
Selepas mandi dan shalat maghrib, mama menungguku makan malam bersama di ruang depan. Seperti biasa duduk lesehan menggelar tikar pandan. Aku telah menyampaikan salam Andi pada mama dan adik bungsu kesayangan.
"Kenapa tak dipaksa mampir, Fifa? Biar kita sama-sama makan malam dulu di sini." Mama terlihat kecewa Andi tidak mampir.
"Kak Andi harus mengembalikan mobil yang dipakai untuk angkut burung dan rusa ke kantor. Dia tidak sendirian. Mungkin tak enak hati dengan rekannya kalau harus mampir lagi. Takut kemalaman."
"Kata paman Hasan, di keluarganya dia dipanggil Syarif. Baiknya kita membiasakan diri memanggil dengan nama Syarif sebab Andi itu kan sebenarnya nama gelar. Kalau mau lebih lengkap panggil Andi Syarif." protes mama yang sekarang lebih suka memanggil Andi dengan nama yang sama dengan nama baba.
Aku mengangguk saja meski hati tak rela. Apalagi mama bilang Andi sangat mirip baba waktu muda. Kusendok nasi yang hanya tinggal setengah mangkok ukuran sedang. Hanya sesendok saja agar cukup untuk makan bertiga. Dalam hati aku bersyukur Andi tak mampir. Kalau seandainya mampir mama pasti repot masak nasi lagi.
Malam ini mama masak ikan nila kuah kuning dan rebusan kacang panjang yang baru dipetik dari kebun yang berada di pekarangan rumah kami. Aku mengambil seekor nila dan kusiram kuah kuning sampai nasi dan kacang panjangnya terendam kuah. Beginilah nikmatnya hidup di kampung, tiap hari menikmati sayuran segar yang baru dipetik dari kebun. Rasanya lebih manis dan menyegarkan.
"Sabtu subuh rencananya kami berangkat ke Makasar."
"Oh iya. Mama lupa belum siapkan oleh-oleh buat nenek. Apa ya?"
"Tas pandan saja, Ma." usul Fifi.
"Kalau itu kakak lebih pandai buatnya." tanggap mama sambil tersenyum ke arahku.
Aku garuk-garuk kepala. Tinggal tersisa 2 hari lagi. Mepet banget waktunya. Haruskah aku lembur lagi seperti waktu mengerjakan anyaman tas mama Moly?
Sebelum pita suaraku berbunyi, mama sudah lebih dulu bicara, "Kalau kakak tidak sempat, tidak apa. Kita beri saja anyaman tikar yang sudah mama buat sejak minggu lalu."
Rupanya mama melihat kegundahanku dan waktuku yang tak lagi longgar karena terikat tanggung jawab pekerjaan.
"Tikar pandan mama terlalu sederhana. Kurang pantas buat nenek. Mereka orang kota, Ma. Tikar pandan yang seperti mama buat bagi orang perkotaan hanya dijadikan pembungkus mayat di liang kubur. Takutnya kalau ngasih tikar pandan polos begitu nenek salah persepsi mengira kita mengharapkannya tak panjang umur." protes Fifi dengan bibir mengerucut.
Benar juga kata Fifi. Selama ini mama membuat tikar pandan yang oleh warga kampung kami biasa digunakan sebagai alas duduk atau alas tidur. Tikar pandan sederhana yang dianyam tanpa motif dan pewarnaan. Di sini tikar pandan polos seperti itu yang lebih laku di pasaran. Warga di sini lebih mementingkan fungsi dan harga murah dibandingkan estetika. Tikar bermotif proses pembuatannya lebih lama dan rumit hingga harganya lebih mahal. Hanya sesekali saja mama buat tikar pandan motif. Itu pun warna dan motifnya sederhana. Biasanya mama hanya buat tikar motif kotak-kotak seperti motif sarung.
"Yah, bagaimana dong? Mama belum bisa buat tas sebagus buatan kakak."
__ADS_1
Fifi menoleh kepadaku. "Buat cluth aja, kak. Dompet besar yang bentuknya semacam amplop gitu. Tapi motifnya yang variatif, jangan polos." usul Fifi.
"Nanti Fifi carikan contohnya di internet." tambah Fifi antusias.
"Cerewet. Kalau kamu yang pilihkan modelnya, harusnya kamu saja yang buat. Kan kamu bisa belajar caranya dari internet. Kasihan kak Fifa. Pekerjaannya berat. Kakakmu masih sibuk jadi asisten sekretaris di perusahaan tambang itu."
Aku menggeleng. Kutelan campuran nasi dan ikan kuah yang masih dikunyah dalam mulut. Hik. Ternyata masih ada duri halus yang tersangkut di kerongkongan. Aku mengambil air bening dan meminumnya pelan-pelan sambil berdoa dalam hati.
Sejenak aku diam mengatur nafas. Sementara mama mengusap-usap punggungku dengan lembut sambil menasehati, "Jangan terburu-buru makannya, Kak."
Aku memang tak banyak cerita tentang aktivitasku pada mama maupun Fifi. Meski begitu mereka tahu selama lebih dari 3 minggu lalu aku selalu ke kantor perusahaan besar itu. Saat ditanya kenapa aku selalu pergi ke kantor PT XY ya kujawab jujur sedang belajar sambil membantu pekerjaan sekretaris perusahaan itu.
"Fifa sudah nggak berkantor lagi di PT XY kok, Ma. Mulai sekarang Fifa berkantor di kantor kecil dekat dengan aviary besar yang letaknya dekat hutan di sebelah timur kantor itu."
"Mama kira dengan kenal direkturnya jadi mudah diangkat sebagai pegawai perusahaan tambang itu." ucap mama lirih. Gurat kecewa terukir di wajahnya yang mulai kehilangan kolagen sehingga terlihat mengendur di bagian pipi bawah.
Bukan salah mama overthinking dan mengira aku akan diangkat jadi pegawai di perusahaan besar itu. Aku enggan menjelaskan bagaimana hubungan kerja sama kami yang sebenarnya bukan seperti kontrak antara pegawai dengan perusahaan. Mama tahunya aku bekerja karena dibayar perusahaan.
"Maaf, Ma! Sejak awal kan Fifa sudah bilang kalau Fifa hanya diminta jadi pengurus yayasan yang bergerak di bidang konservasi burung. Fifa berkantor di kantor besar itu hanya sementara buat belajar mengurus administrasi dari sekretaris direksi."
"Penting banget, Ma. Mereka perlu menunjukan pada calon investor luar negeri bahwa perusahaan bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar. Salah satu cara untuk menunjukan kepedulian terhadap lingkungan dan kelestarian alam adalah dengan membuat program konservasi burung endemik hutan Lolobata seperti bidadari halmahera, nuri, muray, kakatua dan burung-burung khas lainnya yang sudah mulai langka dan terancam punah."
Mama terlihat belum puas. Masih ada ganjalan dalam pikirannya tapi enggan diungkapkan lewat kata-kata.
"Mama jangan terlalu berharap lebih. Mama kan tahu pendidikan Fifa apa. Perempuan yang kerja di kantor itu semua lulusan akademi atau universitas. Fifa tidak mau jadi pekerja lapangan dan supir alat berat seperti pekerjaan Arfa dulu."
Mama mengangguk, tapi raut wajahnya tetap memperlihatkan gurat kekecewaan. Aku tahu sebabnya. Pasti gunjingan mama mama tukang ghibah bakal membuatnya gundah. Akhir-akhir ini persepsi mereka terhadapku sudah membaik. Mungkin karena aku pernah bertemu muka dengan beberapa tetangga yang menjadi supir alat berat di perusahaan sehingga mereka mengira aku bekerja sebagai pegawai kantor. Kalau kemudian mereka tahu aku bukan pegawai perusahaan itu pasti omongan nyinyir akan berkembang lebih dahsyat lagi.
"Maaf kalau Fifa membuat mama kecewa."
Mama menggeleng, "Bukan Fifa yang salah, tapi mama yang terlalu berharap. Seharusnya kita tetap bahagia dan bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang. Jangan berharap pada keajaiban."
__ADS_1
Entahlah, dari kalimatnya tersirat sempat ada harapan kehidupan kami dapat lebih baik setelah mengenal Bray. Orang-orang yang tadinya memandang remeh keluarga kami akhir-akhir ini sudah mulai mendekati mama karena mengharapkan dapat suatu keuntungan tertentu. Padahal itu mustahil. Aku sama sekali tak punya motif memanfaatkan kesempatan mengenal Bray dan orang-orang dekatnya untuk suatu keuntungan pribadi.
"Mama harus percaya apa yang Fifa lakukan baik dan bermanfaat."
Mama mengangguk lalu tersenyum tipis.
"Kamu nanti lanjut sekolah sampai universitas ya, Fi. Mama ingin salah satu anak mama punya pekerjaan yang dihargai orang."
Fifi melirikku dengan tatapan penuh tanda tanya. Ada beban yang sulit diungkapkan dari kalimat mama barusan.
"Kuliah itu mahal, Ma." jelas Fifi.
Mama beralih memandangku, "Kamu bisa bantu biaya kuliah adikmu kan, Fifa?"
Kusanggupi dengan anggukan meski aku tak tahu ke depan akan bagaimana. Aku hanya ingin melihat mama tersenyum dan punya harapan. Bagaimana pun dari sekian banyak omongan orang tentang keluarga kami ada juga yang menimbulkan sakit hati dan membuat mama merasa rapuh.
Mama merangkul kami berdua lalu menciumi puncak kepala kami secara bergantian.
"Berjanjilah pada mama kalian akan selamanya hidup rukun dan saling bantu!"
"Kami janji." kataku dan Fifi bersamaan. Mata kami saling beradu.
Sebenarnya janji itu berat, tapi demi mama kusanggupi saja. Padahal membayangkan biaya kuliah Fifi yang akan jadi bebanku membuat kepalaku berdenyut. Cukuplah janji itu membuat senyum mama mengembang malam ini. Semoga saja Tuhan memudahkan aku menunaikan janji itu.
Mama menata piring-piring yang telah kosong lalu menyuruh Fifi membawanya ke belakang. "Sekalian dicuci bersih ya, Fi."
"Iya." jawab Fifi malas.
Sementara Fifi ke belakang, aku mengambil gulungan pandan kering yang beberapa sudah diwarnai. "Mulai malam ini Fifa akan menganyam tas yang paling bagus buat oleh-oleh Nenek." kataku antusias.
"Mama temani. Mama juga mau menganyam tikar." Mama ikut menggelar tikar pandan klasik yang baru dianyam setengah jalan.
__ADS_1
Aku harus bersemangat menyelesaikan tugas mulia ini. Sebuah cinderamata untuk nenek yang dibuat dengan tangan sendiri mudah-mudahan lebih mengesankan dari apapun. Sebab untuk membuatnya aku perlu berjuang dengan sisa waktuku.
Ikhlas, Fifa. Sesuatu yang dikerjakan dengan hati tulus ikhlas pasti akan memperoleh hasil yang lebih baik daripada dikerjakan dengan terpaksa.