh-aneh. Kedatangannya hanya untuk mengajakku makan dan ngobrol saja. Tak lebih dari itu.
__ADS_1
“Kemarin keluarga Arfa sudah melamarku.”
“Alhamdulillah.”
Sungguh. Aku turut senang mendengar berita itu.
“Kuharap mulai sekarang kamu menjauhi dia.”
“Aku tidak pernah berusaha menemuinya, Deya. Tapi aku tidak bisa menolak kalau Arfa menemuiku. Seperti kamu tahu, Aku dan Arfa berteman sejak kecil.”
Deya mencibir. “Arfa menganggapmu lebih dari teman. Kamu harus menjauhinya, sebab statusnya sekarang Arfa adalah tunanganku.” tegas Deya dengan mata yang membulat kemerahan. Pandangannya seperti akan menerkamku.
Aku mengangguk pelan. Aku cukup paham posisiku. Tak baik lelaki dan perempuan dewasa berduaan, apalagi dia telah bertunangan dengan perempuan lain.
“Karena aku bahagia di sini.”
“Karena kamu bisa bebas berduaan dengan Arfa?”
“Tidak. Aku tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Kami hanya berteman. Keputusanku tinggal di rumah peninggalan babaku sama sekali tak ada hubungannya dengan Arfa. Kamu tak pantas menuduhku begitu. Kamu tahu sendiri, kalau aku mau Arfa sudah melamarku untuk jadi istrinya.” jawabku sinis. Sengaja kupamerkan senyum jemawaku karena aku tersinggung dengan kata-katanya yang beraroma menuduh. Aku hanya ingin mengingatkan Deya bahwa dia tak pantas menuduhku seperti itu. Cemburu boleh, tapi logika harus jalan.
“Aku di sini demi babaku.” tegasku kemudian. Lantang. Kudekatkan wajahku pada wajahnya agar Deya mengerti keseriusanku.
Semburat merah memenuhi wajah Deya. Aku yakin kata-kataku pasti menyinggung perasaannya dan membuatnya malu karena dia tahu jika Arfa ada di sini dan diberikan pilihan pasti akan memilih aku. Aku tak ingin bersengketa tapi dia duluan yang menuduhku sekeji itu. Apa dia lupa kalau aku sudah berkali-kali mendorong Arfa untuk melamarnya?
__ADS_1
“Munafik. Tunggu saja! Sebentar lagi orang-orang akan mengusirmu.”
Aku menggeleng.
“Kalau kamu tidak mau ikut mamamu pindah ke kampung baru, sebaiknya kamu ikut kelompok suku yang tinggal di tengah hutan saja. Tanah ini adalah lahan konsesi untuk tambang nikel. Cepat atau lambat mereka akan mengusirmu.”
“Kamu tak berhak mengaturku.” hardikku dengan nada keras, tegas dan garang.
Deya menghentakkan kakinya. Matanya membalas tatapanku dengan sama tajamnya. Tak ada pembicaraan lain setelah itu. Deya pergi dengan segenap rasa kecewanya. Entah kenapa hatiku terasa kosong. Apakah kesendirian membuatku tak peduli apa yang dirasakan orang lain. Bahkan perasaanku sendiri pun aku tak peduli.
Setelah kedatangan Deya, aku selalu berusaha menghindari pertemuan dengan Arfa. Setiap menjelang siang aku sengaja pergi jauh dari gubukku. Hanya itu yang bisa kulakukan, sebab biasanya Arfa datang pada jam istirahat siang. Aku tahu, dia berdedikasi tinggi dan menyukai pekerjaannya di perusahaan itu. Tak mungkin ia mengorbankan pekerjaan hanya untuk menemui gadis keras kepala yang berkali-kali menolak lamarannya.
Meski kehilangan teman, aku tak pernah kehilangan akal mencari cara menghibur diri. Biasanya aku pergi ke tepi sungai untuk mencari ikan atau sekedar duduk merenung memandangi vegetasi daerah aliran sungai, batu, ikan dan bermain air. Kadang aku masuk ke dalam hutan mencari pohon tinggi yang bisa kupanjat. Aku memasang ayunan kain pada batang pohon yang kokoh. Ayunan itu adalah tempat bersembunyi sekaligus bersantai yang paling nyaman. Aku bisa menikmati bisikan angin yang berhembus menerpa daun dan ranting pohon. Kalau beruntung di atas pohon aku bisa melihat kawanan kera yang bergelayut dari satu pohon ke pohon yang lain sambil menyuarakan teriakan khas primata yang berbunyi nyaring. Tak jarang terlihat ada burung melintas terbang sambil mencicit seperti dendang lagu cinta. Namun yang paling istimewa dari semua itu adalah kehadiran sang Bidadari Halmahera, burung indah yang berasal dari surga.
Kami menyebut burung bidadari Halmahera dengan sebutan weka weka. Ia merupakan jenis burung cendrawasih berukuran sedang. Weka betina berwarna cokelat-zaitun, berukuran lebih kecil dan memiliki ekor lebih panjang. Burung jantannya bermahkota warna ungu dan ungu-pucat mengkilat. Warna khas pelindung dadanya hijau zamrud. Ciri khas yang paling mencolok adalah dua pasang bulu putih yang panjang yang keluar menekuk dari sayapnya dan bulu itu dapat ditegakkan atau diturunkan sesuai keinginan burung ini.
Weka jantan pandai menari. Tak ada musik yang mengiringi tariannya selain hembusan angin yang mengalun menggerakan daun-daun dan ranting pohon. Weka jantan mengepak-ngepakan sayap dengan irama dan gerakan yang indah. Sesekali weka jantan melakukan atraksi terbang seperti menukik dan berputar di udara bagai pesawat tempur. Atraksi itu dilakukan dalam rangka sang jantan memamerkan keindahan bulunya pada weka betina incarannya. Matanya menatap penuh cinta. Duh, romantis sekali.
Aku suka sekali memperhatikan cara menarinya yang unik. Jangan ditanya bagaimana indah tariannya. Sepanjang hidup, itulah tarian paling indah yang pernah kulihat. Peristiwa itu sangat langka sebab kata baba jumlah burung endemik pulau Halmahera ini tidaklah banyak. Selain itu tarian indah itu tercipta demi cinta, bukan merupakan kebiasaan sehari-hari. Aku yang sudah sering naik ke atas pohon tinggi saja baru 2 kali berkesempatan melihat tarian sang bidadari Halmahera itu. Sekali waktu kecil bersama baba di tempat pemantauan burung kawasan taman nasional. Keberuntungan berikutnya terjadi minggu lalu. Dengan segala daya, aku mengabadikannya dalam ingatanku untuk kukenang kembali keindahannya saat aku merasa kesepian. Sayangnya, meski romantisnya kebangetan burung jenis ini bukan termasuk jenis hewan monogami. Mereka tipe hewan yang suka berganti-ganti pasangan.
Alhamdulillah aku menikmati kehidupan sederhanaku dengan bahagia dan penuh rasa syukur. Aku belum pernah merasakan kelaparan meski harus hidup sendiri di pinggir kampung yang berbatasan dengan sungai dan hutan lebat di seberangnya. Padi yang tumbuh liar di sungai, ubi dan pohon sagu sudah disediakan alam dalam jumlah yang lebih dari cukup. Aku pun tak pernah kehabisan sayur-mayur yang ditanam kebun sekitar rumah peninggalan baba yang selalu kurawat setiap hari. Ada ayam yang kadang kuambil telurnya untuk lauk. Sekarang, aku juga sudah pandai menangkap ikan di sungai dan membuat ikan asap sebagai persediaan makanan. Sungguh. Aku menjalani hari-hariku dengan bahagia meski tinggal jauh dari keramaian.
__ADS_1
Terima kasih untuk yang sudah setia membaca🙏🏻😘